28.2 C
Jakarta
Sunday, June 16, 2024
spot_img

Di Kalsel Kasus Bunuh Diri Kian Marak, Begini Pesan Para Penyintasnya

MENGAMATI angka kasus bunuh diri pemuda yang meningkat dari tahun ke tahun membuat resah. Edisi ‘Hari Kebangkitan Nasional’ kali ini tema yang dipilih adalah ‘Hari Kebangkitan Mental’. Akhir kata, besar harapan kami agar angka kasus bunuh diri dapat ditekan.

****
Masa sulit datang menyusup melalui berbagai macam cara. Tapi sebuah nyawa tetaplah jauh lebih berharga.

AB menyaksikan bagaimana orang tuanya berpisah. Ketidakharmonisan keluarga adalah pemicunya. Kedua orang tuanya kerap bertengkar hebat. Dari yang semula adu mulut, sampai kontak fisik.

Ketika pertengkaran terjadi, AB ingin menjauh dan membawa sang adik yang saat itu usianya masih 10 tahun keluar dari rumah. Namun, ayahnya melarang. Dia dibentak dan dimaki apabila berani melakukan hal itu. “Aku dan adikku harus menyaksikan langsung pertengkaran itu. Dengan alasan, agar kami tahu duduk persoalannya,” ungkap warga Banjarmasin Tengah, Senin (12/5).

Pertengkaran terjadi hampir setiap malam. Berlangsung selama bertahun-tahun.

AB seyogianya adalah perempuan periang. Terus dirundung sedih dan kalut melihat perseteruan kedua orang tuanya, ia depresi.

AB memutuskan ingin mengakhiri hidupnya. Saat itu, bulan Mei tahun 2022. Ketika menginjak usia 18 tahun. Baru lulus SMA.

Percobaan bunuh diri pertama, gagal. AB tersentak. Sadar bahwa apa yang dilakukannya hanya bakal memperkeruh keadaan. Di kamarnya, ia menangis sejadi-jadinya. Agar isak tangisnya tidak terdengar, AB menutupi wajahnya dengan bantal. Di tahun yang sama, kedua orang tuanya pun berpisah.

Tahun 2023 tadi, AB berkunjung ke kediaman ayahnya. Hendak mengobrol santai sembari melepas rindu. Namun pertemuan itu justru membuatnya semakin terpuruk. “Saya disudutkan. Dianggap penyakitan, dan dipandang hanya jadi penyebab habisnya uang,” ungkapnya.

“Terdengar sepele, tapi rasanya frustrasi sekali,” kenangnya.

AB pun pulang ke rumah. Niat bunuh diri kembali muncul. Syukurlah, akal sehatnya yang menang. Ia mengurungkan niatnya.

Baca Juga :  Warung Jalan Masuk Conch Jadi Tempat Transaksi Sabu

Kini, usianya menginjak 20 tahun. AB sudah jauh lebih baik. Ia tumbuh menjadi perempuan mandiri nan periang.

Saat ini AB bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pergaulannya yang luas membuka matanya.
“Banyak hal yang bisa dikejar sebagai penyemangat untuk hidup,” katanya.

Baginya, aksi percobaan bunuh diri adalah tindakan kekanak-kanakan yang merugikan.
AB berpesan kepada siapa saja, terutama anak muda. Pandai-pandailah mengelola emosi.

“Fase sulit pasti ada, perkuat ibadah, perluas pergaulan. Nyawa kita sangat berharga,” bandingnya.

Pusat informasi kriminal nasional (Pusiknas) Polri merilis angka kasus bunuh diri di Indonesia. Dari data itu diketahui, tahun ke tahun jumlah kasus bunuh diri mengalami kenaikan. Di tahun 2022, Pusiknas Polri mencatat ada sebanyak 900 kasus.

Kemudian di tahun 2023, sepanjang Januari hingga 18 Oktober berjumlah 971 kasus. Sementara di tahun 2024, sepanjang 1 Januari hingga 15 Maret, berjumlah 287 kasus. Tujuh kasus di antaranya terjadi di Provinsi Kalsel. Namun jumlah itu, diprediksi lebih banyak daripada yang tercatat.

Kisah percobaan bunuh diri lainnya juga pernah dialami AD. Di tongkrongan, ia dikenal sebagai pemuda ramah dan mengasyikkan. Juga pemicu gelak tawa.

Namun di awal tahun 2019 lalu, warga Banjarmasin Tengah itu pernah merasa sangat terpuruk. AD didiagnosis leukemia alias kanker darah.

Sedang asyik beraktivitas, tiba-tiba mimisan. Darah tidak hanya keluar dari hidung, juga dari telinga dan mulut. AD jadi mulai gampang lelah.

“Sebenarnya, aku tidak begitu kaget. Karena sejak kecil aku memang mudah jatuh sakit,” ujarnya, Rabu (15/5).

Namun yang paling menyakitkan, ketika sang ayah tidak memperdulikannya lagi. Saat itulah ia merasa mentalnya sangat terganggu. “Aku kehilangan harapan, dan menjadi lebih sensitif,” ujarnya.

Baca Juga :  Mayat Ditemukan Mengapung di Sungai Kali Besar

Di tahun yang sama, AD dua kali memutuskan untuk bunuh diri. Syukurlah kedua upaya itu gagal.
“Aku urungkan niatku karena ingat mama,” kenangnya.

AD pun menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ditambah dengan jadwal pemeriksaan rutin hingga tahun 2021. Ia berprinsip, life must go on.

Namun di akhir tahun 2022, niat buruk itu kembali muncul. Ia dirundung tiga masalah sekaligus. Selain penyakit, ia didera kondisi keuangan buruk, serta hubungan asmara yang tak sejalan.

Akibatnya, AD kembali hilang harapan. Syukurlah, upaya bunuh diri itu gagal lagi. “Ketahuan mama,” ungkapnya.

Kesabaran ibunya seperti kamus bahasa yang tebal. Ibunya tak pernah memarahinya. Sebaliknya, justru selalu berusaha menguatkan. “Mama tahu tekanan mentalku,” ujarnya.

Ibunya selalu siap sedia menjaganya. Tapi, keinginan untuk mengakhiri hidup itu masih ada. AD tak segan melakukan itu apabila ada sesuatu yang menyakiti hatinya.

Seiring berjalannya waktu, AD mulai bangkit. Ia diarahkan untuk lebih mendalami agama.
“Sering beristigfar,” ucapnya.

AD kini menyadari, perkara maut bukanlah hak dirinya. Jika ada hikmah yang bisa dipetik, AD berpesan melalui prinsipnya. “Tanamkan nilai-nilai agama dalam diri. Hiduplah dengan sebaik-baiknya,” pesannya. “Berbaktilah kepada Tuhan dan orang tua. Bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Angka Kasus Bunuh Diri di Indonesia.

Tahun 2022, berjumlah 900 kasus.
Tahun 2023, sepanjang Januari hingga 18 Oktober berjumlah 971 kasus.
Tahun 2024, sepanjang 1 Januari -15 Maret, berjumlah 287 kasus.

Angka Kasus Bunuh Diri di Kalsel.

Tahun 2024, sepanjang 1 Januari – 15 Maret, berjumlah 7 Kasus.

Lokasi bunuh diri paling banyak terjadi di Indonesia di tahun 2024.

Di perumahan permukiman 233 kasus.
Di perkebunan 27 kasus.
Di persawahan 7 kasus.

(wah/jpg)

MENGAMATI angka kasus bunuh diri pemuda yang meningkat dari tahun ke tahun membuat resah. Edisi ‘Hari Kebangkitan Nasional’ kali ini tema yang dipilih adalah ‘Hari Kebangkitan Mental’. Akhir kata, besar harapan kami agar angka kasus bunuh diri dapat ditekan.

****
Masa sulit datang menyusup melalui berbagai macam cara. Tapi sebuah nyawa tetaplah jauh lebih berharga.

AB menyaksikan bagaimana orang tuanya berpisah. Ketidakharmonisan keluarga adalah pemicunya. Kedua orang tuanya kerap bertengkar hebat. Dari yang semula adu mulut, sampai kontak fisik.

Ketika pertengkaran terjadi, AB ingin menjauh dan membawa sang adik yang saat itu usianya masih 10 tahun keluar dari rumah. Namun, ayahnya melarang. Dia dibentak dan dimaki apabila berani melakukan hal itu. “Aku dan adikku harus menyaksikan langsung pertengkaran itu. Dengan alasan, agar kami tahu duduk persoalannya,” ungkap warga Banjarmasin Tengah, Senin (12/5).

Pertengkaran terjadi hampir setiap malam. Berlangsung selama bertahun-tahun.

AB seyogianya adalah perempuan periang. Terus dirundung sedih dan kalut melihat perseteruan kedua orang tuanya, ia depresi.

AB memutuskan ingin mengakhiri hidupnya. Saat itu, bulan Mei tahun 2022. Ketika menginjak usia 18 tahun. Baru lulus SMA.

Percobaan bunuh diri pertama, gagal. AB tersentak. Sadar bahwa apa yang dilakukannya hanya bakal memperkeruh keadaan. Di kamarnya, ia menangis sejadi-jadinya. Agar isak tangisnya tidak terdengar, AB menutupi wajahnya dengan bantal. Di tahun yang sama, kedua orang tuanya pun berpisah.

Tahun 2023 tadi, AB berkunjung ke kediaman ayahnya. Hendak mengobrol santai sembari melepas rindu. Namun pertemuan itu justru membuatnya semakin terpuruk. “Saya disudutkan. Dianggap penyakitan, dan dipandang hanya jadi penyebab habisnya uang,” ungkapnya.

“Terdengar sepele, tapi rasanya frustrasi sekali,” kenangnya.

AB pun pulang ke rumah. Niat bunuh diri kembali muncul. Syukurlah, akal sehatnya yang menang. Ia mengurungkan niatnya.

Baca Juga :  Warung Jalan Masuk Conch Jadi Tempat Transaksi Sabu

Kini, usianya menginjak 20 tahun. AB sudah jauh lebih baik. Ia tumbuh menjadi perempuan mandiri nan periang.

Saat ini AB bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pergaulannya yang luas membuka matanya.
“Banyak hal yang bisa dikejar sebagai penyemangat untuk hidup,” katanya.

Baginya, aksi percobaan bunuh diri adalah tindakan kekanak-kanakan yang merugikan.
AB berpesan kepada siapa saja, terutama anak muda. Pandai-pandailah mengelola emosi.

“Fase sulit pasti ada, perkuat ibadah, perluas pergaulan. Nyawa kita sangat berharga,” bandingnya.

Pusat informasi kriminal nasional (Pusiknas) Polri merilis angka kasus bunuh diri di Indonesia. Dari data itu diketahui, tahun ke tahun jumlah kasus bunuh diri mengalami kenaikan. Di tahun 2022, Pusiknas Polri mencatat ada sebanyak 900 kasus.

Kemudian di tahun 2023, sepanjang Januari hingga 18 Oktober berjumlah 971 kasus. Sementara di tahun 2024, sepanjang 1 Januari hingga 15 Maret, berjumlah 287 kasus. Tujuh kasus di antaranya terjadi di Provinsi Kalsel. Namun jumlah itu, diprediksi lebih banyak daripada yang tercatat.

Kisah percobaan bunuh diri lainnya juga pernah dialami AD. Di tongkrongan, ia dikenal sebagai pemuda ramah dan mengasyikkan. Juga pemicu gelak tawa.

Namun di awal tahun 2019 lalu, warga Banjarmasin Tengah itu pernah merasa sangat terpuruk. AD didiagnosis leukemia alias kanker darah.

Sedang asyik beraktivitas, tiba-tiba mimisan. Darah tidak hanya keluar dari hidung, juga dari telinga dan mulut. AD jadi mulai gampang lelah.

“Sebenarnya, aku tidak begitu kaget. Karena sejak kecil aku memang mudah jatuh sakit,” ujarnya, Rabu (15/5).

Namun yang paling menyakitkan, ketika sang ayah tidak memperdulikannya lagi. Saat itulah ia merasa mentalnya sangat terganggu. “Aku kehilangan harapan, dan menjadi lebih sensitif,” ujarnya.

Baca Juga :  Mayat Ditemukan Mengapung di Sungai Kali Besar

Di tahun yang sama, AD dua kali memutuskan untuk bunuh diri. Syukurlah kedua upaya itu gagal.
“Aku urungkan niatku karena ingat mama,” kenangnya.

AD pun menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ditambah dengan jadwal pemeriksaan rutin hingga tahun 2021. Ia berprinsip, life must go on.

Namun di akhir tahun 2022, niat buruk itu kembali muncul. Ia dirundung tiga masalah sekaligus. Selain penyakit, ia didera kondisi keuangan buruk, serta hubungan asmara yang tak sejalan.

Akibatnya, AD kembali hilang harapan. Syukurlah, upaya bunuh diri itu gagal lagi. “Ketahuan mama,” ungkapnya.

Kesabaran ibunya seperti kamus bahasa yang tebal. Ibunya tak pernah memarahinya. Sebaliknya, justru selalu berusaha menguatkan. “Mama tahu tekanan mentalku,” ujarnya.

Ibunya selalu siap sedia menjaganya. Tapi, keinginan untuk mengakhiri hidup itu masih ada. AD tak segan melakukan itu apabila ada sesuatu yang menyakiti hatinya.

Seiring berjalannya waktu, AD mulai bangkit. Ia diarahkan untuk lebih mendalami agama.
“Sering beristigfar,” ucapnya.

AD kini menyadari, perkara maut bukanlah hak dirinya. Jika ada hikmah yang bisa dipetik, AD berpesan melalui prinsipnya. “Tanamkan nilai-nilai agama dalam diri. Hiduplah dengan sebaik-baiknya,” pesannya. “Berbaktilah kepada Tuhan dan orang tua. Bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Angka Kasus Bunuh Diri di Indonesia.

Tahun 2022, berjumlah 900 kasus.
Tahun 2023, sepanjang Januari hingga 18 Oktober berjumlah 971 kasus.
Tahun 2024, sepanjang 1 Januari -15 Maret, berjumlah 287 kasus.

Angka Kasus Bunuh Diri di Kalsel.

Tahun 2024, sepanjang 1 Januari – 15 Maret, berjumlah 7 Kasus.

Lokasi bunuh diri paling banyak terjadi di Indonesia di tahun 2024.

Di perumahan permukiman 233 kasus.
Di perkebunan 27 kasus.
Di persawahan 7 kasus.

(wah/jpg)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru