27.9 C
Jakarta
Sunday, February 22, 2026

Petani Buah Naga Banyuwangi Bangkit Lewat Klasterku Hidupku BRI

BANYUWANGI – Petani buah naga di Banyuwangi perlahan bangkit dari berbagai persoalan klasik pertanian, mulai dari serangan penyakit hingga harga yang kerap jatuh saat panen raya. Kebangkitan itu terwujud lewat Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang berkembang berkat pendampingan Program Klasterku Hidupku BRI.

Kelompok Panaba dipimpin Edy, petani yang sejak awal melihat buah naga sebagai peluang usaha jangka panjang. Ia mengajak petani lain membudidayakan buah naga secara kolektif hingga terbentuk klaster yang menjadi ruang berbagi, diskusi, dan mencari solusi bersama.

“Klaster buah naga ini kami bentuk tahun 2016. Waktu itu tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, tapi masalah juga ikut muncul. Ada penyakit, lalu pasar over saat panen. Dari situ kami sepakat membentuk Klaster Petani Buah Naga Panaba,” kata Edy.

Sejak klaster berdiri, para petani tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Panaba menjadi wadah untuk menyatukan langkah, berbagi informasi teknis, sekaligus memperkuat posisi petani di hadapan pasar.

Selain budidaya, klaster juga berperan menjaga stabilitas harga agar petani tidak dirugikan permainan tengkulak. Panaba menerapkan pedoman harga bagi pedagang yang tergabung dalam klaster.

Baca Juga :  Bank Kalteng Catat Laba Rp265,34 Miliar, Aset Tembus Rp20,53 Triliun

“Pedagang yang ikut klaster harus mengikuti pedoman harga. Kalau harga pasar Rp10.000, mereka wajib membeli dari petani minimal Rp7.000. Di luar klaster, sering ada yang membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” ujar Edy.

Diperkuat Pendampingan BRI

Perkembangan Klaster Panaba semakin terasa setelah mendapat pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi BRI sejak 2017. Dukungan ini menjawab kebutuhan petani, terutama dalam hal permodalan dan peningkatan kapasitas usaha.

Electronic money exchangers listing

“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu butuh modal besar. Kalau sendiri, berat,” tutur Edy.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi buah naga agar tidak bergantung pada musim. Inovasi ini sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak 2013 dan terbukti mampu menjaga konsistensi produksi sekaligus kualitas panen.

“BRI tidak hanya membantu modal. Ada juga pelatihan, mendatangkan pakar, sampai pendampingan teknis. Akses pinjaman pun dipermudah. Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, prosesnya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang memberatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Mengolah Produk Kearifan Lokal, Pisang Sale Mades Makin Berkembang lewat Pemberdayaan BRI

Menurut Edy, pendampingan tersebut membuat petani lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha. “Petani jadi lebih yakin. Tidak jalan sendiri,” katanya.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan Program Klasterku Hidupku dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas, terutama pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha. Di situ ada kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal,” ujarnya.

Ia berharap klaster yang berhasil berkembang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. “Cerita Klaster Panaba di Banyuwangi diharapkan bisa menjadi inspirasi dan direplikasi oleh pelaku usaha di daerah lain,” kata Akhmad.

Hingga akhir 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 klaster usaha dengan 3.001 kegiatan pemberdayaan, mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi. Fokus pembinaan diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah. ***

BANYUWANGI – Petani buah naga di Banyuwangi perlahan bangkit dari berbagai persoalan klasik pertanian, mulai dari serangan penyakit hingga harga yang kerap jatuh saat panen raya. Kebangkitan itu terwujud lewat Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang berkembang berkat pendampingan Program Klasterku Hidupku BRI.

Kelompok Panaba dipimpin Edy, petani yang sejak awal melihat buah naga sebagai peluang usaha jangka panjang. Ia mengajak petani lain membudidayakan buah naga secara kolektif hingga terbentuk klaster yang menjadi ruang berbagi, diskusi, dan mencari solusi bersama.

“Klaster buah naga ini kami bentuk tahun 2016. Waktu itu tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, tapi masalah juga ikut muncul. Ada penyakit, lalu pasar over saat panen. Dari situ kami sepakat membentuk Klaster Petani Buah Naga Panaba,” kata Edy.

Electronic money exchangers listing

Sejak klaster berdiri, para petani tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Panaba menjadi wadah untuk menyatukan langkah, berbagi informasi teknis, sekaligus memperkuat posisi petani di hadapan pasar.

Selain budidaya, klaster juga berperan menjaga stabilitas harga agar petani tidak dirugikan permainan tengkulak. Panaba menerapkan pedoman harga bagi pedagang yang tergabung dalam klaster.

Baca Juga :  Bank Kalteng Catat Laba Rp265,34 Miliar, Aset Tembus Rp20,53 Triliun

“Pedagang yang ikut klaster harus mengikuti pedoman harga. Kalau harga pasar Rp10.000, mereka wajib membeli dari petani minimal Rp7.000. Di luar klaster, sering ada yang membeli lebih murah. Untuk anggota klaster, kami beri kode dan panduan harga,” ujar Edy.

Diperkuat Pendampingan BRI

Perkembangan Klaster Panaba semakin terasa setelah mendapat pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi BRI sejak 2017. Dukungan ini menjawab kebutuhan petani, terutama dalam hal permodalan dan peningkatan kapasitas usaha.

“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu butuh modal besar. Kalau sendiri, berat,” tutur Edy.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi buah naga agar tidak bergantung pada musim. Inovasi ini sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak 2013 dan terbukti mampu menjaga konsistensi produksi sekaligus kualitas panen.

“BRI tidak hanya membantu modal. Ada juga pelatihan, mendatangkan pakar, sampai pendampingan teknis. Akses pinjaman pun dipermudah. Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, prosesnya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang memberatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Mengolah Produk Kearifan Lokal, Pisang Sale Mades Makin Berkembang lewat Pemberdayaan BRI

Menurut Edy, pendampingan tersebut membuat petani lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha. “Petani jadi lebih yakin. Tidak jalan sendiri,” katanya.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan Program Klasterku Hidupku dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas, terutama pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya membuka akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha. Di situ ada kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal,” ujarnya.

Ia berharap klaster yang berhasil berkembang dapat menjadi contoh bagi daerah lain. “Cerita Klaster Panaba di Banyuwangi diharapkan bisa menjadi inspirasi dan direplikasi oleh pelaku usaha di daerah lain,” kata Akhmad.

Hingga akhir 2025, BRI tercatat telah membina 42.682 klaster usaha dengan 3.001 kegiatan pemberdayaan, mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi. Fokus pembinaan diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah. ***

Terpopuler

Artikel Terbaru