28.6 C
Jakarta
Wednesday, February 25, 2026

Gultik Para Warga Hadir di Palangka Raya, Terjual hingga 200 Porsi per Hari Juga Ada Aneka Sate

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kuliner khas Jakarta Selatan, Gulai Tikungan atau Gultik, kini hadir di Kota Palangka Raya. Usaha bernama Gultik Para Warga yang berlokasi di Jalan Tingang Nomor 2, masuk dari Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah ini sudah berjalan selama tiga bulan terakhir.

Pemilik Gultik Para Warga, Rere mengatakan, ide membuka usaha tersebut berawal dari pengalamannya lama tinggal di Jakarta. Ia mengaku sering nongkrong dan menikmati gultik di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terutama saat pulang malam.

“Waktu itu mamah minta saya pulang ke Palangka Raya. Saya cari kegiatan dan akhirnya buka gultik, karena di sini masih jarang. Konsepnya saya buat seperti di pinggir jalan,” ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (1/2/2026).

Baca Juga :  Es Mentimun Jeruk Nipis: Minuman Segar dengan Keajaiban Manfaat!

Ia menjelaskan, nama Gultik Para Warga dipilih karena ingin merangkul semua kalangan masyarakat Palangka Raya. Tempat jualannya pun dibuat seperti pos ronda di lingkungan kompleks, agar pengunjung bisa ngobrol santai dan berbagi cerita.

“Tempat ini saya anggap rumah ketiga, tempat orang bisa nongkrong dan ngobrol bebas,” katanya.

Untuk harga, satu porsi gultik dibanderol Rp13 ribu. Sementara aneka sate seperti usus, kulit, sayap, telur puyuh, serta hati ampela dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp3.500 hingga Rp8.000 per tusuk.

Dalam sehari, penjualan gultik bisa mencapai 150 hingga 200 porsi. Bahkan sejak awal berjualan, jumlah penjualan terus mengalami peningkatan.

Electronic money exchangers listing

“Minggu pertama sekitar 100 porsi, sekarang bisa sampai 200 porsi per hari. Biasanya ramai jam 7 sampai jam 8 malam. Kami buka dari jam 5 sore sampai habis,” jelasnya.

Baca Juga :  Sasagon, "Wadai 41" yang Mulai Langka di Kalimantan

Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam berjualan. Hanya saja, masalah lahan parkir sempat dirasakan di cabang Jalan Sisingamangaraja, sehingga untuk sementara lokasi tersebut ditutup.

Untuk bahan baku, seluruhnya menggunakan bahan lokal dari Palangka Raya. Resep gulai yang digunakan merupakan resep turun-temurun keluarga, dan proses memasak dibantu langsung oleh sang ibu.

“Banyak yang tanya kenapa namanya gultik. Itu singkatan dari gulai tikungan. Bisa juga diartikan gulai itik, gulai tikungan, atau gulai sitik,” tuturnya.

Menariknya, pengunjung Gultik Para Warga didominasi oleh kalangan remaja, di luar perkiraan awal pemilik usaha. (jef)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kuliner khas Jakarta Selatan, Gulai Tikungan atau Gultik, kini hadir di Kota Palangka Raya. Usaha bernama Gultik Para Warga yang berlokasi di Jalan Tingang Nomor 2, masuk dari Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah ini sudah berjalan selama tiga bulan terakhir.

Pemilik Gultik Para Warga, Rere mengatakan, ide membuka usaha tersebut berawal dari pengalamannya lama tinggal di Jakarta. Ia mengaku sering nongkrong dan menikmati gultik di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terutama saat pulang malam.

“Waktu itu mamah minta saya pulang ke Palangka Raya. Saya cari kegiatan dan akhirnya buka gultik, karena di sini masih jarang. Konsepnya saya buat seperti di pinggir jalan,” ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (1/2/2026).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Es Mentimun Jeruk Nipis: Minuman Segar dengan Keajaiban Manfaat!

Ia menjelaskan, nama Gultik Para Warga dipilih karena ingin merangkul semua kalangan masyarakat Palangka Raya. Tempat jualannya pun dibuat seperti pos ronda di lingkungan kompleks, agar pengunjung bisa ngobrol santai dan berbagi cerita.

“Tempat ini saya anggap rumah ketiga, tempat orang bisa nongkrong dan ngobrol bebas,” katanya.

Untuk harga, satu porsi gultik dibanderol Rp13 ribu. Sementara aneka sate seperti usus, kulit, sayap, telur puyuh, serta hati ampela dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp3.500 hingga Rp8.000 per tusuk.

Dalam sehari, penjualan gultik bisa mencapai 150 hingga 200 porsi. Bahkan sejak awal berjualan, jumlah penjualan terus mengalami peningkatan.

“Minggu pertama sekitar 100 porsi, sekarang bisa sampai 200 porsi per hari. Biasanya ramai jam 7 sampai jam 8 malam. Kami buka dari jam 5 sore sampai habis,” jelasnya.

Baca Juga :  Sasagon, "Wadai 41" yang Mulai Langka di Kalimantan

Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam berjualan. Hanya saja, masalah lahan parkir sempat dirasakan di cabang Jalan Sisingamangaraja, sehingga untuk sementara lokasi tersebut ditutup.

Untuk bahan baku, seluruhnya menggunakan bahan lokal dari Palangka Raya. Resep gulai yang digunakan merupakan resep turun-temurun keluarga, dan proses memasak dibantu langsung oleh sang ibu.

“Banyak yang tanya kenapa namanya gultik. Itu singkatan dari gulai tikungan. Bisa juga diartikan gulai itik, gulai tikungan, atau gulai sitik,” tuturnya.

Menariknya, pengunjung Gultik Para Warga didominasi oleh kalangan remaja, di luar perkiraan awal pemilik usaha. (jef)

Terpopuler

Artikel Terbaru