26.5 C
Jakarta
Saturday, February 28, 2026

Menjaga Kesucian Ramadan Tanpa Melukai Kemanusiaan

SIANG hari bulan Ramadan selalu memiliki suasana yang khas di banyak kota dan desa di Indonesia. Jalanan mungkin tidak seramai hari biasa. Sebagian rumah makan menutup tirai. Di sudut-sudut kampung, aroma masakan mulai terasa menjelang sore. Di masjid dan mushala, aktivitas ibadah meningkat.

Namun pada saat yang sama, kehidupan tetap berjalan. Pedagang tetap mencari nafkah. Pekerja tetap menjalankan tugas. Masyarakat menjalani realitas sosial yang beragam. Dalam ruang sosial yang kompleks inilah Ramadhan diuji, bukan hanya sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai praktik kemanusiaan.

Ramadan adalah momentum spiritual sekaligus momentum sosial ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Perputaran ekonomi selama Ramadhan 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 750 triliun. Penghimpunan zakat nasional juga terus meningkat setiap tahun dan telah mencapai puluhan triliun rupiah.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah individual. Ramadhan adalah peristiwa sosial besar yang menggerakkan solidaritas, redistribusi kesejahteraan, dan penguatan kohesi sosial masyarakat.

Besarnya energi sosial Ramadhan seharusnya tecermin dalam praktik kemanusiaan di ruang publik. Namun dalam beberapa kasus, masih muncul praktik-praktik ekstrem yang justru bertentangan dengan esensi kemanusiaan Ramadhan.

Salah satu fenomena yang kerap muncul adalah tindakan razia terhadap warung makan yang buka pada siang hari dengan dalih menjaga kesucian bulan suci. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan moral yang penting.

Apakah kesucian Ramadan memang harus dijaga melalui tekanan sosial. Ataukah kesucian Ramadhan justru lahir dari kesadaran moral, keteladanan sosial, dan penguatan empati kemanusiaan.

Electronic money exchangers listing

Puasa pada hakikatnya adalah latihan pengendalian diri. Puasa mengajarkan manusia untuk menahan lapar, menahan amarah, menahan ego, dan menahan dorongan untuk merasa paling benar. Dalam perspektif etika keagamaan, ibadah yang dipaksakan melalui tekanan sosial kehilangan dimensi spiritualnya.

Puasa tidak pernah dimaksudkan sebagai proyek pengawasan sosial. Puasa adalah proses pembentukan kesadaran moral personal yang kemudian memancar menjadi kesalehan sosial.

Kesalahan memahami makna puasa dapat melahirkan praktik ekstremisme moral dalam kehidupan sehari hari. Ekstremisme ini sering tidak hadir dalam bentuk kekerasan besar, tetapi muncul dalam bentuk tekanan sosial, penghakiman moral, dan tindakan yang mengabaikan martabat manusia. Ketika semangat beribadah berubah menjadi keinginan mengontrol perilaku orang lain secara paksa, maka esensi spiritual Ramadan mulai bergeser.

Ramadan seharusnya menjadi bulan rahmah. Rahmah bukan hanya berarti kasih sayang kepada sesama Muslim, tetapi kepada seluruh manusia. Dalam realitas sosial, tidak semua orang berpuasa karena berbagai alasan. Ada alasan kesehatan. Ada alasan pekerjaan.

Baca Juga :  Keadilan dalam Investasi

Ada alasan kondisi biologis. Ada pula masyarakat non Muslim yang tetap hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama. Ramadhan seharusnya memperkuat empati sosial terhadap keragaman kondisi manusia, bukan menjadi ruang penghakiman sosial.

Salah satu kekuatan terbesar Ramadhan justru terletak pada tradisi berbagi. Pembagian takjil gratis di jalan, peningkatan zakat, sedekah, dan infak, serta berbagai gerakan bantuan sosial menunjukkan bahwa Ramadhan bekerja sebagai mekanisme redistribusi sosial yang nyata.

Dalam banyak kasus, redistribusi ini terjadi tanpa birokrasi yang rumit. Bantuan mengalir langsung dari masyarakat kepada masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial dapat lahir dari kesadaran moral kolektif.

Redistribusi sosial Ramadhan memiliki dampak psikologis yang sangat kuat. Kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih terdorong untuk berbagi. Kelompok rentan merasa diperhatikan.

Kelas menengah merasakan identitas kolektif sebagai bagian dari komunitas moral yang saling menjaga. Inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai ruang perjumpaan sosial lintas kelas yang sangat jarang terjadi di bulan lain.

