28.1 C
Jakarta
Sunday, February 22, 2026

Momentum Tahun “Kuda Api” untuk Meningkatkan Semangat Bekerja dan Memperkuat Moderasi Beragama

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Perayaan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara, berlangsung khidmat, Senin (16/2/26).

17_Vihara2

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah (Kanwil Kemenag Kalteng), Partiyem, menekankan pentingnya momentum tahun “Kuda Api” ini untuk meningkatkan semangat bekerja dan memperkuat moderasi beragama.

Partiyem menjelaskan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar pergantian tahun. Melainkan tradisi yang sarat makna kekeluargaan. Sebelum melaksanakan ibadah di Vihara, umat Buddha tradisi Tionghoa umumnya meluangkan waktu untuk makan malam bersama keluarga guna mempererat tali persaudaraan.

“Jadi ini adalah tradisi menyambut tahun baru itu ada sembahyang. Tapi sebelumnya, untuk mempererat kekeluargaan, mereka malam ini makan malam bersama,” ujar Partiyem dalam wawancara pada malam perayaan Imlek.

Dalam puja bakti menyambut tahun baru kali ini, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Moderasi Beragama”. Partiyem menyebut tema ini sangat relevan mengingat kemajemukan umat Buddha di Kalimantan Tengah yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, mulai dari Tionghoa, Jawa, hingga Dayak.

Baca Juga :  Atraksi Barongsai di Halaman Vihara Avalokitesvara Pukau Warga Palangka Raya

“Di agama Buddha itu kami ada berbagai suku. Berbagai suku, kami ada suku Jawa, suku Dayak, Tionghoa. Kemudian aliran itu sungguh banyak,” jelasnya.

Electronic money exchangers listing

Selain keberagaman suku, Partiyem juga menyoroti adanya perbedaan majelis di wilayah tersebut, seperti majelis di Vihara Avalokitesvara, Jalan Alson, Jalan Antang, dan kawasan Kereng. Perayaan bersama ini menjadi wadah persatuan meski berbeda majelis.

“Kalau kita tidak moderasi kan terkotak-kotak. Sedangkan kita adalah manusia yang hidup sosial, membutuhkan manusia yang lain,” tambahnya.

Terkait makna tahun baru 2577 yang bertepatan dengan tahun Kuda Api, Partiyem mengajak umat untuk menjadikannya sebagai motivasi. Filosofi kuda api dimaknai sebagai pendorong semangat, baik dalam belajar bagi anak-anak maupun dalam mencari rezeki bagi kepala keluarga.

Baca Juga :  Sinergi Lintas Instansi, Kemenkum Kalteng dan Balai Kekarantinaan Gelar Pemeriksaan Kesehatan

“Momentum untuk memberikan motivasi ya, sebagai motivasi kita sebagai umat manusia untuk semangat bekerja. Dan tentunya bagi umat Buddha adalah semangat berbuat baik,” tutur Partiyem.

Ia juga mengingatkan bahwa perbuatan baik merupakan “deposit” spiritual bagi umat manusia untuk kehidupan selanjutnya.

Menanggapi antusiasme umat, Partiyem mengakui sempat terlihat sedikit penurunan jumlah jemaah di awal acara, karena waktu sembahyang yang dimajukan menjadi pukul 22.00 WIB.

Banyak umat masih melangsungkan makan malam keluarga saat ibadah dimulai. Namun, suasana kembali ramai ketika umat mulai berdatangan usai acara keluarga.

“Cuma karena sembahyangnya tadi dimajukan, jadi teman-teman yang masih berkumpul dengan keluarga datangnya telat. Jadi ini ada beberapa yang teman-teman sudah pakai baju merah-merah ini adalah mereka makan malam dulu baru sembahyang,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Perayaan menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Avalokitesvara, berlangsung khidmat, Senin (16/2/26).

17_Vihara2

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah (Kanwil Kemenag Kalteng), Partiyem, menekankan pentingnya momentum tahun “Kuda Api” ini untuk meningkatkan semangat bekerja dan memperkuat moderasi beragama.

Electronic money exchangers listing

Partiyem menjelaskan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar pergantian tahun. Melainkan tradisi yang sarat makna kekeluargaan. Sebelum melaksanakan ibadah di Vihara, umat Buddha tradisi Tionghoa umumnya meluangkan waktu untuk makan malam bersama keluarga guna mempererat tali persaudaraan.

“Jadi ini adalah tradisi menyambut tahun baru itu ada sembahyang. Tapi sebelumnya, untuk mempererat kekeluargaan, mereka malam ini makan malam bersama,” ujar Partiyem dalam wawancara pada malam perayaan Imlek.

Dalam puja bakti menyambut tahun baru kali ini, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Moderasi Beragama”. Partiyem menyebut tema ini sangat relevan mengingat kemajemukan umat Buddha di Kalimantan Tengah yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, mulai dari Tionghoa, Jawa, hingga Dayak.

Baca Juga :  Atraksi Barongsai di Halaman Vihara Avalokitesvara Pukau Warga Palangka Raya

“Di agama Buddha itu kami ada berbagai suku. Berbagai suku, kami ada suku Jawa, suku Dayak, Tionghoa. Kemudian aliran itu sungguh banyak,” jelasnya.

Selain keberagaman suku, Partiyem juga menyoroti adanya perbedaan majelis di wilayah tersebut, seperti majelis di Vihara Avalokitesvara, Jalan Alson, Jalan Antang, dan kawasan Kereng. Perayaan bersama ini menjadi wadah persatuan meski berbeda majelis.

“Kalau kita tidak moderasi kan terkotak-kotak. Sedangkan kita adalah manusia yang hidup sosial, membutuhkan manusia yang lain,” tambahnya.

Terkait makna tahun baru 2577 yang bertepatan dengan tahun Kuda Api, Partiyem mengajak umat untuk menjadikannya sebagai motivasi. Filosofi kuda api dimaknai sebagai pendorong semangat, baik dalam belajar bagi anak-anak maupun dalam mencari rezeki bagi kepala keluarga.

Baca Juga :  Sinergi Lintas Instansi, Kemenkum Kalteng dan Balai Kekarantinaan Gelar Pemeriksaan Kesehatan

“Momentum untuk memberikan motivasi ya, sebagai motivasi kita sebagai umat manusia untuk semangat bekerja. Dan tentunya bagi umat Buddha adalah semangat berbuat baik,” tutur Partiyem.

Ia juga mengingatkan bahwa perbuatan baik merupakan “deposit” spiritual bagi umat manusia untuk kehidupan selanjutnya.

Menanggapi antusiasme umat, Partiyem mengakui sempat terlihat sedikit penurunan jumlah jemaah di awal acara, karena waktu sembahyang yang dimajukan menjadi pukul 22.00 WIB.

Banyak umat masih melangsungkan makan malam keluarga saat ibadah dimulai. Namun, suasana kembali ramai ketika umat mulai berdatangan usai acara keluarga.

“Cuma karena sembahyangnya tadi dimajukan, jadi teman-teman yang masih berkumpul dengan keluarga datangnya telat. Jadi ini ada beberapa yang teman-teman sudah pakai baju merah-merah ini adalah mereka makan malam dulu baru sembahyang,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru