PROKALTENG.CO-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 7 April 2026.
Airlangga menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena tunggal, melainkan juga dialami oleh berbagai mata uang negara lain di tengah ketidakpastian global.
“Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain kan demikian,” ujar Airlangga di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Tekanan Terjadi Sejak Sesi Perdagangan
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak sesi perdagangan siang hingga sore hari. Nilai tukar sempat melemah hingga 75 poin sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp17.100 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar:
Kurs di Yahoo Finance menunjukkan rupiah di level Rp17.090 per dolar AS (melemah 58 poin)
Sementara kurs referensi JISDOR mencatat Rp17.092 per dolar AS (turun 55 poin)
Dipicu Ketidakpastian Global
Pelemahan ini mencerminkan tekanan global yang tengah dihadapi banyak negara berkembang. Sejumlah faktor utama yang memengaruhi antara lain:
Ketegangan geopolitik internasional
Pergerakan suku bunga global
Arus modal keluar dari pasar negara berkembang
Kondisi tersebut membuat mata uang seperti rupiah menjadi lebih rentan terhadap gejolak eksternal.
Pasar Tunggu Langkah Pemerintah dan BI
Di tengah situasi ini, pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari otoritas ekonomi, termasuk Bank Indonesia dan pemerintah, untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Upaya yang diharapkan meliputi:
- Intervensi di pasar valas
- Kebijakan suku bunga
- Penguatan cadangan devisa
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk meredam volatilitas yang berpotensi berdampak pada inflasi serta daya beli masyarakat.
Sinyal Kuat Dominasi Faktor Global
Pelemahan rupiah menjadi indikator bahwa dinamika global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar domestik. Tanpa strategi yang tepat, fluktuasi nilai tukar diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. (fin/jpg)


