25.6 C
Jakarta
Sunday, April 6, 2025

Pertanian di Kalimantan Menyongsong Masa Depan

ERA Revolusi Industri  4.0
telah datang dan menuntut inovasi dan gagasan kreatif kita di berbagai sektor
agar roda kehidupan terus berputar. Roda penggerak perekonomian rakyat perlu
terus dijaga. Demikian juga tulang punggung ekonomi masyarakat yang banyak
bertumpu pada sektor pertanian, agar selalu menjadi prioritas utama agar tidak
menjadi masalah nasional di kemudian hari.

Lebih-lebih masalah ketahanan
pangan semakin krusial mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan semakin
membengkak. Di sisi lain para pekerja di sektor pertanian jumlahnya semakin
menurun.

Pertanian yang tidak didukung
oleh sumber daya manusia (SDM) yang profesional di sektor pertanian, mustahil
akan mampu menjawab kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Laju
pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, sedangkan laju pertumbuhan pangan
seperti deret hitung. Belum lagi luas lahan pertanian semakin menyempit.

Untungnya, pemerintah aktif
memberi insentif sehingga ketika sektor lain mengalami kesulitan di tengah
pandemi Covid-19, pertanian tetap menjadi penyokong perekonomian. Rilis data
terbaru pertumbuhan ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor
pertanian tumbuh tinggi di triwulan II-2020. Produk Domestik Bruto (PDB) di
sektor pertanian tumbuh 16,2 persen. Indikator kesejahteraan petani seperti
nilai tukar petani (NTP) juga naik tajam. Harga gabah kering panen (GKP) di
tingkat petani naik 1,44 persen dari bulan sebelumnya menjadi Rp 4.788.

Bahkan para petani di sebuah
kabupaten di Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten Barito Utara, mampu menyerahkan
bantuan beras sebanyak 3,6 ton kepada warga yang terdampak Covid-19.

Ironi, wilayah yang memiliki
potensi terbesar justru pada  sektor
kehutanan, pertambangan batubara dan emas serta sektor perkebunan karet dan
kelapa sawit ini dapat memproduksi 4 (empat) varietas padi ladang yang sudah
tersertifikasi secara nasional. Petani Indonesia, khususnya yang masih muda
sepatutnya tercambuk dan optimis mengembangkan usaha atau berwirausaha dalam
bidang pertanian atau agribisnis dengan beragam inovasi.

Pertanian 4.0 berada di punggung
generasi masa kini karena pertanian zaman sekarang tidak bisa disamakan lagi
dengan zaman dahulu. Pertanian 4.0 mesti pertanian yang tanggap alsintan (alat
mesin pertanian) dan teknologi digital yaitu dengan menggunakan mesin-mesin
otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet. 

Proses bisnisnya akan melibatkan
information and communication technology (ICT) 
dan jaringan internet yang terkoneksi ke semua unit operasi dari
berbagai instrumen seperti satelit, drone dan sensor maupun peralatan seperti
mesin atau robot. Apabila semuanya bekerja secara sinergis, maka akan terjadi
peningkatan produktifitas pertanian baik tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, maupun peternakan dengan biaya yang rendah.

Pengaplikasian teknologi digital
akan meminimalisir biaya produksi dan yang berhubungan dengan proses pemanenan
dan pascapanen hingga 60 persen sehingga keuntungan yang didapat petani akan
lebih besar.

Teknologi juga mempercepat proses
pertanian seperti pengolahan tanah pertanian, teknologi pembibitan, dan
pemutakhiran mesin panen. Praktis, teknologi memiliki peran yang besar dalam
intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian Sekarang traktor tidak perlu disetir
secara langsung tetapi dapat menggunakan remote atau komputer.