Ramadhan juga memiliki kekuatan mereduksi sekat sosial ekonomi. Dalam banyak kegiatan buka puasa bersama, orang dari berbagai latar belakang duduk berdampingan.

Masjid menjadi ruang sosial egaliter yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat tanpa sekat status sosial. Pengalaman kesetaraan sosial ini membangun kesadaran bahwa pada dasarnya manusia memiliki martabat yang sama.

Lebih jauh lagi, Ramadhan sebenarnya merupakan laboratorium sosial bagi pembangunan kepercayaan sosial. Dalam kehidupan sehari hari, kepercayaan sosial terbentuk ketika masyarakat yakin bahwa orang lain memiliki kepedulian terhadap kepentingan bersama. Tradisi berbagi di bulan Ramadhan memperkuat keyakinan bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, tetapi komunitas moral yang saling menjaga.

Kepercayaan sosial yang kuat akan menurunkan potensi konflik sosial. Kepercayaan sosial memperkuat solidaritas. Kepercayaan sosial meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial. Ramadhan memberikan latihan tahunan bagi masyarakat untuk memperkuat ekosistem kepercayaan ini.

Namun praktik-praktik ekstrem seperti razia sosial justru berpotensi merusak kepercayaan tersebut. Ketika agama tampil dalam bentuk tekanan sosial, yang muncul bukan rasa hormat, tetapi ketakutan dan resistensi.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat beragam, pendekatan humanis dalam Ramadhan menjadi sangat penting. Ramadhan harus menjadi ruang empati sosial yang memperkuat persatuan masyarakat.

Kesalehan publik tidak boleh dibangun dengan mengorbankan martabat kemanusiaan. Jika agama hadir sebagai kekuatan moral yang mempersatukan, maka agama akan semakin dihormati. Namun jika agama dipersepsikan sebagai alat tekanan sosial, maka jarak psikologis masyarakat terhadap agama bisa semakin melebar.

Baca Juga :  Ekonomi Kreatif sebagai Penguatan Ekonomi Daerah

Tradisi sosial Ramadhan di Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan budaya yang sangat besar. Di banyak desa, masyarakat berbagi makanan kepada tetangga tanpa melihat latar belakang ekonomi. Di lingkungan perkotaan, komunitas warga mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Di banyak daerah, tradisi sahur dan buka bersama menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat relasi kemasyarakatan. Nilai nilai ini merupakan kekayaan sosial bangsa yang harus dijaga.

Ramadhan juga mengajarkan bahwa kesalehan ritual harus melahirkan kesalehan sosial. Ibadah puasa bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia lain. Jika seseorang rajin berpuasa tetapi tidak memiliki empati sosial, maka esensi puasa belum sepenuhnya tercapai.

Kedepan, narasi Ramadhan perlu diarahkan pada penguatan kesadaran moral, bukan penguatan kontrol sosial. Negara, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan media memiliki peran penting dalam membangun narasi Ramadhan yang humanis. Ramadhan harus dipahami sebagai bulan pembelajaran empati sosial, bukan bulan penertiban moral secara paksa.

Jika nilai nilai solidaritas Ramadhan dapat dipertahankan sepanjang tahun, maka Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar. Filantropi keagamaan dapat menjadi pilar ekonomi sosial. Tradisi berbagi dapat menjadi budaya nasional. Kepercayaan sosial dapat menjadi fondasi stabilitas sosial dan pembangunan bangsa.

Pada akhirnya, kesucian Ramadhan tidak diukur dari seberapa banyak larangan yang ditegakkan di ruang publik. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa dalam empati sosial tumbuh dalam masyarakat. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa besar kepedulian sosial meningkat. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa banyak manusia merasa dimanusiakan.

Ramadan adalah momentum spiritual sekaligus momentum peradaban. Jika Ramadhan mampu menjadi ruang perjumpaan spiritual dan kemanusiaan sekaligus, maka Ramadhan tidak hanya suci secara ritual, tetapi juga suci secara sosial.

Menjaga kesucian Ramadhan berarti menjaga kemuliaan manusia. Dan menjaga kemuliaan manusia adalah fondasi utama peradaban bangsa yang berkeadaban. Jika kesadaran ini tumbuh secara kolektif, maka Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi sumber energi moral bagi masa depan Indonesia.

*) Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed, Ph.D. saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Kementerian Agama (Kemenag)

SIANG hari bulan Ramadan selalu memiliki suasana yang khas di banyak kota dan desa di Indonesia. Jalanan mungkin tidak seramai hari biasa. Sebagian rumah makan menutup tirai. Di sudut-sudut kampung, aroma masakan mulai terasa menjelang sore. Di masjid dan mushala, aktivitas ibadah meningkat.

Namun pada saat yang sama, kehidupan tetap berjalan. Pedagang tetap mencari nafkah. Pekerja tetap menjalankan tugas. Masyarakat menjalani realitas sosial yang beragam. Dalam ruang sosial yang kompleks inilah Ramadhan diuji, bukan hanya sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai praktik kemanusiaan.

Ramadan adalah momentum spiritual sekaligus momentum sosial ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Perputaran ekonomi selama Ramadhan 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 750 triliun. Penghimpunan zakat nasional juga terus meningkat setiap tahun dan telah mencapai puluhan triliun rupiah.

Electronic money exchangers listing

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah individual. Ramadhan adalah peristiwa sosial besar yang menggerakkan solidaritas, redistribusi kesejahteraan, dan penguatan kohesi sosial masyarakat.

Besarnya energi sosial Ramadhan seharusnya tecermin dalam praktik kemanusiaan di ruang publik. Namun dalam beberapa kasus, masih muncul praktik-praktik ekstrem yang justru bertentangan dengan esensi kemanusiaan Ramadhan.

Salah satu fenomena yang kerap muncul adalah tindakan razia terhadap warung makan yang buka pada siang hari dengan dalih menjaga kesucian bulan suci. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan moral yang penting.

Apakah kesucian Ramadan memang harus dijaga melalui tekanan sosial. Ataukah kesucian Ramadhan justru lahir dari kesadaran moral, keteladanan sosial, dan penguatan empati kemanusiaan.

Puasa pada hakikatnya adalah latihan pengendalian diri. Puasa mengajarkan manusia untuk menahan lapar, menahan amarah, menahan ego, dan menahan dorongan untuk merasa paling benar. Dalam perspektif etika keagamaan, ibadah yang dipaksakan melalui tekanan sosial kehilangan dimensi spiritualnya.

Puasa tidak pernah dimaksudkan sebagai proyek pengawasan sosial. Puasa adalah proses pembentukan kesadaran moral personal yang kemudian memancar menjadi kesalehan sosial.

Kesalahan memahami makna puasa dapat melahirkan praktik ekstremisme moral dalam kehidupan sehari hari. Ekstremisme ini sering tidak hadir dalam bentuk kekerasan besar, tetapi muncul dalam bentuk tekanan sosial, penghakiman moral, dan tindakan yang mengabaikan martabat manusia. Ketika semangat beribadah berubah menjadi keinginan mengontrol perilaku orang lain secara paksa, maka esensi spiritual Ramadan mulai bergeser.

Ramadan seharusnya menjadi bulan rahmah. Rahmah bukan hanya berarti kasih sayang kepada sesama Muslim, tetapi kepada seluruh manusia. Dalam realitas sosial, tidak semua orang berpuasa karena berbagai alasan. Ada alasan kesehatan. Ada alasan pekerjaan.

Baca Juga :  Keadilan dalam Investasi

Ada alasan kondisi biologis. Ada pula masyarakat non Muslim yang tetap hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama. Ramadhan seharusnya memperkuat empati sosial terhadap keragaman kondisi manusia, bukan menjadi ruang penghakiman sosial.

Salah satu kekuatan terbesar Ramadhan justru terletak pada tradisi berbagi. Pembagian takjil gratis di jalan, peningkatan zakat, sedekah, dan infak, serta berbagai gerakan bantuan sosial menunjukkan bahwa Ramadhan bekerja sebagai mekanisme redistribusi sosial yang nyata.

Dalam banyak kasus, redistribusi ini terjadi tanpa birokrasi yang rumit. Bantuan mengalir langsung dari masyarakat kepada masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial dapat lahir dari kesadaran moral kolektif.

Redistribusi sosial Ramadhan memiliki dampak psikologis yang sangat kuat. Kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih terdorong untuk berbagi. Kelompok rentan merasa diperhatikan.

Kelas menengah merasakan identitas kolektif sebagai bagian dari komunitas moral yang saling menjaga. Inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai ruang perjumpaan sosial lintas kelas yang sangat jarang terjadi di bulan lain.

