PULAU Bahuluang, Kabupaten Kepulauan
Selayar, Sulawesi Selatan adalah salah satu pulau yang menyimpan berjuta
keindahan. Air laut jernih berwarna biru membentang luas sejauh mata memandang.
Pohon kelapa yang tinggi menjulang ke atas tersusun rapi di penjuru pulau. Angin
berhembus menggerakkan dedaunan. Suasana asri yang belum tersentuh hiruk pikuk
kota besar.
Belum ada pasokan listrik dari
pusat, warga di sini hanya bergantung pada mesin diesel yang menyala dari jam
18.00 hingga 22.00 waktu setempat. Bukan hanya listrik, koneksi internet juga
sangat jarang didapati. Sehingga warga bisa lebih sering bersosialisasi tatap
muka.
Harga ikan di sana pun lebih
terjangkau daripada di kota, satu kilogram (kg) ikan kakap dibandrol Rp25ribu,
dibandingkan dengan harga ikan di kota yang bisa mencapai Rp45ribu-Rp50 per kg.
Pertama kali kami sampai di sana, kami disambut dengan sangat baik. Rasa kekeluargaan
juga dapat kami temukan di sana.
Di bawah cahaya rembulan, di
tepian pantai kami bercengkrama sembari membakar ikan. Saling memperkenalkan
diri masing-masing kepada kakak-kakak yang membina kami. Berbagi cerita
pengalaman dan ilmu yang kami punya. Hingga jam menunjukan pukul 22.15, kami
bersiap untuk istirahat dan melanjutkan petualangan kami keesokan harinya.
Jam menunjukan pukul 03.30
waktu setempat, berbekal senter dari handphone, kami mengambil whudu di sumur
belakang rumah salah seorang warga. Setelah salat, kami pergi ke tepi pantai. Posisi
pemukiman penduduk dengan pantai cukup berdekatan, dengan berjalan kaki kami
pun tiba disana.
Matahari terbit, kawanan
lumba-lumba yang berenang bebas dapat kami lihat di tepian Pulau Bahuluang. Air
yang bening menampakkan kehidupan bawah laut yang indah.
Kami juga sempat mengunjungi
beberapa pulau kecil, katanya kurang lebih ada 130 pulau di selayar. Tentu saja
waktu dua hari satu malam yang diberikan tidak cukup untuk mengeksplor seluruh
keindahan pulau ini.
Salah satu tempat yang kami
datangi adalah Goa Lipan. Ada cerita menarik di balik nama goa tersebut. Kisah lipan
besar yang menjaga mutiara. Sayangnya banyak sampah yang tersangkut di sana,
mungkin dibawa oleh gelombang laut.
Kisah kami untuk bisa sampai
ke Sulsel bukanlah perjuangan yang mudah. Banyak hal yang kami lakukan sehingga
kami bisa sampai di provinsi ini, di antaranya berjualan setiap hari, membuka
stand di beberapa event, menabung selama kurang lebih tiga tahun.
Semua ini berawal dari mimpi
dan harapan yang kami bangun bersama. Tak ingin hanya menjadi sebuah wacana
belaka kami tetap berjuang. Hingga akhirnya, semua perjuangan yang kami lakukan
berbuah manis.
Jika kalian ingin mencari
tempat wisata alam yang sangat bagus. Bahuluang adalah tempat yang kami
rekomendasikan.(ila)