Pertanian itu tidak hanya sekadar
mengolah lahan, menanam dan memanen tetapi juga mengolah hasil panen hingga
bisa dipasarkan dengan cara modern dan inovatif yaitu dengan strategi daring (online)
atau cash on delivery (COD) sehingga
hasil pertanian bisa sampai meja makan. Pemasaran produk memang jauh lebih
mudah berkat peran teknologi digital.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia
menaruh harapan besar pada generasi muda milenial yang melek teknologi (techno-literate) yang siap melanjutkan
tongkat estafet demi kemajuan pertanian di masa depan. Bung Karno pernah
berseru: “Pemuda bertani, berarti memilih untuk merdeka”.

Baca Juga :  Ibadah di Masjid Bisa Dilakukan, Ini Syaratnya

Pemuda milenial produk vokasi
harus bisa masuk ke dunia usaha atau industri pertanian dan harusnya mampu
menjadi  qualified job creator yaitu menjadi petani mandiri dan membuka
lapangan pekerjaan untuk pemuda-pemuda lainnya. Fenomena saat ini semakin
banyak pemuda-pemuda Indonesia yang lebih memilih  menjadi job
seeker
(pencari pekerjaan) sebagai pegawai kantoran atau karyawan.

Kita percaya di kepala pemuda
milenial sejatinya tersimpan banyak ide kreatif dan inovatif dalam menghasilkan
produk pertanian berdaya saing dan bernilai jual tinggi. Regenerasi pemuda
tampan masa kini (baca: petani), masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi
Indonesia. Menjadi petani berarti menjadi ujung tombak kebutuhan pangan di
tanah air Indonesia yang konon lahir dari rahim agraris dan maritim. Profesi
petani selayaknya ditempatkan pada posisi terhormat dan terpandang.

Kita perlu berkaca dari negara
maju seperti Jepang, Amerika, Belanda dan Australia dengan profesi petaninya
yang selalu menjadi incaran para pemuda. Bahkan tak jarang mereka yang lulus
dari jurusan non-pertanian sangat antusias dan berebut ingin menjadi
petani.  Berbanding terbalik dengan
Indonesia dengan para pemudanya yang minder jika harus menjadi petani. Indonesia
sebagai negara berkembang belum bisa menyamai China yang juga masih dalam
kategori negara berkembang dalam hal kemakmuran petaninya. Penghasilan rata-rata
petani di China sekitar 10 jutaan.

Indonesia pun bisa seperti mereka,
apabila para pemuda milenial berani membangun desa dengan menjadi pelaku usaha
baru. Pemerintah selalu hadir untuk menyejahterakan petani dan meningkatkan
produksi.

Keberpihakan pemerintah dapat
terlihat dari kuatnya bantuan pemerintah seperti melalui program upaya Khusus
Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), subsidi pupuk
dan benih, pembuatan embung, perbaikan irigasi, pemberian ribuan alsintan dan
asuransi pertanian. Pemerintah juga memiliki inisiatif awal yaitu memperluas
lahan 1000 hektar untuk dijadikan korporasi pertanian. Semua dilakukan demi
menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, ketersediaan bahan baku industri,
daya saing  dan kesejahteraan petani.

Jika generasi muda masih tetap
enggan mengolah lahan-lahan pertanian maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai
dari luar.

Meski tak banyak, namun ibarat
oase di gurun pasir masih ada petani milenial dari Kabupaten Barito Timur,
Provinsi Kalimantan Tengah siap menjadi ujung tombak pembangunan
pertanian.  Krismen namanya. Petani
milenial yang sukses mengembangkan budidaya tanaman jagung pakan ternak atau
jagung kering pipilan di desanya.  Omzetnya sekarang mencapai Rp25 juta sebulan.

Prestasi yang ditorehkannya
adalah inspirasi bagi para pemuda milenial lain yang bercita-cita mulia
mengubah tanah luas tanpa harapan di Kalimantan menjadi termanfaatkan dengan
baik. Kemampuan menyulap lahan kering khas Kalimantan menjadi lahan subur dan
menghasilkan adalah berkat pemanfaatan teknologi dan penerapan paradigma baru
dunia digital dalam mengembangkan pertanian.

Tanah di Kalimantan tidak
sesubur  pulau Jawa yang memiliki banyak
tanah entisol dan grumusol karena memiliki gunung berapi.
Selain tanah inceptisol yang sangat
cocok untuk perkebunan kelapa sawit dan karet, sisanya Kalimantan terdiri dari
lahan kering, rawa lebak, lahan irigasi, rawa pasang surut, dan lahan
hujan  yang membutuhkan sentuhan
teknologi agar tidak sekadar menjadi lahan tidur.

Sedangkan tanah aluvial di
Kalimantan juga berkurang tingkat kesuburannya. Penurunan kesuburan akibat
penambangan batubara dapat diatasi dengan pemberian bahan organik dan
introduksi cacing tanah.

Banyaknya lahan di Kalimantan
yang terbengkalai bahkan menjadi  rawan
terbakar di musim kemarau menuntut kepedulian para pemuda milenial agar
mengikuti jejak Krismen yang telah memulai bisnisnya di bidang pertanian sejak
remaja.

Jejak langkah Sutrisno yang
sukses membudidayakan berbagai komoditi pertanian, khususnya tanaman pangan dan
hortikultura patut diacungi jempol juga. Sutrisno yang berasal dari kelompok
tani (Poktan) Harapan II, Desa Netampin, Kecamatan  Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur,
Kalimantan Tengah berhasil meraup keuntungan berlipat dengan usaha pertaniannya
dengan bercocok tanam  tomat dan cabai.

Baca Juga :  Penjaringan Cabup Oleh Perindo Kotim Dipertanyakan, Pancani: Kita Akan

Lahan seluas sekitar seperempat
hektar yang dijadikan lahan pertanian Sutrisno, telah menghasilkan jutaan
rupiah hanya dalam waktu 4 (empat) bulan saja. Hasil bertani tomat dan cabai
telah mampu menghidupi puluhan keluarga. Lebih-lebih saat harga jual cabai
dapat lebih tinggi dari harga jual karet.

Begitu juga kisah Mahrudin dan
sekelompok petani di Desa Terinsing, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito
Utara yang sukses meraup hasil puluhan juta rupiah berkat bercocok tanam buah
melon dan cabai keriting. Dengan luas lahan 0,25 hektar Mahrudin yang juga
mempekerjakan beberapa warga lokal ini dapat menanam 2.500 tanaman buah melon.
Sementara itu hasil panen cabai keriting dengan memanfaatkan lahan yang tidak
begitu luas saja dapat menghasilkan 4 pikul atau 400 kilogram cabai keriting.

Ini harusnya bisa menjadi inspirasi
bagi pemuda milenial bahwa lahan yang tak sesubur di pulau Jawa pun dapat
termanfaatkan apabila teknologi dapat dihadirkan di tengah-tengah lahan
pertanian.

Lahan kering dapat disulap
menjadi lahan yang subur dengan menambahkan pupuk dengan komposisi dua pertiga
sebagai pondasi  dan sepertiganya tanah
setempat. Sedangkan dalam lahan berawa dapat dilakukan dengan pembuatan
kanalisasi pertanian dan menebar banyak pompa yang memiliki daya hisap
3000-4000 liter air per jam.

Bayangkan Indonesia sendiri memiliki
sekitar 34 juta hektar lahan rawa yang apabila pemuda-pemuda milenial mau
berkiprah dengan teknologi dan mekanisasi mesin, serta mengkombinasikannya
dengan kearifan lokal pertanian tentu akan tercapai ketahanan pangan nasional
yang kuat. Tanah Barito yang notabene berdekatan dengan calon ibukota negara
(IKN) Indonesia yang baru di sebagian Kabupeten Penajam Paser Utara dan
sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur bisa menjadi
lumbung pangan.

Untuk menuju pertanian masa depan,
kolaborasi dengan bidang lain (transdisiplin) seperti bidang pariwisata
sehingga terwujud agrowisata di tanah Barito merupakan sebuah peluang di tengah
masyarakat perkotaan yang semakin modern. Masyarakat perkotaan cenderung
menerapkan gaya hidup (life style) ketofastofis dan vegetarian. Oleh karena
itu, diperlukan pembentukan komunitas pengomposan agar senantiasa tersedia
pupuk organik demi keberlangsungan pertanian organik.

Kementerian Pertanian juga
mendorong petani untuk senantiasa berkonsolidasi. Bahkan Kementerian Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah dilibatkan untuk memberikan pendampingan
manajemen. Salah satunya dengan membentuk Komando Strategis Pembangunan
Pertanian (Kostratani) yaitu program strategis untuk memordenisasi pertanian
Indonesia.

Dalam modernisasi pertanian
pemerintah membutuhkan tangan-tangan pemuda milenial yang adaptif terhadap
teknologi yang siap menjadi wirausaha agribisnis. Pemuda milenial yang  adaptif terhadap teknologi dapat membentuk
jejaring kerjasama dengan mitra atau pemangku kepentingan di sektor pertanian
dan mengoptimalisasi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dengan lebih mudah melalui
teknologi digital.

Akhirnya, peran petani muda masa
kini yang berani berlaga di dunia pertanian sangat dibutuhkan dalam mewujudkan
ketahanan pangan nasional. Ini seirama dengan detak perjuangan Bung Karno bahwa
pangan adalah hidup matinya suatu bangsa. 
Bung Karno yang begitu memahami hal itu kemudian meletakkan batu pertama
Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang berganti nama menjadi Institut
Pertanian Bogor dan bukan Institut Perbankan Bogor, Institut Pewartaan Bogor,
atau Institut Pesantren Bogor seperti yang (justru)  diplesetkan oleh  pemuda milenial Indonesia sendiri. Sarkastik!

(Penulis adalah pendidik di
Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah dan penulis lepas)

ERA Revolusi Industri  4.0
telah datang dan menuntut inovasi dan gagasan kreatif kita di berbagai sektor
agar roda kehidupan terus berputar. Roda penggerak perekonomian rakyat perlu
terus dijaga. Demikian juga tulang punggung ekonomi masyarakat yang banyak
bertumpu pada sektor pertanian, agar selalu menjadi prioritas utama agar tidak
menjadi masalah nasional di kemudian hari.

Lebih-lebih masalah ketahanan
pangan semakin krusial mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan semakin
membengkak. Di sisi lain para pekerja di sektor pertanian jumlahnya semakin
menurun.

Pertanian yang tidak didukung
oleh sumber daya manusia (SDM) yang profesional di sektor pertanian, mustahil
akan mampu menjawab kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Laju
pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, sedangkan laju pertumbuhan pangan
seperti deret hitung. Belum lagi luas lahan pertanian semakin menyempit.

Untungnya, pemerintah aktif
memberi insentif sehingga ketika sektor lain mengalami kesulitan di tengah
pandemi Covid-19, pertanian tetap menjadi penyokong perekonomian. Rilis data
terbaru pertumbuhan ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor
pertanian tumbuh tinggi di triwulan II-2020. Produk Domestik Bruto (PDB) di
sektor pertanian tumbuh 16,2 persen. Indikator kesejahteraan petani seperti
nilai tukar petani (NTP) juga naik tajam. Harga gabah kering panen (GKP) di
tingkat petani naik 1,44 persen dari bulan sebelumnya menjadi Rp 4.788.

Bahkan para petani di sebuah
kabupaten di Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten Barito Utara, mampu menyerahkan
bantuan beras sebanyak 3,6 ton kepada warga yang terdampak Covid-19.

