SAMPIT, PROKALTENG.CO– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti dampak pemasangan jaringan pipa distribusi air bersih di Jalan Walter Condrat, yang dinilai mengganggu kondisi infrastruktur jalan yang sebelumnya sudah dalam keadaan baik.
Anggota Komisi IV DPRD Kotim, Dra Rinie mengungkapkan pihaknya menerima sejumlah laporan dari masyarakat terkait pembongkaran jalan akibat proyek pemasangan pipa tersebut. Ia menyayangkan kondisi jalan yang telah menelan anggaran besar untuk perbaikan justru kembali dibongkar.
“Kami menerima laporan soal kondisi di Jalan Walter Condrat. Ini tentu akan kami tanyakan ke pihak terkait. Sayang sekali jalannya, anggarannya besar untuk perbaikan, tapi tiba-tiba dibongkar lagi padahal kondisinya sudah bagus,” ujar Rinie di Sampit, Rabu.
Saat ini, Perumdam Tirta Mentaya Kotim tengah mengerjakan pemasangan jaringan pipa distribusi air bersih di sejumlah titik di Kota Sampit, termasuk di kawasan Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang.
Sebagai legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) II Kotim yang meliputi Kecamatan Baamang dan Seranau, Rinie mengaku menerima banyak pengaduan warga. Aktivitas penggalian pipa dinilai berdampak langsung pada kenyamanan pengguna jalan dan kelancaran lalu lintas.
Di lapangan, tumpukan tanah galian terlihat menutup hampir setengah badan jalan. Saat hujan turun dan terjadi genangan, material tanah ikut terbawa air dan menutupi permukaan aspal.
Akibatnya, jalan menjadi licin, becek, dan berlumpur meskipun banjir telah surut. Bahkan, sebagian aspal dilaporkan ikut terkelupas saat proses penggalian berlangsung.
“Kejadian seperti ini bukan kali pertama. Kami melihat hal serupa juga terjadi di sejumlah ruas jalan lain sebelumnya, termasuk di jalan-jalan besar seperti Jalan S. Parman,” imbuhnya.
Rinie pun mempertanyakan sejauh mana koordinasi Perumdam dengan dinas teknis terkait. Seperti Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP).
Menurutnya, koordinasi yang matang seharusnya dapat mencegah kerusakan jalan yang berulang. Ia menegaskan tidak menolak proyek Perumdam, karena penyediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat.
Rinie juga mengaitkan persoalan ini dengan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Baamang, di mana banyak aspirasi masyarakat yang belum dapat terakomodasi akibat keterbatasan anggaran.
DPRD berharap anggaran daerah yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dan efi sien, tidak hanya untuk satu sektor, tetapi juga untuk sektor strategis lain seperti pendidikan dan kesehatan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap anggaran yang ada bisa diprioritaskan untuk pendidikan dan kesehatan. Maka dari itu, jalan yang sudah ada perlu dijaga dan dirawat bersama agar tidak terus-menerus menghabiskan anggaran untuk perbaikan,” pungkas Rinie. (bah/ans)


