SUARA bentakan kerap lebih keras daripada azan Subuh. Seorang anak yang masih mengantuk diseret bangun untuk sahur. Di meja makan, dia menahan kantuk dan air mata sekaligus.
Siangnya, ketika tak kuat menahan lapar dan akhirnya membatalkan puasa, kemarahan orang tua meledak. Di banyak rumah, disiplin masih identik dengan hukuman: nada tinggi, ancaman, bahkan cubitan. Ramadhan yang semestinya menjadi sekolah kesabaran justru berubah menjadi arena pelampiasan emosi.
Fenomena ini bukan sekadar kesan sesaat. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai laporan tahunannya menunjukkan kekerasan dalam pengasuhan masih menjadi salah satu aduan terbanyak.
UNICEF juga berulang kali menegaskan bahwa kekerasan verbal membentak, mempermalukan, mengancam memiliki dampak psikologis jangka panjang pada anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kekerasan terhadap anak sebagai masalah kesehatan publik global yang memengaruhi perkembangan emosi, kognisi, dan relasi sosial mereka di masa depan. Kekerasan tidak selalu berbentuk pukulan; kata-kata yang merendahkan pun meninggalkan luka.
Ironisnya, praktik itu kerap dibungkus dengan dalih “demi disiplin”. Banyak orang tua meyakini bahwa tanpa tekanan, anak akan manja, malas, dan tak bertanggung jawab.
Ramadan kemudian dipandang sebagai momentum “melatih keras” agar anak kuat berpuasa. Ketika anak mengeluh lapar atau lelah, respons yang muncul sering kali bukan empati, melainkan kemarahan: “Masa begini saja tidak kuat?” Disiplin direduksi menjadi ketaatan tanpa dialog.
Padahal, jika kita jujur merenungi makna puasa, Ramadhan justru mengajarkan hal sebaliknya. Puasa adalah latihan pengendalian diri self-regulation yang tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan.
Orang dewasa menahan lapar bukan karena diawasi, melainkan karena memilih untuk taat. Nilai utama yang diasah adalah sabar, empati, dan kemampuan mengelola dorongan. Jika demikian, mengapa dalam mendidik anak kita justru kehilangan kendali atas emosi sendiri?
Penulis teringat kisah seorang ibu muda di sebuah kota besar. Dia bercerita bahwa setiap Ramadhan rumahnya selalu tegang. Anak sulungnya yang berusia delapan tahun kerap menangis saat sahur dan beberapa kali menyerah sebelum magrib. Sang ibu merasa gagal.
“Saya malu kalau anak saya tidak puasa penuh,” katanya. Suatu hari, setelah membentak anaknya karena diam-diam minum, dia melihat anak itu bersembunyi di kamar dengan wajah ketakutan. Dia tersadar: yang sedang dia bangun bukan disiplin, melainkan rasa takut.
Perubahan terjadi ketika dia memilih pendekatan berbeda. Si Ibu Muda itu mulai menjelaskan makna puasa dengan bahasa sederhana, memberi target bertahap setengah hari, lalu tiga perempat hari dan memberikan apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil.
Ketika anaknya mengeluh lapar, Si Ibu itu tidak lagi memarahi, tetapi mengajak berbincang tentang perasaan. Ramadhan berikutnya, suasana rumahnya jauh lebih tenang. Anak itu belum selalu puasa penuh, tetapi ia belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Kisah ini sederhana, tetapi memuat pelajaran penting: disiplin sejati lahir dari kesadaran dan relasi yang aman. Dalam psikologi perkembangan, anak belajar regulasi diri melalui co-regulation kemampuan orang tua membantu anak menamai dan mengelola emosi.
Jika orang tua merespons dengan kemarahan, anak belajar bahwa kekuatan adalah cara menyelesaikan masalah. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan keteguhan yang tenang, anak belajar bahwa disiplin adalah tentang konsistensi dan makna.
Ramadhan menyediakan laboratorium moral yang unik. Orang tua memiliki kesempatan emas untuk meneladankan bagaimana menahan amarah saat lapar, bagaimana tetap lembut meski lelah, dan bagaimana memprioritaskan ibadah di tengah kesibukan.
Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Jika setiap sore menjelang berbuka orang tua mudah tersulut emosi, pesan tentang kesabaran menjadi kontradiktif.
Tentu, membangun disiplin tanpa kekerasan bukan berarti tanpa batas. Anak tetap membutuhkan struktur: jadwal tidur yang lebih teratur agar kuat sahur, aturan penggunaan gawai agar tidak mengganggu ibadah, serta konsekuensi yang jelas ketika melanggar kesepakatan.
Namun, konsekuensi berbeda dari hukuman yang merendahkan. Konsekuensi bersifat logis dan disampaikan dengan hormat; hukuman sering kali lahir dari ledakan emosi.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua. Pertama, ubah orientasi dari “harus sempurna” menjadi “bertumbuh bertahap”. Tidak semua anak siap berpuasa penuh; kesiapan fisik dan psikologis berbeda-beda. Kedua, gunakan dialog sebagai alat utama. Tanyakan apa yang dirasakan anak, bukan hanya menuntut kepatuhan.
Ketiga, kelola ekspektasi sosial. Puasa anak bukan kompetisi yang harus diumumkan kepada tetangga atau media sosial. Keempat, latih diri untuk jeda sebelum bereaksi. Satu tarikan napas panjang sering kali menyelamatkan hubungan dari luka yang tak perlu.
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kekerasan dalam pengasuhan, Ramadhan dapat menjadi titik balik. Bulan ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan memaksa, melainkan pada kemampuan menahan diri.
Disiplin bukan tentang siapa yang paling ditakuti, tetapi siapa yang paling dipercaya.
Pada akhirnya, ujian parenting di bulan Ramadhan bukan hanya tentang apakah anak mampu berpuasa penuh, melainkan apakah orang tua mampu menjaga martabat anak dalam proses belajar itu.
Nilai-nilai yang kita tanamkan kesabaran, empati, pengendalian diri bukan hanya milik satu agama. Ia adalah fondasi kemanusiaan yang melintasi batas keyakinan.
Dunia yang lebih damai tidak lahir dari generasi yang dibesarkan dengan bentakan, tetapi dari rumah-rumah yang menjadikan disiplin sebagai wujud cinta.
Ramadhan akan berlalu. Pertanyaannya, apakah setelahnya kita tetap memilih mendidik dengan kesabaran, atau kembali pada pola lama yang melukai? Ujian itu, sesungguhnya, ada pada diri kita sendiri.
Buku Resep Kuliner Indonesia
*) Elinda Rizkasari, Dosen Prodi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta


