PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Harga Bitcoin (BTC) yang kembali anjlok belakangan ini memicu kekhawatiran investor. Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Ekonomi Suherman Juhari meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan, karena penurunan harga Bitcoin merupakan risiko yang melekat pada instrumen investasi kripto.
Suherman menilai volatilitas tinggi sudah menjadi karakter dasar Bitcoin sejak pertama kali diperkenalkan. Aset kripto ini kerap mencatat lonjakan harga signifikan dalam waktu singkat, namun juga rawan terkoreksi tajam. Fluktuasi ekstrem itu, menurut dia, merupakan dinamika wajar pasar kripto.
“Anjloknya harga Bitcoin saat ini bukan hal yang aneh. Ini bagian dari naik-turunnya pasar kripto yang risikonya memang tinggi,” ujar Suherman, Minggu (8/2/26). Ia menegaskan, koreksi harga tidak bisa langsung dimaknai sebagai kehancuran aset, melainkan proses penyesuaian menuju keseimbangan baru.
Ia mengingatkan masyarakat yang tertarik berinvestasi di kripto agar memahami betul profil risikonya. Dibandingkan instrumen konvensional seperti saham, obligasi, atau reksa dana, risiko Bitcoin dinilai jauh lebih besar dan membutuhkan kesiapan mental investor.
Terkait penyebab jatuhnya harga Bitcoin, Suherman menyebut ada dua faktor utama. Pertama, tekanan dari kondisi ekonomi makro global, terutama kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
“Saat The Fed menaikkan suku bunga, investor cenderung memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman atau safe haven, sehingga kripto ikut tertekan,” jelasnya.
Faktor kedua berasal dari sentimen pasar. Pasar kripto sangat sensitif terhadap isu, regulasi, dan psikologi massa. Suherman menilai kepanikan sering memicu aksi jual massal atau panic selling. Jika terjadi secara bersamaan, harga akan turun cepat dan menimbulkan kerugian besar.
Ia juga mengakui, koreksi Bitcoin hampir selalu berdampak domino terhadap aset kripto lain. Ketika BTC melemah, altcoin umumnya ikut terseret turun, sehingga mengguncang pasar kripto secara keseluruhan.
Meski begitu, Suherman menegaskan dampak anjloknya Bitcoin tidak meluas ke seluruh sektor ekonomi digital. Bidang lain seperti e-commerce, startup teknologi, dan fintech non-kripto dinilai relatif aman.
“Yang terdampak langsung adalah investor kripto. Di luar itu, sektor ekonomi digital masih berjalan normal,” tutup Suherman. (her)


