30.2 C
Jakarta
Sunday, February 8, 2026

Bahtera

Oleh CICILIA ODAY

Rumah Moses Suhardi di Desa Dumoga sering dijuluki bahtera. Bukan semata karena ukurannya, tetapi juga karena bentuk rumah itu sepintas mengingatkan orang pada struktur kapal.

Lantai satu, bagian yang paling luas, diandaikan sebagai lambung kapal; bukaan di lantai dua yang menjorok ke sisi luar dan di batasi tirai, tampak seperti geladak; ujungnya yang melancip ke pekarangan depan dimaksudkan sebagai haluan; sedangkan bagian belakang yang memiliki lengkungan serupa sendok dimaksudkan sebagai buritan.

Adapun bangunan di lantai dua yang menjorok di tengah-tengah “geladak” tampak seperti anjungan.

DI rumah itu ting­gallah Mo­ses Suhardi bersama istri dan tiga anak­nya yang masing-masing telah berumah tangga. Konon Moses sengaja membangun rumah yang lapang supaya anak-anaknya tidak perlu mening­gal­kan rumah saat dewasa nanti; agar masa tua Moses Suhardi dan istrinya, Anung, tidak kesepian; agar para cucu leluasa berlarian di dalam rumah tanpa mengotori deng­kul.

Di depan batang hidung­nya, orang-orang memuji setengah iri akan keberhasilan Moses Suhardi membangun ”kerajaan” bagi keluarganya. Di belakang, orang-orang mencemooh empat rumah tangga yang berbagi satu atap bersama seperti ikan-ikan dalam kaleng.

Dinar Suhardi menyadari cemoohan ini. Bukannya ia betah dan nyaman saja tinggal serumah dengan orang tua dan kedua kakak serta pasang­an-pasangan mereka. Namun, penghasilan suaminya sebagai guru honorer memang belum me­mungkinkan untuk meng­am­­bil KPR atau sekadar ngontrak.

Electronic money exchangers listing

Maka dua bulan setelah pin­dah dari kos-kosan ke rumah orang tuanya yang mirip bahtera itu, Dinar melamar pekerjaan di toko kelontong milik Hajah Nur. Kabar ini menggemparkan warga dan menampar harga diri Moses.

Hajah Nur barangkali pedagang tersukses di Dumoga saat ini, tapi di masa lalu ia per­nah punya utang pada Anung. Lagi pula apakah pantas seorang sarjana bekerja mengatur-atur pajangan di toko yang bukan miliknya sendiri?

”Gajiku dua juta di toko itu dibandingkan gaji Gala cuma tujuh ratus ribu sebulan,” Dinar membela diri.

 

Moses berencana menjual salah satu tanah ladangnya yang sudah jarang mengha­sil­kan panen demi memodali Dinar membuka toko sendiri. Sesungguhnya Dinar tak enak pada kedua kakaknya.

Padahal si sulung, Ayumi Suhardi, mus­tahil mengelola kebun. Kuku-kukunya selalu terawat cantik hasil polesan mahal dari salon kuku.

Kulitnya mulus berkat losion dosis tinggi. Suami Ayu­mi seorang anggota kepolisian yang bertugas di luar kota, hanya pulang dua bulan sekali, sedikit mustahil diandalkan menggarap kebun.

Di antara mereka bertiga si tengahlah yang lumayan dapat diandalkan. Namun, bela­kang­an pekerjaan di kebun harus terbengkalai sebab modalnya menipis setelah kalah judi daring berturut-turut.

Hosea tidak sepakat jika urusan per­kebunan diserahkan kepada saudara-saudara perempuan­nya. Perempuan hanya perlu sekolah dan bekerja di tempat berpendingin udara, tidak bekerja pun tak masalah selama nafkah dari gaji suami.

Hari pertama Dinar masuk kerja, Moses meneriakinya dari luar toko hingga urat-urat di leher lelaki paruh baya itu nyembul seperti relief. Orang-orang berkumpul, penasaran.

Di kejauhan, geledek memekak langit melatarbelakangi amarah Moses Suhardi. Hajah Nur menyuruh Dinar keluar meng­ha­dapi sang ayah. Namun, perempuan muda itu sembunyi di balik tumpukan ember dan panci, yakin ayahnya tak akan nekat, bahkan pada akhirnya akan pulang sendiri setelah letih teriak.

Dugaannya benar. Tak sampai setengah jam ke­mudian, Moses pulang disertai gerutu pedas dan langkah-langkah mengentak.

Setelah situasi tenang ter­ken­dali, Dinar melangkah keluar dan menengadah ke langit. Tam­pak gumpalan awan tebal nan gelap dan bisu, sesekali di­ikuti gemuruh di kejauhan. Se­bentar lagi hujan badai turun. Tepat ketika hujan deras baru saja mengguyur, ibunya mene­lepon, mengabarkan ayahnya jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri, dan itu salah Dinar.

Baca Juga :  Pulang tanpa Kampung Halaman

Hujan deras mengguyur berhari-hari, lalu berminggu-minggu, lalu berbulan-bulan. Hujan disertai gemuruh dan en­takan petir yang meman­car­kan cahaya dan garis-garis api di langit.

Moses terbaring sakit berhari-hari di bawah perawatan dan perhatian istri dan menantu –istri Hosea. Ayumi menghadiri pertemuan Bhayangkari sehingga tak dapat membantu mengurus sang ayah. Dinar sengaja dijauhkan dari sang ayah demi kebaikan bersama, tapi para cucu yang berisik dibiarkan berlarian dan tertawa-tawa di dekat kamar sang kakek.

Dinar menjauh ke dapur, terpaksa berhadapan dengan piring-piring kotor sekeluarga yang hampir setinggi tubuhnya. Meskipun setiap hari piring-piring dicuci, entah kenapa tum­pukannya selalu lebih ba­nyak daripada jumlah orang-orang serumah. Tetapi yang paling membikinnya heran, kenapa pekerjaan ini selalu menjadi tugas para perempuan?

 

Sejak kejayaan bisnis jual beli kopra Moses redup, mereka tak lagi pakai pembantu. Setiap makanan yang masuk ke perut seluruh anggota keluarga ada­lah hasil bisnis Anung sebagai rentenir.

Meskipun bunga yang diterapkan terbilang tinggi, ada saja orang-orang desa yang terpaksa berutang. Dinar per­nah melihat ibunya menyita motor, TV, kulkas, hingga ranjang tidur tetangga tersebab tak mampu lagi sekadar membayar bunga.

Anak si tetangga, Moneka, adalah te­man masa kecilnya. Kejadian ini membekukan pertemanan mereka. Makin sering Anung menyita barang-barang, makin tinggi pula kemungkinan Dinar kehilangan teman.

Seseorang datang selagi ia masih mencuci piring.

”Kamu dan Gala belum ada rencana ngekos lagi?” tanya Hosea sambil membuka tu­dung saji.

”Papa maunya kami tinggal di sini,” sahut Dinar tak acuh. Suara air keran ditingkahi suara hujan.

Hosea berkata, ”Nanti kalau tinggal mama di rumah ini, biar aku dan Jihan saja yang merawat mama dan mengurus rumah.”

Dinar mematikan keran, me­natap sang kakak. ”Emangnya sakit papa separah itu?”

”Kamu tidak perhatikan se­ta­hun ini dia sudah lima kali kumat?”

Dinar mengelapi tangan yang basah dengan serbet, lalu bersandar di pinggiran bak cuci piring. ”Aku enggak mau tinggal di sini selamanya. Nanti aku minta modal ke mama buat nyicil rumah di kota.”

Hosea pura-pura tersedak. ”Modal? Gila, aku aja anak laki tidak menuntut modal.”

”Kamu kan dapat rumah ini.”

”Rumah ini mau aku jadikan kos-kosan. Kamar-kamarnya mau ditambah. Aku akan jual dua ladang buat renovasi.”

”Papa bilang aku akan dikasih modal kalau salah satu ladang laku terjual. Siapa tahu Hajah Nur tertarik.”

”Omong kosong.” Hosea ber­diri sambil menatap sang adik dengan pandangan men­ce­mooh. ”Kamu punya suami. Biar suami kamu yang me­mikirkan rumah dan modal buatmu. Lihat Ayumi tuh.”

Setelah mengatakan itu, Ho­sea meninggalkan dapur de­ngan langkah-langkah tegas. Dinar membalik badan ke arah bak cuci piring kembali, namun benaknya kini terganggu oleh pertengkaran kecil itu.

Gelom­bang panas merayapi rongga dadanya. Baru saja ia menya­lakan keran dengan jengkel, pipa air tiba-tiba patah. Air memancur dalam tekanan keras ke arah wajahnya. Ia tak sempat menghindar. Rambut dan bajunya basah kuyup bah­kan sebelum ia sadar apa yang terjadi. Ia menjauh dari keran yang bocor, kelimpungan mencari sesuatu untuk me­nyum­bat. Ia menemukan ser­bet, tapi air gagal dihentikan. Me­nyumbat pakai kanebo bahkan lebih parah sebab kanebo yang licin tidak bisa bertahan di ujung pipa dengan tekanan air tinggi.

Dinar mulai memanggil-manggil ibunya dan Jihan. Mereka datang de­ngan tergopoh, mengira ada kebocoran tabung gas atau semacamnya. Ekspresi ngeri tergambar di wajah kedua perempuan itu melihat kondisi dapur. Pada akhirnya ketiga perempuan itu basah kuyup karena berusaha meng­hen­tikan guyuran air.

Baca Juga :  Fatamorgana Don Quixote

Setelah satu bulan hujan masih berlangsung, hanya berhenti dua atau tiga jam se­be­lum mengguyur lagi. Sungai-sungai meluap dan meng­ha­nyutkan pohon-pohon serta ternak warga. Ladang-ladang perkebunan terendam dan tenggelam di bawah genangan air.

Air sungai keruh kecokelatan dan berarus deras. Para warga yang tinggal di hilir sungai di­peringatkan agar tidak berdiri dekat tebing. Banjir bukan lagi sekadar peringatan. Di desa-desa tetangga banjir bahkan telah di depan mata. Mengingat hujan terus mengguyur, banjir akan merata di seluruh ke­ca­matan.

Orang-orang meng­ung­si di balai desa, atap-atap gereja, masjid, rumah-rumah dua lantai, sampai pohon durian, tapi ternyata air terus menjangkau ketinggian. Ketika tembok bendungan rumpal, air mengempas me­nenggelam­kan permukiman warga.

Semula rumah Moses adalah rumah terakhir yang bertahan di tengah luapan banjir. Na­mun, kurang dari 24 jam ke­mu­dian lantai mulai berderak dan bangunan rumah ber­gun­cang.

Saat itu Moses sudah baikan, tapi setengah tubuhnya mengalami lumpuh. Ayumi, Ivan sang suami, dan kedua anak mereka kebetulan baru tiba satu minggu lalu. Ketika peringatan banjir digaungkan pertama kali, mereka hendak kembali ke tempat Ivan ber­tu­gas, tapi jalan penghubung antarkota terhalang longsor.

Maka Ayumi dan keluarga kecilnya kembali ke rumah bahtera sang ayah. Hosea dan Jihan sama tak bisa ke mana-mana, begitu pula Dinar dan Gala. Mereka semua mengungsi di lantai dua rumah bahtera itu, berharap dinding-dinding lantai satu cukup kokoh untuk bertahan sampai air surut. Harapan yang tidak pernah jadi kenyataan.

Tepat tengah malam, rumah itu tercerabut dari struktur fondasi. Dalam satu dorongan berkekuatan magis dari bawah permukaan air, rumah itu te­rangkat, kini benar-benar men­­jadi bahtera.

Di atasnya Moses yang setengah lumpuh, istri, ketiga anak dan ketiga menantu, serta para cucu ber­pegangan di kusen-kusen pin­tu, jendela, dan langkang. Saat itu ketinggian air me­nya­mai bukit-bukit dan pegu­nung­an. Sejauh matamemandang, tak tampak lagi apa-apa di se­keliling mereka kecuali per­airan berwarna cokelat yang terus bergerak, menyeret bah­tera itu tanpa arah.

Arus dan gelombang air mem­buat bahtera sesekali ber­­guncang hebat. Moses sekeluarga terseret kian kemari, tersaruk-saruk mencoba berdiri sebelum rumpal kembali. Anak-anak dan para perem­puan menangis. Bahtera men­capai kemiringan yang me­ngerikan. ­Yang tak sanggup berpegangan erat akan jatuh ke dalam air, hilang untuk se­lamanya.

Moses orang pertama yang nyemplung ke dalam air, disusul Ivan, disusul Hosea, lalu yang terakhir Gala. Anung menatap kepergian suami, kedua menantu, dan anak ke­sa­yangannya dengan pe­rasaan tawar. Cucu yang paling kecil berpelukan di tubuhnya, geme­tar tapi sekuat akar beringin.

Dinar memejamkan mata erat-erat, tak tahan melihat lebih banyak kematian. Betapa ingin ia menyusul Gala ke dalam arus pusaran, tapi ia tak punya nyali. Padahal ha­rapan hidup setipis jaring la­ba-laba.

Ditatapnya keluar­ganya yang tersisa: Anung, Ayumi, Jihan, dan anak-anak. Jika satu orang saja terjatuh lagi, ia tak akan ragu untuk me­lepaskan pegangan. Na­mun, mereka yang tersisa sang­­gup berpegangan di pagar langkang berminggu-minggu kemudian hingga kemiringan bahtera berkurang.

Saat itu semua orang sudah mati rasa untuk sekadar merasa sedih atas kehilangan. Pada hari ke­empat puluh, air akhirnya surut dan bahtera itu terdampar di kaki gunung. Empat perem­puan dan lima anak kecil.

Konon mereka bertahan de­ngan meng­gasak apa saja yang mengapung di air, termasuk burung-burung yang singgah memijakkan kaki di geladak.

Ketika ditemukan, kondisi mereka mengenaskan tinggal tulang berbalut kulit, tapi aneh­nya, masih bernapas. Berpa­sang-pasang mata berbinar memancarkan ke­hidupan. (*)

Oleh CICILIA ODAY

Rumah Moses Suhardi di Desa Dumoga sering dijuluki bahtera. Bukan semata karena ukurannya, tetapi juga karena bentuk rumah itu sepintas mengingatkan orang pada struktur kapal.

Lantai satu, bagian yang paling luas, diandaikan sebagai lambung kapal; bukaan di lantai dua yang menjorok ke sisi luar dan di batasi tirai, tampak seperti geladak; ujungnya yang melancip ke pekarangan depan dimaksudkan sebagai haluan; sedangkan bagian belakang yang memiliki lengkungan serupa sendok dimaksudkan sebagai buritan.

Electronic money exchangers listing

Adapun bangunan di lantai dua yang menjorok di tengah-tengah “geladak” tampak seperti anjungan.

DI rumah itu ting­gallah Mo­ses Suhardi bersama istri dan tiga anak­nya yang masing-masing telah berumah tangga. Konon Moses sengaja membangun rumah yang lapang supaya anak-anaknya tidak perlu mening­gal­kan rumah saat dewasa nanti; agar masa tua Moses Suhardi dan istrinya, Anung, tidak kesepian; agar para cucu leluasa berlarian di dalam rumah tanpa mengotori deng­kul.

Di depan batang hidung­nya, orang-orang memuji setengah iri akan keberhasilan Moses Suhardi membangun ”kerajaan” bagi keluarganya. Di belakang, orang-orang mencemooh empat rumah tangga yang berbagi satu atap bersama seperti ikan-ikan dalam kaleng.

Dinar Suhardi menyadari cemoohan ini. Bukannya ia betah dan nyaman saja tinggal serumah dengan orang tua dan kedua kakak serta pasang­an-pasangan mereka. Namun, penghasilan suaminya sebagai guru honorer memang belum me­mungkinkan untuk meng­am­­bil KPR atau sekadar ngontrak.

Maka dua bulan setelah pin­dah dari kos-kosan ke rumah orang tuanya yang mirip bahtera itu, Dinar melamar pekerjaan di toko kelontong milik Hajah Nur. Kabar ini menggemparkan warga dan menampar harga diri Moses.

Hajah Nur barangkali pedagang tersukses di Dumoga saat ini, tapi di masa lalu ia per­nah punya utang pada Anung. Lagi pula apakah pantas seorang sarjana bekerja mengatur-atur pajangan di toko yang bukan miliknya sendiri?

”Gajiku dua juta di toko itu dibandingkan gaji Gala cuma tujuh ratus ribu sebulan,” Dinar membela diri.

 

Moses berencana menjual salah satu tanah ladangnya yang sudah jarang mengha­sil­kan panen demi memodali Dinar membuka toko sendiri. Sesungguhnya Dinar tak enak pada kedua kakaknya.

Padahal si sulung, Ayumi Suhardi, mus­tahil mengelola kebun. Kuku-kukunya selalu terawat cantik hasil polesan mahal dari salon kuku.

Kulitnya mulus berkat losion dosis tinggi. Suami Ayu­mi seorang anggota kepolisian yang bertugas di luar kota, hanya pulang dua bulan sekali, sedikit mustahil diandalkan menggarap kebun.

Di antara mereka bertiga si tengahlah yang lumayan dapat diandalkan. Namun, bela­kang­an pekerjaan di kebun harus terbengkalai sebab modalnya menipis setelah kalah judi daring berturut-turut.

Hosea tidak sepakat jika urusan per­kebunan diserahkan kepada saudara-saudara perempuan­nya. Perempuan hanya perlu sekolah dan bekerja di tempat berpendingin udara, tidak bekerja pun tak masalah selama nafkah dari gaji suami.

Hari pertama Dinar masuk kerja, Moses meneriakinya dari luar toko hingga urat-urat di leher lelaki paruh baya itu nyembul seperti relief. Orang-orang berkumpul, penasaran.

Di kejauhan, geledek memekak langit melatarbelakangi amarah Moses Suhardi. Hajah Nur menyuruh Dinar keluar meng­ha­dapi sang ayah. Namun, perempuan muda itu sembunyi di balik tumpukan ember dan panci, yakin ayahnya tak akan nekat, bahkan pada akhirnya akan pulang sendiri setelah letih teriak.

Dugaannya benar. Tak sampai setengah jam ke­mudian, Moses pulang disertai gerutu pedas dan langkah-langkah mengentak.

Setelah situasi tenang ter­ken­dali, Dinar melangkah keluar dan menengadah ke langit. Tam­pak gumpalan awan tebal nan gelap dan bisu, sesekali di­ikuti gemuruh di kejauhan. Se­bentar lagi hujan badai turun. Tepat ketika hujan deras baru saja mengguyur, ibunya mene­lepon, mengabarkan ayahnya jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri, dan itu salah Dinar.

Baca Juga :  Pulang tanpa Kampung Halaman

Hujan deras mengguyur berhari-hari, lalu berminggu-minggu, lalu berbulan-bulan. Hujan disertai gemuruh dan en­takan petir yang meman­car­kan cahaya dan garis-garis api di langit.

Moses terbaring sakit berhari-hari di bawah perawatan dan perhatian istri dan menantu –istri Hosea. Ayumi menghadiri pertemuan Bhayangkari sehingga tak dapat membantu mengurus sang ayah. Dinar sengaja dijauhkan dari sang ayah demi kebaikan bersama, tapi para cucu yang berisik dibiarkan berlarian dan tertawa-tawa di dekat kamar sang kakek.

Dinar menjauh ke dapur, terpaksa berhadapan dengan piring-piring kotor sekeluarga yang hampir setinggi tubuhnya. Meskipun setiap hari piring-piring dicuci, entah kenapa tum­pukannya selalu lebih ba­nyak daripada jumlah orang-orang serumah. Tetapi yang paling membikinnya heran, kenapa pekerjaan ini selalu menjadi tugas para perempuan?

 

Sejak kejayaan bisnis jual beli kopra Moses redup, mereka tak lagi pakai pembantu. Setiap makanan yang masuk ke perut seluruh anggota keluarga ada­lah hasil bisnis Anung sebagai rentenir.