Ramadhan juga memiliki kekuatan mereduksi sekat sosial ekonomi. Dalam banyak kegiatan buka puasa bersama, orang dari berbagai latar belakang duduk berdampingan.

Masjid menjadi ruang sosial egaliter yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat tanpa sekat status sosial. Pengalaman kesetaraan sosial ini membangun kesadaran bahwa pada dasarnya manusia memiliki martabat yang sama.

Lebih jauh lagi, Ramadhan sebenarnya merupakan laboratorium sosial bagi pembangunan kepercayaan sosial. Dalam kehidupan sehari hari, kepercayaan sosial terbentuk ketika masyarakat yakin bahwa orang lain memiliki kepedulian terhadap kepentingan bersama. Tradisi berbagi di bulan Ramadhan memperkuat keyakinan bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, tetapi komunitas moral yang saling menjaga.

Kepercayaan sosial yang kuat akan menurunkan potensi konflik sosial. Kepercayaan sosial memperkuat solidaritas. Kepercayaan sosial meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial. Ramadhan memberikan latihan tahunan bagi masyarakat untuk memperkuat ekosistem kepercayaan ini.

Namun praktik-praktik ekstrem seperti razia sosial justru berpotensi merusak kepercayaan tersebut. Ketika agama tampil dalam bentuk tekanan sosial, yang muncul bukan rasa hormat, tetapi ketakutan dan resistensi.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat beragam, pendekatan humanis dalam Ramadhan menjadi sangat penting. Ramadhan harus menjadi ruang empati sosial yang memperkuat persatuan masyarakat.

Kesalehan publik tidak boleh dibangun dengan mengorbankan martabat kemanusiaan. Jika agama hadir sebagai kekuatan moral yang mempersatukan, maka agama akan semakin dihormati. Namun jika agama dipersepsikan sebagai alat tekanan sosial, maka jarak psikologis masyarakat terhadap agama bisa semakin melebar.

Baca Juga :  Ekonomi Kreatif sebagai Penguatan Ekonomi Daerah

Tradisi sosial Ramadhan di Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan budaya yang sangat besar. Di banyak desa, masyarakat berbagi makanan kepada tetangga tanpa melihat latar belakang ekonomi. Di lingkungan perkotaan, komunitas warga mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Di banyak daerah, tradisi sahur dan buka bersama menjadi ruang perjumpaan sosial yang mempererat relasi kemasyarakatan. Nilai nilai ini merupakan kekayaan sosial bangsa yang harus dijaga.

Ramadhan juga mengajarkan bahwa kesalehan ritual harus melahirkan kesalehan sosial. Ibadah puasa bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia lain. Jika seseorang rajin berpuasa tetapi tidak memiliki empati sosial, maka esensi puasa belum sepenuhnya tercapai.

Kedepan, narasi Ramadhan perlu diarahkan pada penguatan kesadaran moral, bukan penguatan kontrol sosial. Negara, tokoh agama, organisasi masyarakat, dan media memiliki peran penting dalam membangun narasi Ramadhan yang humanis. Ramadhan harus dipahami sebagai bulan pembelajaran empati sosial, bukan bulan penertiban moral secara paksa.

Jika nilai nilai solidaritas Ramadhan dapat dipertahankan sepanjang tahun, maka Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar. Filantropi keagamaan dapat menjadi pilar ekonomi sosial. Tradisi berbagi dapat menjadi budaya nasional. Kepercayaan sosial dapat menjadi fondasi stabilitas sosial dan pembangunan bangsa.

Pada akhirnya, kesucian Ramadhan tidak diukur dari seberapa banyak larangan yang ditegakkan di ruang publik. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa dalam empati sosial tumbuh dalam masyarakat. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa besar kepedulian sosial meningkat. Kesucian Ramadhan diukur dari seberapa banyak manusia merasa dimanusiakan.

Ramadan adalah momentum spiritual sekaligus momentum peradaban. Jika Ramadhan mampu menjadi ruang perjumpaan spiritual dan kemanusiaan sekaligus, maka Ramadhan tidak hanya suci secara ritual, tetapi juga suci secara sosial.

Menjaga kesucian Ramadhan berarti menjaga kemuliaan manusia. Dan menjaga kemuliaan manusia adalah fondasi utama peradaban bangsa yang berkeadaban. Jika kesadaran ini tumbuh secara kolektif, maka Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi sumber energi moral bagi masa depan Indonesia.

*) Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag, M.Ed, Ph.D. saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Kementerian Agama (Kemenag)

Terpopuler

Artikel Terbaru

/