alexametrics
23.8 C
Palangkaraya
Wednesday, August 17, 2022

Hari Batik Nasional, Jangan Hanya Sekadar Hashtag di Medsos

Selamat
Hari Batik Nasional. Sejumlah laman di media sosial sudah mulai diwarnai oleh
gaya masyarakat, tokoh, dan selebriti yang mengenakan kain batik. Diharapkan,
batik tidak hanya sekadar simbol tetapi harus dimaknai sejarah dan budayanya.

Batik
merupakan sebuah warisan budaya tak benda dari Indonesia yang ditetapkan oleh
UNESCO pada tanggal 29 September 2009 di Abu Dhabi-Uni Emirat Arab. Untuk
mempertahankan pengakuan UNESCO untuk Batik Indonesia sebagai warisan budaya
tak benda, diperlukan tindakan nyata untuk memenuhi komponen penilaian dari
UNESCO yaitu preservasi, edukasi dan inspirasi kepada masyarakat terhadap aset
yang dimiliki.

2
Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Namun sayangnya setiap
peringatan Hari Batik Nasional seringkali hanya dirayakan sebagai seremoni.
Masyarakat diminta jangan hanya memaknai batik sekadar simbol.

Baca Juga :  Hari Perempuan Internasional, Ini 5 Produk Paling Dicari Kaum Hawa

“Hari
batik selayaknya dirayakan tak hanya postingan di media sosial,” tegas Desainer
Didiet Maulana kepada JawaPos.com, Jumat (2/10).

Menurutnya,
budaya cinta batik jangan hanya dimaknai sekadar mengenakan busana batik lalu
dibubuhkan dengan tanda pagar (hashtag). Akan tetapi menghargai karya batik
bisa dengan membeli batik tulis ataupun cap. Bukan batik cetak (printing) dari
mesin.

“Mari
tunjukkan cinta batik dengan membeli karya batik tulis dan cap agar para
pembatik dan pengusaha batik bisa tetap lestari usahanya,” kata Didiet.

Hal
senada diungkapkan oleh Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi.
Dia mengajak para milenial bisa menghargai karya para perajin batik. Menurutnya
agar milenial menghargai kain batik, mereka harus mempelajari proses
pembuatannya maka nanti mereka akan menghargai bahwa batik itu benar2’warisan
budaya nenek moyang kita.

Baca Juga :  7 Langkah Agar Cepat Damai dengan Pasangan Saat Bertengkar

“Yang
perlu diingat untuk kaum milenial kalau kita bicara batik, kita harus bicara
proses pembuatannya. Maka seseorang itu akan memghargai batik. Kalau hanya
sbatas memakai belum cukup. Karena batik warisan budaya. Bagaimana kita
menghargai proses pembuatannya dari kain polos hingga menjadi kain bermotif
dengan teknik batik,” tegas Sugeng.

Selamat
Hari Batik Nasional. Sejumlah laman di media sosial sudah mulai diwarnai oleh
gaya masyarakat, tokoh, dan selebriti yang mengenakan kain batik. Diharapkan,
batik tidak hanya sekadar simbol tetapi harus dimaknai sejarah dan budayanya.

Batik
merupakan sebuah warisan budaya tak benda dari Indonesia yang ditetapkan oleh
UNESCO pada tanggal 29 September 2009 di Abu Dhabi-Uni Emirat Arab. Untuk
mempertahankan pengakuan UNESCO untuk Batik Indonesia sebagai warisan budaya
tak benda, diperlukan tindakan nyata untuk memenuhi komponen penilaian dari
UNESCO yaitu preservasi, edukasi dan inspirasi kepada masyarakat terhadap aset
yang dimiliki.

2
Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Namun sayangnya setiap
peringatan Hari Batik Nasional seringkali hanya dirayakan sebagai seremoni.
Masyarakat diminta jangan hanya memaknai batik sekadar simbol.

Baca Juga :  Bahaya Paparan Sinar UVA-UVB Bagi Kulit, Bikin Keriput Hingga Kanker

“Hari
batik selayaknya dirayakan tak hanya postingan di media sosial,” tegas Desainer
Didiet Maulana kepada JawaPos.com, Jumat (2/10).

Menurutnya,
budaya cinta batik jangan hanya dimaknai sekadar mengenakan busana batik lalu
dibubuhkan dengan tanda pagar (hashtag). Akan tetapi menghargai karya batik
bisa dengan membeli batik tulis ataupun cap. Bukan batik cetak (printing) dari
mesin.

“Mari
tunjukkan cinta batik dengan membeli karya batik tulis dan cap agar para
pembatik dan pengusaha batik bisa tetap lestari usahanya,” kata Didiet.

Hal
senada diungkapkan oleh Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi.
Dia mengajak para milenial bisa menghargai karya para perajin batik. Menurutnya
agar milenial menghargai kain batik, mereka harus mempelajari proses
pembuatannya maka nanti mereka akan menghargai bahwa batik itu benar2’warisan
budaya nenek moyang kita.

Baca Juga :  Penyakit Ginjal, Gagal Ginjal, Transplantasi Ginjal,

“Yang
perlu diingat untuk kaum milenial kalau kita bicara batik, kita harus bicara
proses pembuatannya. Maka seseorang itu akan memghargai batik. Kalau hanya
sbatas memakai belum cukup. Karena batik warisan budaya. Bagaimana kita
menghargai proses pembuatannya dari kain polos hingga menjadi kain bermotif
dengan teknik batik,” tegas Sugeng.

Most Read

Artikel Terbaru

/