25.4 C
Jakarta
Monday, February 2, 2026

Terlalu Sering Pamer Pasangan di Medsos? Psikologi Ungkap 8 Masalah Emosional Ini

PROKALTENG.CO – Media sosial kini dipenuhi unggahan pasangan yang tampak sempurna. Mulai dari foto anniversary, couple outfit, hingga caption cinta yang terdengar manis dan romantis. Sekilas terlihat bahagia, tetapi psikologi melihat kebiasaan pamer hubungan di media sosial dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih cerminan hubungan yang aman dan stabil, terlalu sering mengunggah kebersamaan justru kerap berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dan pengakuan. Banyak pasangan tanpa sadar menggunakan media sosial sebagai alat pembuktian bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

Dilansir dari laman Geediting, berikut delapan masalah emosional yang kerap dialami pasangan yang terlalu sering memamerkan hubungan di media sosial.

1. Merasa Tidak Aman dalam Hubungan
Penelitian dari Northwestern University menunjukkan, pasangan yang paling sering mengunggah kebersamaan justru cenderung memiliki rasa tidak aman. Fenomena ini dikenal sebagai relationship visibility.
Semakin besar dorongan untuk menampilkan hubungan ke publik, semakin tinggi kemungkinan adanya kecemasan di baliknya. Hubungan yang stabil umumnya tidak membutuhkan pembuktian berulang.

2. Bergantung pada Validasi Eksternal
Like, komentar, dan emoji hati menjadi penguat emosional sesaat. Menurut Psychology Today, media sosial kerap dipakai untuk meredakan keraguan terhadap diri sendiri maupun hubungan.
Masalah muncul ketika validasi itu habis, lalu muncul dorongan untuk kembali mengunggah demi mendapatkan pengakuan baru.

Baca Juga :  Kepribadian Orang yang Suka Selfie dan Menggunakannya Sebagai Foto Profil di Medsos

3. Harga Diri Bergantung pada Hubungan
Dalam psikologi dikenal istilah Relationship Contingent Self-Esteem (RCSE), yaitu kondisi ketika nilai diri seseorang sangat bergantung pada kualitas hubungan romantisnya.
Orang dengan RCSE tinggi cenderung memamerkan hubungan untuk meyakinkan diri dan lingkungan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Saat muncul masalah kecil, kecemasan bisa meningkat tajam.

4. Terjebak Fear of Missing Out (FOMO)
FOMO tidak hanya soal liburan atau pesta, tetapi juga hubungan. Media sosial dipenuhi gambaran pasangan yang tampak sempurna: liburan mewah, kencan romantis, dan kejutan manis.
Paparan ini membuat sebagian pasangan merasa hubungan mereka kurang menarik, sehingga unggahan dibuat agar tidak tertinggal dari yang lain.

Electronic money exchangers listing

5. Menutupi Jarak Emosional di Dunia Nyata
Ironisnya, pasangan yang tampak paling mesra di media sosial sering kali justru mengalami jarak emosional secara pribadi.
Riset dalam Journal of Marital and Family Therapy menunjukkan penggunaan media sosial berlebihan dapat mengurangi kualitas waktu bersama, memperlemah komunikasi, dan memperbesar jarak emosional.

Baca Juga :  Pernah Mimpi Pacaran dengan Orang yang Disukai? Menurut Tafsir Primbon Ini Loh Artinya

6. Dipicu Kecemburuan dan Masalah Kepercayaan
Komentar ambigu, pengikut baru, hingga interaksi dengan mantan kerap memicu kecemburuan. Bagi individu dengan anxious attachment, hal ini mudah memicu konflik.
Tak jarang, kebersamaan justru makin sering dipamerkan sebagai bentuk klaim publik dan pencarian rasa aman.

7. Menciptakan Narasi Hubungan Semu
Setiap hubungan punya konflik. Namun di media sosial, yang tampil hanya versi terbaik.
Pasangan yang terlalu sering memposting kebersamaan berisiko membangun realitas palsu dan merasa tertekan ketika kehidupan nyata tak seindah yang ditampilkan.

