26.1 C
Jakarta
Monday, February 2, 2026

Skena Total, Pilihan Lifestyle Gen Z untuk Tampil Apa Adanya

PROKALTENG.CO-Gaya skena kini tidak lagi sekadar soal cara berpakaian. Di kalangan anak muda, khususnya generasi Z, skena telah menjadi bagian dari gaya hidup yang merepresentasikan kebiasaan sehari-hari, cara bersosialisasi, hingga ekspresi diri di ruang publik maupun komunitas.

Bagi para pengikutnya, gaya skena memberi ruang kebebasan untuk tampil apa adanya tanpa terikat standar tertentu. Pilihan outfit yang dikenakan saat beraktivitas, nongkrong, atau menghadiri acara komunitas menjadi medium untuk menegaskan identitas dan karakter personal.

Fajri, mahasiswa berusia 21 tahun, mengaku gaya skena sangat dekat dengan kesehariannya. Aktivitas thrifting menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup tersebut.

“Kalau beli baru di mal, modelnya pasaran. Tapi kalau ngethrift, kita bisa dapat kaos band vintage. Di situ serunya, tampil beda dan punya karakter sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  MTQH Benteng Kuat Generasi Qurani di Era Digitalisasi

Hal senada disampaikan Widya Alawiyah (25), penjaga toko kosmetik. Ia merasa lebih nyaman mengenakan outfit bergaya skena saat berkumpul bersama teman-temannya.

“Kalau aku memang lebih ke skena. Setiap mau nongkrong bareng teman-teman, rasanya lebih pede dan nyaman pakai outfit seperti itu,” katanya.

Secara umum, gaya skena identik dengan busana yang longgar dan fungsional, seperti kaos oversize, celana corduroy, cargo, atau high waist jeans. Kenyamanan menjadi faktor utama, sejalan dengan aktivitas anak muda yang gemar berkumpul, bergerak bebas, dan menghabiskan waktu di berbagai ruang sosial.

Electronic money exchangers listing

Meski begitu, pilihan gaya hidup ini tidak jarang mendapat stigma atau pandangan miring dari sebagian masyarakat yang belum memahami budaya skena. Namun, para pengikutnya tetap konsisten dengan prinsip untuk tampil apa adanya dan menghargai perbedaan.

Baca Juga :  Jenis Obrolan Basa-Basi yang Paling Dihindari Orang-Orang Cerdas

Lebih dari sekadar gaya berpakaian, skena juga kerap dimaknai sebagai akronim dari sua, cengkrama, dan kelana. Nilai tersebut merepresentasikan kebiasaan berkumpul, berinteraksi, serta menjelajahi ruang-ruang sosial yang menjadi bagian dari keseharian anak muda.

Melalui gaya hidup skena, generasi Z menemukan ruang ekspresi sekaligus solidaritas komunitas. Bukan hanya soal pakaian, tetapi tentang cara menikmati hidup, membangun relasi, dan merayakan kebebasan berekspresi. (rra/fir/jpg)

 

PROKALTENG.CO-Gaya skena kini tidak lagi sekadar soal cara berpakaian. Di kalangan anak muda, khususnya generasi Z, skena telah menjadi bagian dari gaya hidup yang merepresentasikan kebiasaan sehari-hari, cara bersosialisasi, hingga ekspresi diri di ruang publik maupun komunitas.

Bagi para pengikutnya, gaya skena memberi ruang kebebasan untuk tampil apa adanya tanpa terikat standar tertentu. Pilihan outfit yang dikenakan saat beraktivitas, nongkrong, atau menghadiri acara komunitas menjadi medium untuk menegaskan identitas dan karakter personal.

Fajri, mahasiswa berusia 21 tahun, mengaku gaya skena sangat dekat dengan kesehariannya. Aktivitas thrifting menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup tersebut.

Electronic money exchangers listing

“Kalau beli baru di mal, modelnya pasaran. Tapi kalau ngethrift, kita bisa dapat kaos band vintage. Di situ serunya, tampil beda dan punya karakter sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  MTQH Benteng Kuat Generasi Qurani di Era Digitalisasi

Hal senada disampaikan Widya Alawiyah (25), penjaga toko kosmetik. Ia merasa lebih nyaman mengenakan outfit bergaya skena saat berkumpul bersama teman-temannya.

“Kalau aku memang lebih ke skena. Setiap mau nongkrong bareng teman-teman, rasanya lebih pede dan nyaman pakai outfit seperti itu,” katanya.

Secara umum, gaya skena identik dengan busana yang longgar dan fungsional, seperti kaos oversize, celana corduroy, cargo, atau high waist jeans. Kenyamanan menjadi faktor utama, sejalan dengan aktivitas anak muda yang gemar berkumpul, bergerak bebas, dan menghabiskan waktu di berbagai ruang sosial.

Meski begitu, pilihan gaya hidup ini tidak jarang mendapat stigma atau pandangan miring dari sebagian masyarakat yang belum memahami budaya skena. Namun, para pengikutnya tetap konsisten dengan prinsip untuk tampil apa adanya dan menghargai perbedaan.

Baca Juga :  Jenis Obrolan Basa-Basi yang Paling Dihindari Orang-Orang Cerdas

Lebih dari sekadar gaya berpakaian, skena juga kerap dimaknai sebagai akronim dari sua, cengkrama, dan kelana. Nilai tersebut merepresentasikan kebiasaan berkumpul, berinteraksi, serta menjelajahi ruang-ruang sosial yang menjadi bagian dari keseharian anak muda.

Melalui gaya hidup skena, generasi Z menemukan ruang ekspresi sekaligus solidaritas komunitas. Bukan hanya soal pakaian, tetapi tentang cara menikmati hidup, membangun relasi, dan merayakan kebebasan berekspresi. (rra/fir/jpg)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru