25.1 C
Jakarta
Wednesday, June 26, 2024
spot_img

Edisi Kedua Pameran tENg: Haus Akan Hiburan Berbeda

Di edisi kedua pameran seni rupa bertajuk tENg, dua perupa Kalsel, Badri Hurmansyah dan Umar Sidiq berupaya menjawab keinginan generasi muda.

****
PAMERAN masih menempati Sanggar Lukis Sholihin di Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basry, Banjarmasin Utara.

Berbeda dari edisi perdana yang dihelat pada 14 Maret sampai 7 April 2024 lalu, ruang utama yang memajang puluhan karya itu sekarang disekat-sekat.

Bila kemarin pencahayaannya terang benderang, pameran kali ini menghadirkan dua sisi: terang dan gelap.

Di sisi gelap, lukisan yang terpampang cenderung menyajikan suasana yang dingin, tapi menyentak.

Lukisan-lukisan itu menyala dalam gelap. Cat ultraviolet yang dipakai, tampak mewah ketika disorot lampu biru dan merah.

Jumat (19/4) petang, mayoritas pengunjung adalah anak muda. Salah satunya Zannuba. Sebagai pelukis pemula, pameran itu menurutnya bisa menjadi referensi.

“Karya-karya yang dipajang memang memukau. Wajar, karena dihasilkan pelukis senior,” ungkap mahasiswi Jurusan Administrasi Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu.

Sejak 2023 lalu, perempuan asal Tapin itu tak pernah absen mendatangi pameran seni rupa.

Baginya, mendatangi pameran adalah suntikan penyemangat. “Saya bisa belajar sambil mencari pengalaman,” katanya.

“Semoga ke depan pameran serupa bisa lebih sering digelar,” tutup Zannuba.

Pameran kedua ini digelar 15-30 April 2024. Karya yang dipajang di edisi II, sedikit berbeda dari edisi I. Ada tambahan sejumlah lukisan dari Badri Hurmansyah dan Umar Sidiq. Lalu, kebanyakan karya yang dipajang mengusung genre realis.

Baca Juga :  Seni Tak Lagi Dipandang Eksklusif

Selain itu, juga disediakan pojok apresiasi. Pengunjung pameran bisa menuangkan ekspresinya di atas sebuah kanvas kosong. Di situ disediakan kuas dan cat.

Di sela pameran, kepada penulis, Badri Hurmansyah menuturkan edisi kedua ini menjawab keinginan pengunjung di edisi perdana.

“Pengunjung menginginkan suasana yang lebih santai dan nyaman dalam menikmati karya,” ucapnya.

Maklum, edisi perdana digelar pada bulan Ramadan. Waktu kunjungan pun terbilang singkat.
“Dalam sehari hanya dibuka selama dua jam saja,” ungkapnya.

Kemarin, interaksi antara perupa dengan pengunjung juga lebih banyak di luar pameran. Kini, lebih banyak interaksi di dalam ruang pameran.

“Bisa dilihat dari tata cahaya yang digunakan,” ujarnya.

Badri masih mengusung misi yang sama. Ia ingin mengabarkan bahwa dunia seni rupa telah berubah.

“Saat ini targetnya tidak hanya penikmat seni. Kami pengin orang yang tertarik mengetahui seni juga bisa datang,” ujarnya.

“Kami juga ingin menyampaikan bahwa di ruang sempit dan terbatas pun bisa dihasilkan suguhan berkualitas,” tekannya.

Sementara Umar Sidiq tak menyangka antusiasme pengunjung begitu luar biasa. Diceritakannya, pameran pertama menyedot 1.500 pengunjung.

“Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka cari. Tapi saya menangkap, mereka yang datang adalah mereka yang ‘haus’ dengan hiburan berbeda,” katanya.

Baca Juga :  Eksplorasi Seni Lintas Disiplin dalam Pameran Seni Kolektif Continuum

Umar bersyukur, selain banyak pengunjung, beberapa lukisan juga laku terjual.

“Ada dua yang terjual. Lukisan berjudul Damang Einstein dan Tergerus Daratan,” tutupnya.

Pengunjung Awam pun Puas

Sampai petang, pameran masih ramai. Di luar gedung, pengunjung mengantre mengisi buku tamu dan registrasi.

Di dalam ruang pameran juga tak kalah sibuk. Ada yang duduk sembari mengobrol, ada yang asyik berswafoto.

Risa dan Gita adalah dua di antaranya. Risa adalah mahasiswi Poliban, sedangkan Gita adalah mahasiswi ULM.

Keduanya sepakat, Banjarmasin butuh lebih banyak pameran seni rupa. “Sering-sering saja digelar seperti ini. Ternyata mengasyikkan,” ujar keduanya.

Soal memaknai karya, keduanya merasa tak kesulitan. Sebab perupa dan panitia sigap memberikan penjelasan.

“Sebagai pemula yang datang ke pameran seni rupa, kami merasa puas,” puji keduanya.

Bagi masyarakat Banjarmasin, ada kabar gembira. Bulan Mei depan ada pameran lagi. Badri memberikan bocoran. Rencananya, digelar di dua tempat, di Sanggar Seni Lukis Solihin dan Gedung Dekorama.

“Nanti ada tiga perupa yang berpameran,” ungkapnya.

Pameran bertajuk Gegodoh. Ya, jajanan pasar mirip pisang goreng yang akrab dengan lidah masyarakat Kalsel.

“Bila tENg berbicara tentang kabar, maka Gegodoh berbicara tentang kedekatan,” pungkasnya. (jpg)

Di edisi kedua pameran seni rupa bertajuk tENg, dua perupa Kalsel, Badri Hurmansyah dan Umar Sidiq berupaya menjawab keinginan generasi muda.

****
PAMERAN masih menempati Sanggar Lukis Sholihin di Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basry, Banjarmasin Utara.

Berbeda dari edisi perdana yang dihelat pada 14 Maret sampai 7 April 2024 lalu, ruang utama yang memajang puluhan karya itu sekarang disekat-sekat.

Bila kemarin pencahayaannya terang benderang, pameran kali ini menghadirkan dua sisi: terang dan gelap.

Di sisi gelap, lukisan yang terpampang cenderung menyajikan suasana yang dingin, tapi menyentak.

Lukisan-lukisan itu menyala dalam gelap. Cat ultraviolet yang dipakai, tampak mewah ketika disorot lampu biru dan merah.

Jumat (19/4) petang, mayoritas pengunjung adalah anak muda. Salah satunya Zannuba. Sebagai pelukis pemula, pameran itu menurutnya bisa menjadi referensi.

“Karya-karya yang dipajang memang memukau. Wajar, karena dihasilkan pelukis senior,” ungkap mahasiswi Jurusan Administrasi Publik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu.

Sejak 2023 lalu, perempuan asal Tapin itu tak pernah absen mendatangi pameran seni rupa.

Baginya, mendatangi pameran adalah suntikan penyemangat. “Saya bisa belajar sambil mencari pengalaman,” katanya.

“Semoga ke depan pameran serupa bisa lebih sering digelar,” tutup Zannuba.

Pameran kedua ini digelar 15-30 April 2024. Karya yang dipajang di edisi II, sedikit berbeda dari edisi I. Ada tambahan sejumlah lukisan dari Badri Hurmansyah dan Umar Sidiq. Lalu, kebanyakan karya yang dipajang mengusung genre realis.

Baca Juga :  Seni Tak Lagi Dipandang Eksklusif

Selain itu, juga disediakan pojok apresiasi. Pengunjung pameran bisa menuangkan ekspresinya di atas sebuah kanvas kosong. Di situ disediakan kuas dan cat.

Di sela pameran, kepada penulis, Badri Hurmansyah menuturkan edisi kedua ini menjawab keinginan pengunjung di edisi perdana.

“Pengunjung menginginkan suasana yang lebih santai dan nyaman dalam menikmati karya,” ucapnya.

Maklum, edisi perdana digelar pada bulan Ramadan. Waktu kunjungan pun terbilang singkat.
“Dalam sehari hanya dibuka selama dua jam saja,” ungkapnya.

Kemarin, interaksi antara perupa dengan pengunjung juga lebih banyak di luar pameran. Kini, lebih banyak interaksi di dalam ruang pameran.

“Bisa dilihat dari tata cahaya yang digunakan,” ujarnya.

Badri masih mengusung misi yang sama. Ia ingin mengabarkan bahwa dunia seni rupa telah berubah.

“Saat ini targetnya tidak hanya penikmat seni. Kami pengin orang yang tertarik mengetahui seni juga bisa datang,” ujarnya.

“Kami juga ingin menyampaikan bahwa di ruang sempit dan terbatas pun bisa dihasilkan suguhan berkualitas,” tekannya.

Sementara Umar Sidiq tak menyangka antusiasme pengunjung begitu luar biasa. Diceritakannya, pameran pertama menyedot 1.500 pengunjung.

“Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka cari. Tapi saya menangkap, mereka yang datang adalah mereka yang ‘haus’ dengan hiburan berbeda,” katanya.

Baca Juga :  Eksplorasi Seni Lintas Disiplin dalam Pameran Seni Kolektif Continuum

Umar bersyukur, selain banyak pengunjung, beberapa lukisan juga laku terjual.

“Ada dua yang terjual. Lukisan berjudul Damang Einstein dan Tergerus Daratan,” tutupnya.

Pengunjung Awam pun Puas

Sampai petang, pameran masih ramai. Di luar gedung, pengunjung mengantre mengisi buku tamu dan registrasi.

Di dalam ruang pameran juga tak kalah sibuk. Ada yang duduk sembari mengobrol, ada yang asyik berswafoto.

Risa dan Gita adalah dua di antaranya. Risa adalah mahasiswi Poliban, sedangkan Gita adalah mahasiswi ULM.

Keduanya sepakat, Banjarmasin butuh lebih banyak pameran seni rupa. “Sering-sering saja digelar seperti ini. Ternyata mengasyikkan,” ujar keduanya.

Soal memaknai karya, keduanya merasa tak kesulitan. Sebab perupa dan panitia sigap memberikan penjelasan.

“Sebagai pemula yang datang ke pameran seni rupa, kami merasa puas,” puji keduanya.

Bagi masyarakat Banjarmasin, ada kabar gembira. Bulan Mei depan ada pameran lagi. Badri memberikan bocoran. Rencananya, digelar di dua tempat, di Sanggar Seni Lukis Solihin dan Gedung Dekorama.

“Nanti ada tiga perupa yang berpameran,” ungkapnya.

Pameran bertajuk Gegodoh. Ya, jajanan pasar mirip pisang goreng yang akrab dengan lidah masyarakat Kalsel.

“Bila tENg berbicara tentang kabar, maka Gegodoh berbicara tentang kedekatan,” pungkasnya. (jpg)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru