33 C
Jakarta
Sunday, November 24, 2024

Quick Count Taiwan

Pagi-pagi kemarin saya sudah dijemput teman
baik saya di Taipei, Taiwan. Untuk diajak ke TPS. Kemarin memang ada Pemilu di
sana. Untuk memilih presiden dan anggota DPR Pusat.

Kami ke rumah ayahnya dulu. Yang sudah berumur
89 tahun. Ibunya berumur 86 tahun. Keduanya masih sangat sehat. Sang ayah dulu
sering ke Surabaya. Rapat-rapat dengan saya.

Tahun lalu saya merayakan Imlek di rumah
keluarga ini –makan besar seluruh anggota keluarga.

Kedatangan saya kali ini dikira untuk merayakan
Imlek lagi –tanggal 25 Januari nanti. “Saya senang Anda mau Imlek di sini
lagi,” katanya.

Tidak.

Saya hanya akan melihat keluarga ini
menggunakan hak pilih mereka.

Saya sudah tahu sikap politik keluarga ini
–tapi saya tidak peduli. Saya tidak ada kepentingan dengan politik Taiwan.

Orang tua itu sudah terlihat siap ke TPS.
Dandanannya sudah rapi –pakai sepatu dan rompi. Udara di luar memang sejuk
–19 derajat

Celsius.

Jalannya masih tegap. Demikian juga istrinya.

Ia baru saja tiba dari Bangladesh. Untuk
kegiatan sosial membantu orang miskin di sana.

Di dinding rumahnya tergantung banyak gambar
–salah satunya gambar Yesus.

Saya juga tahu mereka aktif di gereja.

Sang anak bergegas masuk kamar. Mengambil dua
lembar surat panggilan –untuk ibu dan bapaknya. Untuk dibawa ke TPS.

Sang anak juga mengambil bungkusan kecil untuk
diserahkan ke bapak ibunya.

“Apa itu?” tanya saya.

Ia pun membuka kantong kecil terbuat dari kain
itu. Lalu menunjukkan isinya ke saya: stempel pribadi.

Di Taiwan hampir semua orang memiliki stempel
pribadi. Meniru budaya Jepang. Itulah stempel pengganti cap jempol.

Mungkin budaya stempel ini aslinya dari
Tiongkok. Biasa kita lihat di film-film kerajaan. Tapi di Tiongkok sendiri kini
jarang dipakai.

Maka ayah-ibu ini berangkat ke TPS membawa tiga
hal: surat panggilan, KTP dan stempel.

Kami jalan kaki bersama. TPS itu berada di
bangunan sekolah dasar. Kira-kira 200 meter dari rumah.

SD Negeri ini halamannya luas. Bangunannya lima
tingkat –membentuk segi empat. Di tengahnya ada halaman lagi.

Untuk ke lobi sekolah ini harus naik tangga
lima trap. Keduanya bisa naik tangga itu dengan tanpa bantuan siapa-siapa. Lalu
naik lift ke lantai dua. TPS-nya ada di lantai atas.

Baca Juga :  Bidang Olahraga Butuh Perhatian Serius Pemerintah

Ada enam kelas yang digunakan untuk TPS.
Masing-masing untuk RT yang berbeda. Setiap ruang kelas berisi 4 tempat
pencoblosan suara.

Orang tua itu masuk TPS menyerahkan surat
panggilan. Lalu mengisi daftar hadir. Di kolom daftar hadir itulah ia bubuhkan
stempel pribadi.

Cap di stempel itu adalah rangkaian namanya.
Dalam huruf Mandarin. Yang bentuknya dibuat sulit untuk ditiru orang.

Lalu mereka diberi kartu suara: tiga lembar.
Warna merah (untuk pilpres), kuning (DPR) dan pink (untuk partai).

Di kartu warna merah ada tiga calon presiden.
No 1 (Song Zhu Yu), No 2 (Han Guo-yu/Partai Koumintang) dan No 3 (Tsai
Ing-wen/partai DPP/Incumbent).

Di bilik suara, mereka tidak mencoblos. Cukup
menstempel kolom yang mereka pilih.

Stempelnya disediakan di bilik itu. Warna
tintanya merah. Wujud stempelnya lihat foto. Besarnya alat itu seukuran
balpoint.

Saya hitung: 2 menit selesai.

Lalu dimasukkan ke kotak suara untuk
masing-masing kategori.

Saya tidak bisa ngapa-ngapain di situ. Di
radius 30 meter dari TPS tidak boleh mengambil gambar. Tidak boleh berisik
–apalagi memengaruhi pemilih.

Ponsel juga dilarang dibawa masuk ke TPS. Harus
ditinggal di luar pintu. Mereka tidak bisa memotret –sebagai bukti “nih,
saya sudah coblos kamu, mana bayarannya”.

Saya pun bingung. Terus mau ngapain. Di dekat
situ ada sungai besar. Yang pernah membuat Taipei banjir seperti di wilayahnya
Anies Baswedan.

Saya minta diajak meninjau sistem pengendalian
banjirnya. Yang membuat Taipei bebas banjir 30 tahun terakhir.

Lalu saya harus ke rumah mertuanya. Di kawasan
Taipei Baru.

“Saya terdaftar di TPS di sana,” ujar
sang anak.

Rumah mertuanya di apartemen empat lantai. Dia
tinggal sendirian di lantai 3 tanpa lift –di apartemen 4 kamar.

Kami pun sekali lagi ke TPS. Sistemnya sama.
Larangannya sama. Semua menaati larangan itu. Takut denda –mencapai 5 ribu
dolar.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Kami harus
makan siang. Teman saya itu mengajak membeli sashimi dan o-ya-ho-to. Untuk
dimakan di rumahnya.

Itulah resto Jepang yang membuat saya heran:
Antrinya berjubel. Yang antri nonik-nonik dan sinyo-sinyo Korea. Dan Jepang.

Menunya juga tertulis dalam bahasa Korea. Dan
Jepang. Petugas antrinya seorang brondong keren –bisa berbahasa Korea. Dan
Jepang.

Baca Juga :  Diduga Hilang Kendali, Ambulance RSUD Kota Alami Laka Tunggal di Jalan

“Ini karena enak atau karena murah,”
tanya saya.

“Enak, murah dan potongan sashiminya
besar,” ujar teman saya itu.

Benar.

Enak sekali.

Dan potongan salmonnya tidak pelit.

Kami akan ke TPS lagi.

Saya ingin melihat sistem penghitungan
suaranya. Tapi baru mulai dihitung jam 16.00 nanti. Yakni setelah pemungutan
suara ditutup jam 16.00.

Ke mana dulu?

Saya pun minta diantar ke daerah industri. Ada
kantor pusat Honhai di situ. Itulah pemasok onderdil iPhone terbesar. Yang
pabriknya di Shenzhen, Tiongkok. Yang karyawannya lebih 1 juta orang.

Jam 16.00 pun tiba.

Kami kembali ke TPS. Proses penghitungan
dimulai.

Ada yang ambil surat suara dari dalam kotak.

Ada yang membuka dan meneriakkan nama siapa
capres yang dipilih.

Ada yang menuliskan angka perolehan. Sambil
meneruskan apa yang diteriakkan petugas sebelumnya. Agar tidak keliru.

Cara menuliskan suara tidak sama dengan di
Indonesia. Bukan dicoret-coret miring. Bukan empat garis miring disilang satu
garis –untuk menunjukkan perolehan lima suara.

Di Taiwan lima suara itu diwujudkan dalam garis-garis
seperti menulis huruf Mandarin.

Di sebelah penghitungan suara pilpres itu
dilakukan penghitungan suara pileg. Maka suara pun bersahut-sahutan. Tiap satu
ruang kelas ada dua tim penghitungan suara.

Petugas TPS ini dibayar pemerintah. Tiap orang
sekitar Rp 1,5 juta.

Partai ikut dipilih secara terpisah di kartu
suara ketiga.

Ada 19 partai yang ikut pemilu. Masing-masing
dengan daftar calon.

Setiap tiga atau lima persen perolehan suara
partai bisa menempatkan seorang anggota DPR. Dengan demikian partai kecil masih
punya kemungkinan memiliki wakil di parlemen. Biar pun tidak ada calegnya yang
terpilih di dapil.

Proses perhitungan suara ini boleh difoto.
Boleh divideo.

Jam 17.00 perhitungan suara capres sudah
selesai. Untuk direkap. Lalu dibawa ke KPU tingkat atasnya.

Orang Taiwan harus sabar menunggu pengumuman
hasil pemilu dari lembaga yang resmi. Tidak boleh ada quick count. Tidak boleh ada berita di media soal
perkiraan perolehan suara.