Meskipun bunga yang diterapkan terbilang tinggi, ada saja orang-orang desa yang terpaksa berutang. Dinar per­nah melihat ibunya menyita motor, TV, kulkas, hingga ranjang tidur tetangga tersebab tak mampu lagi sekadar membayar bunga.

Anak si tetangga, Moneka, adalah te­man masa kecilnya. Kejadian ini membekukan pertemanan mereka. Makin sering Anung menyita barang-barang, makin tinggi pula kemungkinan Dinar kehilangan teman.

Seseorang datang selagi ia masih mencuci piring.

”Kamu dan Gala belum ada rencana ngekos lagi?” tanya Hosea sambil membuka tu­dung saji.

”Papa maunya kami tinggal di sini,” sahut Dinar tak acuh. Suara air keran ditingkahi suara hujan.

Hosea berkata, ”Nanti kalau tinggal mama di rumah ini, biar aku dan Jihan saja yang merawat mama dan mengurus rumah.”

Dinar mematikan keran, me­natap sang kakak. ”Emangnya sakit papa separah itu?”

”Kamu tidak perhatikan se­ta­hun ini dia sudah lima kali kumat?”

Dinar mengelapi tangan yang basah dengan serbet, lalu bersandar di pinggiran bak cuci piring. ”Aku enggak mau tinggal di sini selamanya. Nanti aku minta modal ke mama buat nyicil rumah di kota.”

Hosea pura-pura tersedak. ”Modal? Gila, aku aja anak laki tidak menuntut modal.”

”Kamu kan dapat rumah ini.”

”Rumah ini mau aku jadikan kos-kosan. Kamar-kamarnya mau ditambah. Aku akan jual dua ladang buat renovasi.”

”Papa bilang aku akan dikasih modal kalau salah satu ladang laku terjual. Siapa tahu Hajah Nur tertarik.”

”Omong kosong.” Hosea ber­diri sambil menatap sang adik dengan pandangan men­ce­mooh. ”Kamu punya suami. Biar suami kamu yang me­mikirkan rumah dan modal buatmu. Lihat Ayumi tuh.”

Setelah mengatakan itu, Ho­sea meninggalkan dapur de­ngan langkah-langkah tegas. Dinar membalik badan ke arah bak cuci piring kembali, namun benaknya kini terganggu oleh pertengkaran kecil itu.

Gelom­bang panas merayapi rongga dadanya. Baru saja ia menya­lakan keran dengan jengkel, pipa air tiba-tiba patah. Air memancur dalam tekanan keras ke arah wajahnya. Ia tak sempat menghindar. Rambut dan bajunya basah kuyup bah­kan sebelum ia sadar apa yang terjadi. Ia menjauh dari keran yang bocor, kelimpungan mencari sesuatu untuk me­nyum­bat. Ia menemukan ser­bet, tapi air gagal dihentikan. Me­nyumbat pakai kanebo bahkan lebih parah sebab kanebo yang licin tidak bisa bertahan di ujung pipa dengan tekanan air tinggi.

Dinar mulai memanggil-manggil ibunya dan Jihan. Mereka datang de­ngan tergopoh, mengira ada kebocoran tabung gas atau semacamnya. Ekspresi ngeri tergambar di wajah kedua perempuan itu melihat kondisi dapur. Pada akhirnya ketiga perempuan itu basah kuyup karena berusaha meng­hen­tikan guyuran air.

Baca Juga :  Fatamorgana Don Quixote

Setelah satu bulan hujan masih berlangsung, hanya berhenti dua atau tiga jam se­be­lum mengguyur lagi. Sungai-sungai meluap dan meng­ha­nyutkan pohon-pohon serta ternak warga. Ladang-ladang perkebunan terendam dan tenggelam di bawah genangan air.

Air sungai keruh kecokelatan dan berarus deras. Para warga yang tinggal di hilir sungai di­peringatkan agar tidak berdiri dekat tebing. Banjir bukan lagi sekadar peringatan. Di desa-desa tetangga banjir bahkan telah di depan mata. Mengingat hujan terus mengguyur, banjir akan merata di seluruh ke­ca­matan.