8. Kehilangan Keintiman Privat
Keintiman sejati sering hadir tanpa kamera, filter, atau caption.
Saat setiap momen harus dibagikan, keintiman berubah menjadi pertunjukan. Fokus bergeser dari kedekatan emosional ke tampilan visual, sehingga hubungan yang autentik perlahan memudar. (jpg)

PROKALTENG.CO – Media sosial kini dipenuhi unggahan pasangan yang tampak sempurna. Mulai dari foto anniversary, couple outfit, hingga caption cinta yang terdengar manis dan romantis. Sekilas terlihat bahagia, tetapi psikologi melihat kebiasaan pamer hubungan di media sosial dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih cerminan hubungan yang aman dan stabil, terlalu sering mengunggah kebersamaan justru kerap berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dan pengakuan. Banyak pasangan tanpa sadar menggunakan media sosial sebagai alat pembuktian bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

Dilansir dari laman Geediting, berikut delapan masalah emosional yang kerap dialami pasangan yang terlalu sering memamerkan hubungan di media sosial.

Electronic money exchangers listing

1. Merasa Tidak Aman dalam Hubungan
Penelitian dari Northwestern University menunjukkan, pasangan yang paling sering mengunggah kebersamaan justru cenderung memiliki rasa tidak aman. Fenomena ini dikenal sebagai relationship visibility.
Semakin besar dorongan untuk menampilkan hubungan ke publik, semakin tinggi kemungkinan adanya kecemasan di baliknya. Hubungan yang stabil umumnya tidak membutuhkan pembuktian berulang.

2. Bergantung pada Validasi Eksternal
Like, komentar, dan emoji hati menjadi penguat emosional sesaat. Menurut Psychology Today, media sosial kerap dipakai untuk meredakan keraguan terhadap diri sendiri maupun hubungan.
Masalah muncul ketika validasi itu habis, lalu muncul dorongan untuk kembali mengunggah demi mendapatkan pengakuan baru.

Baca Juga :  Kepribadian Orang yang Suka Selfie dan Menggunakannya Sebagai Foto Profil di Medsos

3. Harga Diri Bergantung pada Hubungan
Dalam psikologi dikenal istilah Relationship Contingent Self-Esteem (RCSE), yaitu kondisi ketika nilai diri seseorang sangat bergantung pada kualitas hubungan romantisnya.
Orang dengan RCSE tinggi cenderung memamerkan hubungan untuk meyakinkan diri dan lingkungan bahwa hidup mereka baik-baik saja. Saat muncul masalah kecil, kecemasan bisa meningkat tajam.

4. Terjebak Fear of Missing Out (FOMO)
FOMO tidak hanya soal liburan atau pesta, tetapi juga hubungan. Media sosial dipenuhi gambaran pasangan yang tampak sempurna: liburan mewah, kencan romantis, dan kejutan manis.
Paparan ini membuat sebagian pasangan merasa hubungan mereka kurang menarik, sehingga unggahan dibuat agar tidak tertinggal dari yang lain.

5. Menutupi Jarak Emosional di Dunia Nyata
Ironisnya, pasangan yang tampak paling mesra di media sosial sering kali justru mengalami jarak emosional secara pribadi.
Riset dalam Journal of Marital and Family Therapy menunjukkan penggunaan media sosial berlebihan dapat mengurangi kualitas waktu bersama, memperlemah komunikasi, dan memperbesar jarak emosional.

Baca Juga :  Pernah Mimpi Pacaran dengan Orang yang Disukai? Menurut Tafsir Primbon Ini Loh Artinya

6. Dipicu Kecemburuan dan Masalah Kepercayaan
Komentar ambigu, pengikut baru, hingga interaksi dengan mantan kerap memicu kecemburuan. Bagi individu dengan anxious attachment, hal ini mudah memicu konflik.
Tak jarang, kebersamaan justru makin sering dipamerkan sebagai bentuk klaim publik dan pencarian rasa aman.

7. Menciptakan Narasi Hubungan Semu
Setiap hubungan punya konflik. Namun di media sosial, yang tampil hanya versi terbaik.
Pasangan yang terlalu sering memposting kebersamaan berisiko membangun realitas palsu dan merasa tertekan ketika kehidupan nyata tak seindah yang ditampilkan.

8. Kehilangan Keintiman Privat
Keintiman sejati sering hadir tanpa kamera, filter, atau caption.
Saat setiap momen harus dibagikan, keintiman berubah menjadi pertunjukan. Fokus bergeser dari kedekatan emosional ke tampilan visual, sehingga hubungan yang autentik perlahan memudar. (jpg)

Terpopuler

Artikel Terbaru