Ironi, wilayah yang memiliki
potensi terbesar justru pada  sektor
kehutanan, pertambangan batubara dan emas serta sektor perkebunan karet dan
kelapa sawit ini dapat memproduksi 4 (empat) varietas padi ladang yang sudah
tersertifikasi secara nasional. Petani Indonesia, khususnya yang masih muda
sepatutnya tercambuk dan optimis mengembangkan usaha atau berwirausaha dalam
bidang pertanian atau agribisnis dengan beragam inovasi.

Pertanian 4.0 berada di punggung
generasi masa kini karena pertanian zaman sekarang tidak bisa disamakan lagi
dengan zaman dahulu. Pertanian 4.0 mesti pertanian yang tanggap alsintan (alat
mesin pertanian) dan teknologi digital yaitu dengan menggunakan mesin-mesin
otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet. 

Proses bisnisnya akan melibatkan
information and communication technology (ICT) 
dan jaringan internet yang terkoneksi ke semua unit operasi dari
berbagai instrumen seperti satelit, drone dan sensor maupun peralatan seperti
mesin atau robot. Apabila semuanya bekerja secara sinergis, maka akan terjadi
peningkatan produktifitas pertanian baik tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, maupun peternakan dengan biaya yang rendah.

Pengaplikasian teknologi digital
akan meminimalisir biaya produksi dan yang berhubungan dengan proses pemanenan
dan pascapanen hingga 60 persen sehingga keuntungan yang didapat petani akan
lebih besar.

Teknologi juga mempercepat proses
pertanian seperti pengolahan tanah pertanian, teknologi pembibitan, dan
pemutakhiran mesin panen. Praktis, teknologi memiliki peran yang besar dalam
intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian Sekarang traktor tidak perlu disetir
secara langsung tetapi dapat menggunakan remote atau komputer.

Pertanian itu tidak hanya sekadar
mengolah lahan, menanam dan memanen tetapi juga mengolah hasil panen hingga
bisa dipasarkan dengan cara modern dan inovatif yaitu dengan strategi daring (online)
atau cash on delivery (COD) sehingga
hasil pertanian bisa sampai meja makan. Pemasaran produk memang jauh lebih
mudah berkat peran teknologi digital.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia
menaruh harapan besar pada generasi muda milenial yang melek teknologi (techno-literate) yang siap melanjutkan
tongkat estafet demi kemajuan pertanian di masa depan. Bung Karno pernah
berseru: “Pemuda bertani, berarti memilih untuk merdeka”.

Baca Juga :  Ibadah di Masjid Bisa Dilakukan, Ini Syaratnya

Pemuda milenial produk vokasi
harus bisa masuk ke dunia usaha atau industri pertanian dan harusnya mampu
menjadi  qualified job creator yaitu menjadi petani mandiri dan membuka
lapangan pekerjaan untuk pemuda-pemuda lainnya. Fenomena saat ini semakin
banyak pemuda-pemuda Indonesia yang lebih memilih  menjadi job
seeker
(pencari pekerjaan) sebagai pegawai kantoran atau karyawan.

Kita percaya di kepala pemuda
milenial sejatinya tersimpan banyak ide kreatif dan inovatif dalam menghasilkan
produk pertanian berdaya saing dan bernilai jual tinggi. Regenerasi pemuda
tampan masa kini (baca: petani), masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi
Indonesia. Menjadi petani berarti menjadi ujung tombak kebutuhan pangan di
tanah air Indonesia yang konon lahir dari rahim agraris dan maritim. Profesi
petani selayaknya ditempatkan pada posisi terhormat dan terpandang.

Kita perlu berkaca dari negara
maju seperti Jepang, Amerika, Belanda dan Australia dengan profesi petaninya
yang selalu menjadi incaran para pemuda. Bahkan tak jarang mereka yang lulus
dari jurusan non-pertanian sangat antusias dan berebut ingin menjadi
petani.  Berbanding terbalik dengan
Indonesia dengan para pemudanya yang minder jika harus menjadi petani. Indonesia
sebagai negara berkembang belum bisa menyamai China yang juga masih dalam
kategori negara berkembang dalam hal kemakmuran petaninya. Penghasilan rata-rata
petani di China sekitar 10 jutaan.

