PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO –Â Bulan suci Ramadhan selalu membawa keberkahan tersendiri, tak terkecuali bagi para pedagang penganan berbuka puasa.
Aroma manis nan legit dari ragam kue khas Banjar menjadi daya tarik yang tak pernah sepi pembeli saat sore tiba.
Hal ini sangat dirasakan oleh Junaidi (42), pedagang kue tradisional yang telah setia menyemarakkan pasar jajanan Ramadhan selama tujuh tahun terakhir.
Bersama sang istri, Nurbaitah (35), Junaidi berjualan di jalan G obos Induk dengan menyajikan deretan kue basah dengan cita rasa otentik.
Di lapaknya yang sederhana namun padat pembeli, warga dapat menemukan berbagai primadona takjil legendaris seperti Sari Muka, Lapis Pengantin, Lapis ketan, Sari India, Kararaban, Amparan Tatak, hingga Lapis Coklat.
Kelezatan wadai buatan Junaidi bukanlah tanpa alasan. Resep yang digunakannya merupakan warisan turun-temurun yang telah teruji waktu.
“Khas Banjar. Mamanya tuh lawas jualan, bisa 20 tahun lebih kalonya jualan,” ujar Junaidi saat ditemui di lapaknya, Rabu (25/2/2026).
Sebagai perantau asal Kelayan, Kota Banjarmasin, Junaidi tidak hanya mengadu nasib, tetapi juga turut merawat dan memperkenalkan kekayaan kuliner daerah asalnya di tanah rantau.
Kepiawaian keluarganya dalam mengolah adonan menjadikan kue buatannya memiliki pelanggan setia.
Meski menjadikan kue tradisional sebagai sumber penghidupan, Junaidi menerapkan strategi penjualan yang berbeda antara hari biasa dan bulan puasa.
Di luar bulan suci, ia memilih untuk tidak membuka lapak khusus.
“Biasanya tiap bulan puasa aja jualan di sini, memang lapak sini sudah tujuh tahun dari 2017 atau 2018-an lah. Kalau harian yang hari biasa kada puasa, kami nitip-nitip di warung aja,” ceritanya.
Keputusan untuk turun langsung menjaga lapak setiap Ramadhan terbukti menjadi langkah yang tepat.
Momen berburu takjil memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi perekonomian keluarganya.
Menurut Junaidi, antusiasme masyarakat untuk berbuka dengan yang manis-manis membuat pendapatannya meroket tajam.
“Terasa jauh perbedaannya. Peningkatannya bisa hampir tiga kali lipat dari hari biasa,” imbuhnya.
Bagi Junaidi dan Nurbaitah, Ramadhan jelas bukan sekadar ladang rezeki tahunan.
Di balik setiap loyang wadai yang ludes terjual jelang azan Magrib, terdapat sepasang perantau yang terus menjaga tradisi dan merawat cita rasa leluhur Banjar agar tak lekang oleh zaman. (her)


