PROKALTENG.CO-Empat kapal milik Pertamina, tepatnya PT Pertamina International Shipping (PIS), terjebak di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Pertamina pun terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh armada dan keselamatan pekerjanya yang berada di kawasan Timteng tersebut.
Empat kapal itu masing-masing Kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak.
Kedua, Kapal Pertamina Pride yang telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi.
Ketiga, Kapal PIS Rinjani yang saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan, UAE.
Keempat, Kapal PIS Paragon yang sedang discharge berada di Oman.
Pertamina menyatakan terus memantau dua kapal tanker milik PIS yang masih berada di Selat Hormuz, serta memastikan keselamatan awak kapal di tengah dinamika keamanan kawasan tersebut.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan total terdapat empat kapal terkait, namun dua kapal lainnya berada di luar Selat Hormuz.
“Untuk di Selat Hormuz, memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Sebenarnya ada empat, tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz,” kata Baron di Jakarta, Selasa (3/3).
Ia menegaskan hingga saat ini kondisi awak dan aset kapal dalam keadaan aman.
Pertamina juga terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Luar Negeri, untuk memastikan pengamanan berjalan baik. “Sampai dengan saat ini kondisi masih aman,” ujarnya.
Baron menyebutkan bahwa kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah saat ini sekitar 19 persen dari total impor minyak mentah ke Indonesia.
Menurut dia, Pertamina telah menyiapkan skema distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun darurat guna menjaga ketahanan energi nasional.
Ia menambahkan strategi pengadaan dan kemungkinan penyesuaian sumber pasokan masih berproses dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik.
“Saat ini untuk penyediaan energi kami melakukan beberapa strategi yang tentunya sedang berproses, baik melalui pola yang ada, dilakukan, dan juga kami melihat bahwa tata kelola tetap harus kita kedepankan,” tuturnya.
Adapun mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, Pertamina masih memantau dinamika harga minyak global sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
“Untuk tarif BBM ke depan, ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut,” ungkapnya.
Baron menegaskan stok energi untuk periode Ramadan dan Idulfitri telah disiapkan sebelumnya, dan mencukupi kebutuhan dalam negeri, sehingga masyarakat diminta tetap tenang dan bijak menggunakan energi.
“Kami sampaikan bahwa Pertamina siap menyalurkan energi ke seluruh masyarakat,” tegasnya.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute utama distribusi minyak mentah dunia.
Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah untuk diolah di kilang domestik, termasuk dari kawasan Timur Tengah.
Karena itu, dinamika keamanan di wilayah tersebut akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian dalam pengelolaan pasokan energi nasional. (ara/opi/jpg)