Indonesia pun bisa seperti mereka,
apabila para pemuda milenial berani membangun desa dengan menjadi pelaku usaha
baru. Pemerintah selalu hadir untuk menyejahterakan petani dan meningkatkan
produksi.

Keberpihakan pemerintah dapat
terlihat dari kuatnya bantuan pemerintah seperti melalui program upaya Khusus
Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), subsidi pupuk
dan benih, pembuatan embung, perbaikan irigasi, pemberian ribuan alsintan dan
asuransi pertanian. Pemerintah juga memiliki inisiatif awal yaitu memperluas
lahan 1000 hektar untuk dijadikan korporasi pertanian. Semua dilakukan demi
menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, ketersediaan bahan baku industri,
daya saing  dan kesejahteraan petani.

Jika generasi muda masih tetap
enggan mengolah lahan-lahan pertanian maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai
dari luar.

Meski tak banyak, namun ibarat
oase di gurun pasir masih ada petani milenial dari Kabupaten Barito Timur,
Provinsi Kalimantan Tengah siap menjadi ujung tombak pembangunan
pertanian.  Krismen namanya. Petani
milenial yang sukses mengembangkan budidaya tanaman jagung pakan ternak atau
jagung kering pipilan di desanya.  Omzetnya sekarang mencapai Rp25 juta sebulan.

Prestasi yang ditorehkannya
adalah inspirasi bagi para pemuda milenial lain yang bercita-cita mulia
mengubah tanah luas tanpa harapan di Kalimantan menjadi termanfaatkan dengan
baik. Kemampuan menyulap lahan kering khas Kalimantan menjadi lahan subur dan
menghasilkan adalah berkat pemanfaatan teknologi dan penerapan paradigma baru
dunia digital dalam mengembangkan pertanian.

Tanah di Kalimantan tidak
sesubur  pulau Jawa yang memiliki banyak
tanah entisol dan grumusol karena memiliki gunung berapi.
Selain tanah inceptisol yang sangat
cocok untuk perkebunan kelapa sawit dan karet, sisanya Kalimantan terdiri dari
lahan kering, rawa lebak, lahan irigasi, rawa pasang surut, dan lahan
hujan  yang membutuhkan sentuhan
teknologi agar tidak sekadar menjadi lahan tidur.

Sedangkan tanah aluvial di
Kalimantan juga berkurang tingkat kesuburannya. Penurunan kesuburan akibat
penambangan batubara dapat diatasi dengan pemberian bahan organik dan
introduksi cacing tanah.

Banyaknya lahan di Kalimantan
yang terbengkalai bahkan menjadi  rawan
terbakar di musim kemarau menuntut kepedulian para pemuda milenial agar
mengikuti jejak Krismen yang telah memulai bisnisnya di bidang pertanian sejak
remaja.

Jejak langkah Sutrisno yang
sukses membudidayakan berbagai komoditi pertanian, khususnya tanaman pangan dan
hortikultura patut diacungi jempol juga. Sutrisno yang berasal dari kelompok
tani (Poktan) Harapan II, Desa Netampin, Kecamatan  Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur,
Kalimantan Tengah berhasil meraup keuntungan berlipat dengan usaha pertaniannya
dengan bercocok tanam  tomat dan cabai.

Baca Juga :  Penjaringan Cabup Oleh Perindo Kotim Dipertanyakan, Pancani: Kita Akan

Lahan seluas sekitar seperempat
hektar yang dijadikan lahan pertanian Sutrisno, telah menghasilkan jutaan
rupiah hanya dalam waktu 4 (empat) bulan saja. Hasil bertani tomat dan cabai
telah mampu menghidupi puluhan keluarga. Lebih-lebih saat harga jual cabai
dapat lebih tinggi dari harga jual karet.

