28.8 C
Jakarta
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Melihat Kegiatan Umat Muslim Saat Bulan Ramadan di Masjid Nurul Islam

Belajar Kitab Kuning Ala Pondok Pesantren Hingga Tadarus dan Tahsin

Bulan Ramadan menjadi momentum bagi Umat Islam untuk memperbanyak amal, ibadah dan menuntut ilmu. Di Masjid Nurul Islam, kegiatan ibadah sembari menuntut ilmu dikemas melalui Pesantren Kilat pada siang hari. Kaum muda hingga tua pun turut antusias untuk mengisi kegiatan Ramadan dengan belajar agama.

Muhammad Hafidz, Palangka Raya.

Di salah satu ruangan kelas di sekitar Masjid Nurul Islam tampak kalangan tua maupun muda membawa pegangan kitab untuk belajar. Mereka berjejer berbaris mendengarkan penjelasan dari guru terkait pelajaran agama. Terlihat suasana pondok pesantren ketika mereka belajar dengan menggunakan meja rehal dan duduk lesehan.

Salah satu pengurus sekretariat Masjid Nurul Islam, Muhammad Hasby mengatakan, kegiatan pesantren kilat dilaksanakan menggunakan sistem pondok pesantren dengan mempelajari kitab kuning dan belajar tadarus dan Tahsin pada jam 13.30 – 16.00 WIB.

Baca Juga :  Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putiih

“Kegiatannya itu mengaji kitab kuning ala pesantren dari sebelum ashar mulai setengah 2 sampai ashar. Setelah ashar sampai jam 4 itu kami tadarus dan Tahsin. Namanya Pesantren Kilat Rumah Tahfidz Nurul Islam. Alhamdulillah baru dimulai rumah tahfidz sejak Januari tadi, pondok pesantren Ramadan baru tahun ini,” ujarnya.

Perdana dibuka pesantren kilat tahun ini, sambung pria yang juga menjadi pengajar pesantren kilat tersebut mengungkapkan, sebanyak 18 orang yang ikut belajar di pesantren kilat tersebut. Kalangan muda hingga tua pun turut ikut belajar di Pesantren kilat.

“Ada umur 40 tahun 2 orang,sisanya rata -rata jenjang SMP,” imbuhnya.

Hasby menerangkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan positif sembari mengenalkan pesantren ke masyarakat Palangka Raya, yang diperuntukan bagi anak-anak yang belajar di sekolah formal dan belum merasakan belajar kitab kuning. Sehingga pada Ramadan, menjadi waktu luang untuk merasakan belajar dengan menggunakan kitab kuning ala pondok pesantren.

Baca Juga :  “Hanya Dua Keinginan Saya, Melayani Kalteng dan Memerangi Kemiskinan

“Jadi bagi yang lancar baca Alqurannya diminta untuk tadarus, kalau yang masih perlu perbaikan maka diminta untuk Tahsin dengan ustaznya,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, kegiatan pesantren kilat tersebut dilaksanakan selama 25 hari pada Ramadan. Mereka yang belajar di pesantren kilat Nurul Islam dikenakan biaya administrasi Rp 150.000 dengan fasilitas tiga kitab yang menjadi pegangan untuk belajar dan disediakan rehal, Alquran dan tempat belajar.

“Kitabnya Ad-durus Ramdhniyyah tentang khusus masalah puasa, kitabnya tentang saraf, yakni ilmu alat dalam pesantren atau ilmu kebahasaan dalam Bahasa arab untuk menentukan makna yang terdapat dalam Alquran ataupun hadis,” tandasnya.






Reporter: M Hafidz

Bulan Ramadan menjadi momentum bagi Umat Islam untuk memperbanyak amal, ibadah dan menuntut ilmu. Di Masjid Nurul Islam, kegiatan ibadah sembari menuntut ilmu dikemas melalui Pesantren Kilat pada siang hari. Kaum muda hingga tua pun turut antusias untuk mengisi kegiatan Ramadan dengan belajar agama.

Muhammad Hafidz, Palangka Raya.

Di salah satu ruangan kelas di sekitar Masjid Nurul Islam tampak kalangan tua maupun muda membawa pegangan kitab untuk belajar. Mereka berjejer berbaris mendengarkan penjelasan dari guru terkait pelajaran agama. Terlihat suasana pondok pesantren ketika mereka belajar dengan menggunakan meja rehal dan duduk lesehan.

Salah satu pengurus sekretariat Masjid Nurul Islam, Muhammad Hasby mengatakan, kegiatan pesantren kilat dilaksanakan menggunakan sistem pondok pesantren dengan mempelajari kitab kuning dan belajar tadarus dan Tahsin pada jam 13.30 – 16.00 WIB.

Baca Juga :  Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putiih

“Kegiatannya itu mengaji kitab kuning ala pesantren dari sebelum ashar mulai setengah 2 sampai ashar. Setelah ashar sampai jam 4 itu kami tadarus dan Tahsin. Namanya Pesantren Kilat Rumah Tahfidz Nurul Islam. Alhamdulillah baru dimulai rumah tahfidz sejak Januari tadi, pondok pesantren Ramadan baru tahun ini,” ujarnya.

Perdana dibuka pesantren kilat tahun ini, sambung pria yang juga menjadi pengajar pesantren kilat tersebut mengungkapkan, sebanyak 18 orang yang ikut belajar di pesantren kilat tersebut. Kalangan muda hingga tua pun turut ikut belajar di Pesantren kilat.

“Ada umur 40 tahun 2 orang,sisanya rata -rata jenjang SMP,” imbuhnya.

Hasby menerangkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan positif sembari mengenalkan pesantren ke masyarakat Palangka Raya, yang diperuntukan bagi anak-anak yang belajar di sekolah formal dan belum merasakan belajar kitab kuning. Sehingga pada Ramadan, menjadi waktu luang untuk merasakan belajar dengan menggunakan kitab kuning ala pondok pesantren.

Baca Juga :  “Hanya Dua Keinginan Saya, Melayani Kalteng dan Memerangi Kemiskinan

“Jadi bagi yang lancar baca Alqurannya diminta untuk tadarus, kalau yang masih perlu perbaikan maka diminta untuk Tahsin dengan ustaznya,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, kegiatan pesantren kilat tersebut dilaksanakan selama 25 hari pada Ramadan. Mereka yang belajar di pesantren kilat Nurul Islam dikenakan biaya administrasi Rp 150.000 dengan fasilitas tiga kitab yang menjadi pegangan untuk belajar dan disediakan rehal, Alquran dan tempat belajar.

“Kitabnya Ad-durus Ramdhniyyah tentang khusus masalah puasa, kitabnya tentang saraf, yakni ilmu alat dalam pesantren atau ilmu kebahasaan dalam Bahasa arab untuk menentukan makna yang terdapat dalam Alquran ataupun hadis,” tandasnya.






Reporter: M Hafidz
spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru