DALAM kehidupan manusia, terdapat banyak nikmat yang sering kali tidak disadari keberadaannya.
Salah satu anugerah besar yang diberikan Allah SWT adalah kemampuan untuk mengingat dan melupakan.
Kedua kemampuan ini bukan sekadar fungsi pikiran, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang menjaga keseimbangan jiwa dan keberlangsungan hidup manusia.
Nikmat Ingatan sebagai Sarana Belajar dan Bertumbuh
Kemampuan mengingat merupakan karunia yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Dengan ingatan, seseorang dapat mengenali lingkungan sekitarnya, memahami pengalaman yang telah dilalui, serta mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
Ingatan memungkinkan manusia menyimpan ilmu pengetahuan, membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, serta membangun peradaban dari generasi ke generasi.
Melalui ingatan pula manusia mampu mengenali keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarnya.
Ia dapat memahami identitas dirinya, merencanakan masa depan, serta mengambil keputusan berdasarkan pengalaman yang pernah dialami.
Kemampuan ini menunjukkan betapa sempurnanya Allah SWT menciptakan manusia dengan potensi akal dan kesadaran.
Allah SWT berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Ayat tersebut menegaskan bahwa kemampuan memahami, mengingat, dan belajar merupakan karunia yang diberikan Allah agar manusia dapat berkembang dan mensyukuri nikmat-Nya.
Hikmah di Balik Kemampuan Melupakan
Di balik kemampuan mengingat, manusia juga dianugerahi kemampuan untuk melupakan. Sekilas, lupa sering dianggap sebagai kelemahan atau kekurangan.
Namun sesungguhnya, kemampuan melupakan memiliki hikmah besar dalam menjaga ketenangan hidup manusia.
Tanpa kemampuan lupa, manusia akan terus terikat pada kesedihan, trauma, dan penderitaan masa lalu.
Luka batin yang tidak terlupakan dapat menjadi beban berat yang menghalangi seseorang untuk melangkah maju.
Oleh karena itu, kemampuan melupakan menjadi bentuk kasih sayang Allah agar manusia dapat bangkit dari kesulitan dan melanjutkan kehidupannya.
Dengan melupakan sebagian rasa sakit, manusia mampu memulai kembali kehidupan dengan harapan baru, memperbaiki keadaan, dan merasakan kebahagiaan setelah kesulitan.
Allah SWT juga mengingatkan sifat manusia yang memiliki potensi lupa dalam firman-Nya:
“Dan sungguh, telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, tetapi ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Taha: 115)
Ayat ini menunjukkan bahwa lupa merupakan bagian dari sifat manusia yang telah ditetapkan dalam hikmah penciptaan-Nya.
Keseimbangan Batin antara Ingatan dan Lupa
Kemampuan mengingat dan melupakan sejatinya merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Ingatan menjaga pengetahuan dan pengalaman, sedangkan lupa membantu manusia melepaskan beban yang menyakitkan. Keduanya bekerja bersama untuk menjaga keseimbangan batin manusia.
Dengan ingatan, manusia belajar dan berkembang. Dengan lupa, manusia memperoleh ketenangan dan kekuatan untuk bangkit.
Tanpa keseimbangan ini, kehidupan manusia akan dipenuhi tekanan yang sulit ditanggung.
Keselarasan tersebut menunjukkan adanya pengaturan yang sangat teliti dalam diri manusia.
Setiap kemampuan, baik fisik maupun batin, memiliki fungsi yang saling mendukung demi menjaga keberlangsungan hidup.
Tanda Kebesaran Allah dalam Sistem Kehidupan Manusia
Keseluruhan sistem dalam diri manusia, mulai dari naluri dasar, kemampuan berpikir, hingga daya ingat dan lupa, menunjukkan bahwa kehidupan manusia berjalan dalam keseimbangan yang luar biasa.
Tidak ada satu pun kemampuan yang diciptakan tanpa tujuan.
Allah SWT berfirman: “Yang menciptakan lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 2–3)
Ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia diatur dengan ketentuan yang penuh hikmah dan kesempurnaan.
Melalui pengamatan terhadap kemampuan mengingat dan melupakan, manusia dapat memahami bahwa dirinya diciptakan dengan sistem yang sangat teratur dan seimbang.
Semua itu menjadi bukti kebesaran Allah SWT yang mengatur setiap detail kehidupan manusia dengan penuh kasih sayang.
Oleh karena itu, manusia sepatutnya menyadari nikmat tersebut, bersyukur atas kemampuan yang dimiliki, serta menggunakan akal dan ingatannya untuk kebaikan.
Dalam keseimbangan antara ingatan dan lupa itulah manusia menemukan ketenangan hidup sekaligus tanda kebesaran Sang Pencipta. (top/jpg)