Begitu juga kisah Mahrudin dan
sekelompok petani di Desa Terinsing, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito
Utara yang sukses meraup hasil puluhan juta rupiah berkat bercocok tanam buah
melon dan cabai keriting. Dengan luas lahan 0,25 hektar Mahrudin yang juga
mempekerjakan beberapa warga lokal ini dapat menanam 2.500 tanaman buah melon.
Sementara itu hasil panen cabai keriting dengan memanfaatkan lahan yang tidak
begitu luas saja dapat menghasilkan 4 pikul atau 400 kilogram cabai keriting.

Ini harusnya bisa menjadi inspirasi
bagi pemuda milenial bahwa lahan yang tak sesubur di pulau Jawa pun dapat
termanfaatkan apabila teknologi dapat dihadirkan di tengah-tengah lahan
pertanian.

Lahan kering dapat disulap
menjadi lahan yang subur dengan menambahkan pupuk dengan komposisi dua pertiga
sebagai pondasi  dan sepertiganya tanah
setempat. Sedangkan dalam lahan berawa dapat dilakukan dengan pembuatan
kanalisasi pertanian dan menebar banyak pompa yang memiliki daya hisap
3000-4000 liter air per jam.

Bayangkan Indonesia sendiri memiliki
sekitar 34 juta hektar lahan rawa yang apabila pemuda-pemuda milenial mau
berkiprah dengan teknologi dan mekanisasi mesin, serta mengkombinasikannya
dengan kearifan lokal pertanian tentu akan tercapai ketahanan pangan nasional
yang kuat. Tanah Barito yang notabene berdekatan dengan calon ibukota negara
(IKN) Indonesia yang baru di sebagian Kabupeten Penajam Paser Utara dan
sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur bisa menjadi
lumbung pangan.

Untuk menuju pertanian masa depan,
kolaborasi dengan bidang lain (transdisiplin) seperti bidang pariwisata
sehingga terwujud agrowisata di tanah Barito merupakan sebuah peluang di tengah
masyarakat perkotaan yang semakin modern. Masyarakat perkotaan cenderung
menerapkan gaya hidup (life style) ketofastofis dan vegetarian. Oleh karena
itu, diperlukan pembentukan komunitas pengomposan agar senantiasa tersedia
pupuk organik demi keberlangsungan pertanian organik.

Kementerian Pertanian juga
mendorong petani untuk senantiasa berkonsolidasi. Bahkan Kementerian Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah dilibatkan untuk memberikan pendampingan
manajemen. Salah satunya dengan membentuk Komando Strategis Pembangunan
Pertanian (Kostratani) yaitu program strategis untuk memordenisasi pertanian
Indonesia.

Dalam modernisasi pertanian
pemerintah membutuhkan tangan-tangan pemuda milenial yang adaptif terhadap
teknologi yang siap menjadi wirausaha agribisnis. Pemuda milenial yang  adaptif terhadap teknologi dapat membentuk
jejaring kerjasama dengan mitra atau pemangku kepentingan di sektor pertanian
dan mengoptimalisasi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dengan lebih mudah melalui
teknologi digital.

Akhirnya, peran petani muda masa
kini yang berani berlaga di dunia pertanian sangat dibutuhkan dalam mewujudkan
ketahanan pangan nasional. Ini seirama dengan detak perjuangan Bung Karno bahwa
pangan adalah hidup matinya suatu bangsa. 
Bung Karno yang begitu memahami hal itu kemudian meletakkan batu pertama
Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang berganti nama menjadi Institut
Pertanian Bogor dan bukan Institut Perbankan Bogor, Institut Pewartaan Bogor,
atau Institut Pesantren Bogor seperti yang (justru)  diplesetkan oleh  pemuda milenial Indonesia sendiri. Sarkastik!

(Penulis adalah pendidik di
Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah dan penulis lepas)

Terpopuler

Artikel Terbaru