Baru jam 19.00 semua orang berada di depan TV.
Siap-siap untuk move on –siapa pun yang
menang.(Dahlan Iskan)

 

 

Pagi-pagi kemarin saya sudah dijemput teman
baik saya di Taipei, Taiwan. Untuk diajak ke TPS. Kemarin memang ada Pemilu di
sana. Untuk memilih presiden dan anggota DPR Pusat.

Kami ke rumah ayahnya dulu. Yang sudah berumur
89 tahun. Ibunya berumur 86 tahun. Keduanya masih sangat sehat. Sang ayah dulu
sering ke Surabaya. Rapat-rapat dengan saya.

Tahun lalu saya merayakan Imlek di rumah
keluarga ini –makan besar seluruh anggota keluarga.

Kedatangan saya kali ini dikira untuk merayakan
Imlek lagi –tanggal 25 Januari nanti. “Saya senang Anda mau Imlek di sini
lagi,” katanya.

Tidak.

Saya hanya akan melihat keluarga ini
menggunakan hak pilih mereka.

Saya sudah tahu sikap politik keluarga ini
–tapi saya tidak peduli. Saya tidak ada kepentingan dengan politik Taiwan.

Orang tua itu sudah terlihat siap ke TPS.
Dandanannya sudah rapi –pakai sepatu dan rompi. Udara di luar memang sejuk
–19 derajat

Celsius.

Jalannya masih tegap. Demikian juga istrinya.

Ia baru saja tiba dari Bangladesh. Untuk
kegiatan sosial membantu orang miskin di sana.

Di dinding rumahnya tergantung banyak gambar
–salah satunya gambar Yesus.

Saya juga tahu mereka aktif di gereja.

Sang anak bergegas masuk kamar. Mengambil dua
lembar surat panggilan –untuk ibu dan bapaknya. Untuk dibawa ke TPS.

Sang anak juga mengambil bungkusan kecil untuk
diserahkan ke bapak ibunya.

“Apa itu?” tanya saya.

Ia pun membuka kantong kecil terbuat dari kain
itu. Lalu menunjukkan isinya ke saya: stempel pribadi.

Di Taiwan hampir semua orang memiliki stempel
pribadi. Meniru budaya Jepang. Itulah stempel pengganti cap jempol.

Mungkin budaya stempel ini aslinya dari
Tiongkok. Biasa kita lihat di film-film kerajaan. Tapi di Tiongkok sendiri kini
jarang dipakai.

Maka ayah-ibu ini berangkat ke TPS membawa tiga
hal: surat panggilan, KTP dan stempel.

Kami jalan kaki bersama. TPS itu berada di
bangunan sekolah dasar. Kira-kira 200 meter dari rumah.

SD Negeri ini halamannya luas. Bangunannya lima
tingkat –membentuk segi empat. Di tengahnya ada halaman lagi.

Untuk ke lobi sekolah ini harus naik tangga
lima trap. Keduanya bisa naik tangga itu dengan tanpa bantuan siapa-siapa. Lalu
naik lift ke lantai dua. TPS-nya ada di lantai atas.

Baca Juga :  Bidang Olahraga Butuh Perhatian Serius Pemerintah

Ada enam kelas yang digunakan untuk TPS.
Masing-masing untuk RT yang berbeda. Setiap ruang kelas berisi 4 tempat
pencoblosan suara.

Orang tua itu masuk TPS menyerahkan surat
panggilan. Lalu mengisi daftar hadir. Di kolom daftar hadir itulah ia bubuhkan
stempel pribadi.

Cap di stempel itu adalah rangkaian namanya.
Dalam huruf Mandarin. Yang bentuknya dibuat sulit untuk ditiru orang.

Lalu mereka diberi kartu suara: tiga lembar.
Warna merah (untuk pilpres), kuning (DPR) dan pink (untuk partai).

Di kartu warna merah ada tiga calon presiden.
No 1 (Song Zhu Yu), No 2 (Han Guo-yu/Partai Koumintang) dan No 3 (Tsai
Ing-wen/partai DPP/Incumbent).

Di bilik suara, mereka tidak mencoblos. Cukup
menstempel kolom yang mereka pilih.

Stempelnya disediakan di bilik itu. Warna
tintanya merah. Wujud stempelnya lihat foto. Besarnya alat itu seukuran
balpoint.

Saya hitung: 2 menit selesai.

Lalu dimasukkan ke kotak suara untuk
masing-masing kategori.

Saya tidak bisa ngapa-ngapain di situ. Di
radius 30 meter dari TPS tidak boleh mengambil gambar. Tidak boleh berisik
–apalagi memengaruhi pemilih.

Ponsel juga dilarang dibawa masuk ke TPS. Harus
ditinggal di luar pintu. Mereka tidak bisa memotret –sebagai bukti “nih,
saya sudah coblos kamu, mana bayarannya”.

Saya pun bingung. Terus mau ngapain. Di dekat
situ ada sungai besar. Yang pernah membuat Taipei banjir seperti di wilayahnya
Anies Baswedan.

Saya minta diajak meninjau sistem pengendalian
banjirnya. Yang membuat Taipei bebas banjir 30 tahun terakhir.

Lalu saya harus ke rumah mertuanya. Di kawasan
Taipei Baru.

“Saya terdaftar di TPS di sana,” ujar
sang anak.

Rumah mertuanya di apartemen empat lantai. Dia
tinggal sendirian di lantai 3 tanpa lift –di apartemen 4 kamar.

Kami pun sekali lagi ke TPS. Sistemnya sama.
Larangannya sama. Semua menaati larangan itu. Takut denda –mencapai 5 ribu
dolar.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Kami harus
makan siang. Teman saya itu mengajak membeli sashimi dan o-ya-ho-to. Untuk
dimakan di rumahnya.

Itulah resto Jepang yang membuat saya heran:
Antrinya berjubel. Yang antri nonik-nonik dan sinyo-sinyo Korea. Dan Jepang.

Menunya juga tertulis dalam bahasa Korea. Dan
Jepang. Petugas antrinya seorang brondong keren –bisa berbahasa Korea. Dan
Jepang.

Baca Juga :  Diduga Hilang Kendali, Ambulance RSUD Kota Alami Laka Tunggal di Jalan

“Ini karena enak atau karena murah,”
tanya saya.

“Enak, murah dan potongan sashiminya
besar,” ujar teman saya itu.

Benar.

Enak sekali.

Dan potongan salmonnya tidak pelit.

Kami akan ke TPS lagi.

Saya ingin melihat sistem penghitungan
suaranya. Tapi baru mulai dihitung jam 16.00 nanti. Yakni setelah pemungutan
suara ditutup jam 16.00.

Ke mana dulu?

Saya pun minta diantar ke daerah industri. Ada
kantor pusat Honhai di situ. Itulah pemasok onderdil iPhone terbesar. Yang
pabriknya di Shenzhen, Tiongkok. Yang karyawannya lebih 1 juta orang.

Jam 16.00 pun tiba.

Kami kembali ke TPS. Proses penghitungan
dimulai.

Ada yang ambil surat suara dari dalam kotak.

Ada yang membuka dan meneriakkan nama siapa
capres yang dipilih.

Ada yang menuliskan angka perolehan. Sambil
meneruskan apa yang diteriakkan petugas sebelumnya. Agar tidak keliru.

Cara menuliskan suara tidak sama dengan di
Indonesia. Bukan dicoret-coret miring. Bukan empat garis miring disilang satu
garis –untuk menunjukkan perolehan lima suara.

Di Taiwan lima suara itu diwujudkan dalam garis-garis
seperti menulis huruf Mandarin.

Di sebelah penghitungan suara pilpres itu
dilakukan penghitungan suara pileg. Maka suara pun bersahut-sahutan. Tiap satu
ruang kelas ada dua tim penghitungan suara.

Petugas TPS ini dibayar pemerintah. Tiap orang
sekitar Rp 1,5 juta.

Partai ikut dipilih secara terpisah di kartu
suara ketiga.

Ada 19 partai yang ikut pemilu. Masing-masing
dengan daftar calon.

Setiap tiga atau lima persen perolehan suara
partai bisa menempatkan seorang anggota DPR. Dengan demikian partai kecil masih
punya kemungkinan memiliki wakil di parlemen. Biar pun tidak ada calegnya yang
terpilih di dapil.

Proses perhitungan suara ini boleh difoto.
Boleh divideo.

Jam 17.00 perhitungan suara capres sudah
selesai. Untuk direkap. Lalu dibawa ke KPU tingkat atasnya.

Orang Taiwan harus sabar menunggu pengumuman
hasil pemilu dari lembaga yang resmi. Tidak boleh ada quick count. Tidak boleh ada berita di media soal
perkiraan perolehan suara.

Baru jam 19.00 semua orang berada di depan TV.
Siap-siap untuk move on –siapa pun yang
menang.(Dahlan Iskan)

 

 

Terpopuler

Artikel Terbaru