Orang-orang meng­ung­si di balai desa, atap-atap gereja, masjid, rumah-rumah dua lantai, sampai pohon durian, tapi ternyata air terus menjangkau ketinggian. Ketika tembok bendungan rumpal, air mengempas me­nenggelam­kan permukiman warga.

Semula rumah Moses adalah rumah terakhir yang bertahan di tengah luapan banjir. Na­mun, kurang dari 24 jam ke­mu­dian lantai mulai berderak dan bangunan rumah ber­gun­cang.

Saat itu Moses sudah baikan, tapi setengah tubuhnya mengalami lumpuh. Ayumi, Ivan sang suami, dan kedua anak mereka kebetulan baru tiba satu minggu lalu. Ketika peringatan banjir digaungkan pertama kali, mereka hendak kembali ke tempat Ivan ber­tu­gas, tapi jalan penghubung antarkota terhalang longsor.

Maka Ayumi dan keluarga kecilnya kembali ke rumah bahtera sang ayah. Hosea dan Jihan sama tak bisa ke mana-mana, begitu pula Dinar dan Gala. Mereka semua mengungsi di lantai dua rumah bahtera itu, berharap dinding-dinding lantai satu cukup kokoh untuk bertahan sampai air surut. Harapan yang tidak pernah jadi kenyataan.

Tepat tengah malam, rumah itu tercerabut dari struktur fondasi. Dalam satu dorongan berkekuatan magis dari bawah permukaan air, rumah itu te­rangkat, kini benar-benar men­­jadi bahtera.

Di atasnya Moses yang setengah lumpuh, istri, ketiga anak dan ketiga menantu, serta para cucu ber­pegangan di kusen-kusen pin­tu, jendela, dan langkang. Saat itu ketinggian air me­nya­mai bukit-bukit dan pegu­nung­an. Sejauh matamemandang, tak tampak lagi apa-apa di se­keliling mereka kecuali per­airan berwarna cokelat yang terus bergerak, menyeret bah­tera itu tanpa arah.

Arus dan gelombang air mem­buat bahtera sesekali ber­­guncang hebat. Moses sekeluarga terseret kian kemari, tersaruk-saruk mencoba berdiri sebelum rumpal kembali. Anak-anak dan para perem­puan menangis. Bahtera men­capai kemiringan yang me­ngerikan. ­Yang tak sanggup berpegangan erat akan jatuh ke dalam air, hilang untuk se­lamanya.

Moses orang pertama yang nyemplung ke dalam air, disusul Ivan, disusul Hosea, lalu yang terakhir Gala. Anung menatap kepergian suami, kedua menantu, dan anak ke­sa­yangannya dengan pe­rasaan tawar. Cucu yang paling kecil berpelukan di tubuhnya, geme­tar tapi sekuat akar beringin.

Dinar memejamkan mata erat-erat, tak tahan melihat lebih banyak kematian. Betapa ingin ia menyusul Gala ke dalam arus pusaran, tapi ia tak punya nyali. Padahal ha­rapan hidup setipis jaring la­ba-laba.

Ditatapnya keluar­ganya yang tersisa: Anung, Ayumi, Jihan, dan anak-anak. Jika satu orang saja terjatuh lagi, ia tak akan ragu untuk me­lepaskan pegangan. Na­mun, mereka yang tersisa sang­­gup berpegangan di pagar langkang berminggu-minggu kemudian hingga kemiringan bahtera berkurang.

Saat itu semua orang sudah mati rasa untuk sekadar merasa sedih atas kehilangan. Pada hari ke­empat puluh, air akhirnya surut dan bahtera itu terdampar di kaki gunung. Empat perem­puan dan lima anak kecil.

Konon mereka bertahan de­ngan meng­gasak apa saja yang mengapung di air, termasuk burung-burung yang singgah memijakkan kaki di geladak.

Ketika ditemukan, kondisi mereka mengenaskan tinggal tulang berbalut kulit, tapi aneh­nya, masih bernapas. Berpa­sang-pasang mata berbinar memancarkan ke­hidupan. (*)

Terpopuler

Artikel Terbaru