alexametrics
23.1 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Bebas Wuhan

Rapat penting hari itu terjadi
pukul 2 siang. Sangat penting –termasuk untuk kita yang di Indonesia. 

Itulah rapat yang membicarakan
apakah obat anti-Covid-19 sudah bisa disetujui.

Rapat itu terjadi di Wuhan –kota
yang dikenal sebagai awal bermulanya Covid-19.

Rapat itu terjadi hari Senin,
tanggal 16 Maret lalu. Itulah hari penyederhanaan birokrasi.

Begitu pentingnya rapat itu
sampai-sampai harus dilakukan hari itu dan jam itu. Padahal hari itu Wuhan
masih di-lockdown.
Maka harus dicari jalan keluarnya. 

Tidak sulit –di sana.
Dilakukanlah rapat itu secara jarak jauh. Yang hadir di Wuhan hanya Prof. Mayor
Jenderal Chen Wei –wanita ahli virus yang menjadi komandan tim penemuan obat
anti-Covid-19. Tentu didampingi timnyi.

Peserta rapat lainnya tersebar
di Beijing, Shanghai, Shenzhen, Tianjin, dan banyak kota lainnya. Mereka adalah
para ahli virus. Juga para pengambil keputusan dari kementerian kesehatan
pemerintah pusat.

Itulah rapat yang membahas
apakah obat yang ditemukan tim Prof. Chen Wei bisa disetujui.

Prosedur untuk menyetujui obat
baru biasanya sangat panjang. Paling cepat satu tahun. Rapatnya pun bisa
berkali-kali. Apalagi kalau harus menunggu semua ahli bisa berkumpul di satu
tempat.

Tapi Covid-19 sudah menjadi
pandemi. Pun teknologi rapat jarak jauh sudah tersedia.

Tinggal mau atau tidak.

Maka pemerintah Tiongkok
memutuskan untuk tidak menunda-nunda agenda rapat itu.

Di dalam rapat tersebut Prof.
Chen Wei memaparkan hasil uji cobanyi selama ini. Termasuk yang diujicobakan
kepada semua dokter dan tim medis militer yang diterjunkan ke Wuhan (Baca DI’s
Way: Opo Tumon).

Paparan Chen Wei itu dibahas
oleh para ahli yang berada di banyak kota itu. Juga oleh pihak yang berwenang
yang mengikutinya dari Beijing.

Setelah rapat berlangsung
selama dua jam, keputusan pun diambil oleh FDA-nya Tiongkok: disetujui. Untuk
dilakukan uji klinis.

Baca Juga :  Korporasi Bisa Dijerat Unsur Kelalaian

Berarti satu tahap penting
dalam sebuah penemuan obat baru sudah dilewati.

Dari gambaran itu maka bisa
diharapkan obat anti-Covid-19 sudah bisa diproduksi dalam 6 bulan ke depan.
Atau lebih cepat dari itu.

Ketika rapat itu dilakukan,
kota Wuhan memang sudah tidak mencekam lagi. Chen Wei dan para dokter di Wuhan
sudah bisa bernafas. Hari itu untuk kali pertama tidak ada lagi pasien baru di
Wuhan.

Keesokan harinya bebarapa
portal pembatas mobilitas warga Wuhan juga sudah dibuka.

Tanggal 8 April depan lockdown Wuhan
resmi diakhiri.

Meski saya bukan warga Wuhan
tapi secara reflek ikut menarik nafas panjang. Ikut lega.

Tiga bulan lamanya Wuhan di-lockdown.
Juga seluruh Provinsi Hubei. Dan juga praktis seluruh Tiongkok.

Tiga bulan lamanya lockdown diberlakukan.
Sangat drastis. Ketat. Kejam. Manusia dibuat sangat menderita. Sangat
terkekang.

Tapi tiga bulan kemudian mereka
terbebas dari lockdown. Berenang-renang kemudian.

Semua itu bukan hanya hasil
kedisiplinan. Saya tahu orang di sana juga sulit disiplin. Sama saja.
Pemerintahlah yang mendisiplinkan mereka.

Pertanyaanya: seandainya akhir
Januari lalu tidak dilakukan lockdown, apa yang
terjadi? Apakah sekarang sudah bisa lega?

Silakan berhitung sendiri.

Rupanya ada persyaratan tidak
resmi untuk bisa melakukan lockdown: suasana harus
mencekam dulu.

Tidak bisa ketika orang masih happy-happy,
masih berani kumpul-kumpul tiba-tiba di-lockdown.

Begitulah di Wuhan. Setelah
Imlek suasana Wuhan memang sudah sangat mencekam. Yang sakit tidak mendapat
tempat di rumah sakit: penuh. Yang meninggal tidak bisa mendapat peti mati:
habis. Yang sudah mati tidak bisa dikubur atau dikremasi: tempat pembakaran
mayat pun tidak cukup.

Sedang di Jakarta, suasananya
belum mencekam.

Cobalah lakukan lockdown di
Jakarta sekarang: pasti ambyar! Terutama karena begitu banyak orang miskin:
dapat penghasilan dari mana? Dapat makan dari mana?

Kelak, kalau suasana sudah
mencekam barulah memenuhi syarat untuk lockdown. Tidak akan ada
lagi yang berpikir dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang bingung
dari mana dapat makan.

Baca Juga :  Usai Putusan MK, Muhammadiyah Berharap Masyarakat Bersatu Kembali

Semua orang bingung
sendiri-sendiri: lari-lari mencari rumah sakit. Yakni untuk mengantarkan orang
tua atau suami atau anak ke rumah sakit. Apalagi kalau sudah lari ke rumah
sakit mana pun hanya menemukan pengumuman: RS sudah penuh sesak.

Orang juga bingung mencari
penggali kubur. Apalagi kalau penggali kubur pun sudah tidak ada. Atau sudah
kewalahan.

Tidak ada lagi yang berpikir:
dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang heboh dari mana mendapat
makan.

Kapan kah suasana mencekam itu
akan datang? Bulan apa?

Atau tidak akan datang?

Katakanlah masa seperti itu
tidak akan datang. Seperti juga kita dulu merasa tidak akan ada Covid-19 di
Indonesia.

Alhamdulillah.

Kalau ternyata tiba?

Pasti kita akan melakukan juga lockdown.
Apa boleh buat. Selama tiga bulan. Tiga bulan setelah lockdown kita
bisa lega.

Kalau ujung-ujungnya kelak lockdown juga
mengapa tidak berakit-rakit ke hulu?

Kita sudah sakit sekarang
–meski belum parah. Sampai parah nanti kita tetap sakit. Setelah parah makin
sakit.

Mengapa tidak sakit sekarang
saja? Tiga bukan lagi lega?

Saya bukan ahli matematika yang
bisa menghitung pertambahan orang sakit. Saya bukan dokter. Saya bukan ahli
penyakit menular. Saya bukan pemerintah. Saya bukan ahli agama. Saya bukan
peramal. Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya bisa berharap obat
anti Covid itu segera lahir –dari Wuhan. Atau dari mana pun.

Kalau doa itu terkabul saya
akan ke Wuhan lagi seperti dulu-dulu. Saya tahu tempat-tempat makan yang enak
di Wuhan. Terutama yang di sepanjang pinggir sungai Changjiang yang lebar,
indah, dan gemerlap itu. (dahlan iskan)

 

Rapat penting hari itu terjadi
pukul 2 siang. Sangat penting –termasuk untuk kita yang di Indonesia. 

Itulah rapat yang membicarakan
apakah obat anti-Covid-19 sudah bisa disetujui.

Rapat itu terjadi di Wuhan –kota
yang dikenal sebagai awal bermulanya Covid-19.

Rapat itu terjadi hari Senin,
tanggal 16 Maret lalu. Itulah hari penyederhanaan birokrasi.

Begitu pentingnya rapat itu
sampai-sampai harus dilakukan hari itu dan jam itu. Padahal hari itu Wuhan
masih di-lockdown.
Maka harus dicari jalan keluarnya. 

Tidak sulit –di sana.
Dilakukanlah rapat itu secara jarak jauh. Yang hadir di Wuhan hanya Prof. Mayor
Jenderal Chen Wei –wanita ahli virus yang menjadi komandan tim penemuan obat
anti-Covid-19. Tentu didampingi timnyi.

Peserta rapat lainnya tersebar
di Beijing, Shanghai, Shenzhen, Tianjin, dan banyak kota lainnya. Mereka adalah
para ahli virus. Juga para pengambil keputusan dari kementerian kesehatan
pemerintah pusat.

Itulah rapat yang membahas
apakah obat yang ditemukan tim Prof. Chen Wei bisa disetujui.

Prosedur untuk menyetujui obat
baru biasanya sangat panjang. Paling cepat satu tahun. Rapatnya pun bisa
berkali-kali. Apalagi kalau harus menunggu semua ahli bisa berkumpul di satu
tempat.

Tapi Covid-19 sudah menjadi
pandemi. Pun teknologi rapat jarak jauh sudah tersedia.

Tinggal mau atau tidak.

Maka pemerintah Tiongkok
memutuskan untuk tidak menunda-nunda agenda rapat itu.

Di dalam rapat tersebut Prof.
Chen Wei memaparkan hasil uji cobanyi selama ini. Termasuk yang diujicobakan
kepada semua dokter dan tim medis militer yang diterjunkan ke Wuhan (Baca DI’s
Way: Opo Tumon).

Paparan Chen Wei itu dibahas
oleh para ahli yang berada di banyak kota itu. Juga oleh pihak yang berwenang
yang mengikutinya dari Beijing.

Setelah rapat berlangsung
selama dua jam, keputusan pun diambil oleh FDA-nya Tiongkok: disetujui. Untuk
dilakukan uji klinis.

Baca Juga :  Peserta Didik Diwajibkan Pakai Masker

Berarti satu tahap penting
dalam sebuah penemuan obat baru sudah dilewati.

Dari gambaran itu maka bisa
diharapkan obat anti-Covid-19 sudah bisa diproduksi dalam 6 bulan ke depan.
Atau lebih cepat dari itu.

Ketika rapat itu dilakukan,
kota Wuhan memang sudah tidak mencekam lagi. Chen Wei dan para dokter di Wuhan
sudah bisa bernafas. Hari itu untuk kali pertama tidak ada lagi pasien baru di
Wuhan.

Keesokan harinya bebarapa
portal pembatas mobilitas warga Wuhan juga sudah dibuka.

Tanggal 8 April depan lockdown Wuhan
resmi diakhiri.

Meski saya bukan warga Wuhan
tapi secara reflek ikut menarik nafas panjang. Ikut lega.

Tiga bulan lamanya Wuhan di-lockdown.
Juga seluruh Provinsi Hubei. Dan juga praktis seluruh Tiongkok.

Tiga bulan lamanya lockdown diberlakukan.
Sangat drastis. Ketat. Kejam. Manusia dibuat sangat menderita. Sangat
terkekang.

Tapi tiga bulan kemudian mereka
terbebas dari lockdown. Berenang-renang kemudian.

Semua itu bukan hanya hasil
kedisiplinan. Saya tahu orang di sana juga sulit disiplin. Sama saja.
Pemerintahlah yang mendisiplinkan mereka.

Pertanyaanya: seandainya akhir
Januari lalu tidak dilakukan lockdown, apa yang
terjadi? Apakah sekarang sudah bisa lega?

Silakan berhitung sendiri.

Rupanya ada persyaratan tidak
resmi untuk bisa melakukan lockdown: suasana harus
mencekam dulu.

Tidak bisa ketika orang masih happy-happy,
masih berani kumpul-kumpul tiba-tiba di-lockdown.

Begitulah di Wuhan. Setelah
Imlek suasana Wuhan memang sudah sangat mencekam. Yang sakit tidak mendapat
tempat di rumah sakit: penuh. Yang meninggal tidak bisa mendapat peti mati:
habis. Yang sudah mati tidak bisa dikubur atau dikremasi: tempat pembakaran
mayat pun tidak cukup.

Sedang di Jakarta, suasananya
belum mencekam.

Cobalah lakukan lockdown di
Jakarta sekarang: pasti ambyar! Terutama karena begitu banyak orang miskin:
dapat penghasilan dari mana? Dapat makan dari mana?

Kelak, kalau suasana sudah
mencekam barulah memenuhi syarat untuk lockdown. Tidak akan ada
lagi yang berpikir dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang bingung
dari mana dapat makan.

Baca Juga :  Jangan Sampai Terjadi Kelangkaan Gas Elpiji

Semua orang bingung
sendiri-sendiri: lari-lari mencari rumah sakit. Yakni untuk mengantarkan orang
tua atau suami atau anak ke rumah sakit. Apalagi kalau sudah lari ke rumah
sakit mana pun hanya menemukan pengumuman: RS sudah penuh sesak.

Orang juga bingung mencari
penggali kubur. Apalagi kalau penggali kubur pun sudah tidak ada. Atau sudah
kewalahan.

Tidak ada lagi yang berpikir:
dari mana dapat penghasilan. Tidak ada lagi yang heboh dari mana mendapat
makan.

Kapan kah suasana mencekam itu
akan datang? Bulan apa?

Atau tidak akan datang?

Katakanlah masa seperti itu
tidak akan datang. Seperti juga kita dulu merasa tidak akan ada Covid-19 di
Indonesia.

Alhamdulillah.

Kalau ternyata tiba?

Pasti kita akan melakukan juga lockdown.
Apa boleh buat. Selama tiga bulan. Tiga bulan setelah lockdown kita
bisa lega.

Kalau ujung-ujungnya kelak lockdown juga
mengapa tidak berakit-rakit ke hulu?

Kita sudah sakit sekarang
–meski belum parah. Sampai parah nanti kita tetap sakit. Setelah parah makin
sakit.

Mengapa tidak sakit sekarang
saja? Tiga bukan lagi lega?

Saya bukan ahli matematika yang
bisa menghitung pertambahan orang sakit. Saya bukan dokter. Saya bukan ahli
penyakit menular. Saya bukan pemerintah. Saya bukan ahli agama. Saya bukan
peramal. Saya bukan siapa-siapa.

Saya hanya bisa berharap obat
anti Covid itu segera lahir –dari Wuhan. Atau dari mana pun.

Kalau doa itu terkabul saya
akan ke Wuhan lagi seperti dulu-dulu. Saya tahu tempat-tempat makan yang enak
di Wuhan. Terutama yang di sepanjang pinggir sungai Changjiang yang lebar,
indah, dan gemerlap itu. (dahlan iskan)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/