26.5 C
Jakarta
Sunday, July 14, 2024
spot_img

Ular Kelelawar

Berita baiknya: Tiongkok sudah
berpengalaman menangani wabah SARS 18 tahun lalu.

Yang begitu dahsyatnya. Yang
melumpuhkan seluruh negeri.

Maka kini Tiongkok dengan cepat
memutuskan: membangun rumah sakit raksasa khusus virus Wuhan.

Kapasitasnya: 1.000 tempat tidur.

Waktu pembangunannya: 7 hari,
dimulai kemarin.

Lokasi: Kota Wuhan bagian barat.

Soal bagaimana membangun begitu
kilat Tiongkok sudah teruji –pernah membangun satu stasiun kereta api peluru
hanya dalam 24 jam.

Semua pasien virus Wuhan
diisolasi di rumah sakit baru itu. Persis seperti ketika terjangkit wabah SARS
dulu.

Waktu itu sebuah RS khusus juga
dibangun. Lokasinya di luar kota Beijing. Desain dan ukurannya serupa.

Wabah SARS-pun bisa diatasi.
Korban berhasil diminimalisasikan.

Dibanding skalanya yang begitu
menakutkan, jumlah meninggal akibat SARS ‘hanya’ 700-an orang.

Yang terjadi di Kota Wuhan
sekarang ini memang tidak sama dengan SARS tapi virusnya masih dianggap
serumpun.

Berita baik lainnya: virus ini
tidak menyerang semua orang. Mayoritas pasien adalah yang kondisi badannya
memang sedang lemah. Usia mereka juga sudah tua.

Maka menjaga kondisi badan adalah
penting. Agar tetap sehat. Gaya hidup sehat juga penting. Memperkuat kondisi
tubuh juga penting.

Berita buruknya: terbukti virus
Wuhan ini sudah bisa menular dari manusia ke manusia.

Karena itu mengisolasi penderita
adalah langkah terbaik (Baca DI’s Way: Hongbao).

Inilah kisah seorang dokter ahli
pernapasan dari Beijing. Yang kini lagi viral di Tiongkok. Namanya: Wang
Guangfa.

Tempat tugasnya: Peking
University First Hospital.

Begitu tersiar berita ada virus
aneh di Wuhan ia pergi ke kota besar di Tiongkok tengah itu –2,5 jam
penerbangan dari Beijing.

Baca Juga :  Menghalalkan Mariyuana

Berhari-hari ia kurang tidur.
Melakukan penelitian dan penanganan akibat virus itu.

Begitu pulang ke Beijing badannya
demam. Suhu badannya panas.

Dr Wang mengira ia lagi terkena
flu. Akibat kelelahan di Wuhan. Tapi kok diberi obat flu tidak mempan. Dr Wang
pun melakukan test 2019-nCoV. Itulah nama virus Wuhan. Yang memberi nama
seperti itu adalah WHO –badan kesehatan dunia.

Ternyata dokter Wang positif
terkena virus Wuhan.

Dasar peneliti, dokter Wang pun
melakukan penelitian atas dirinya. Ia memikirkan dari mana bisa tertular virus
itu. Padahal ia mengenakan baju pelindung dan masker yang lengkap.

Ia pun mengambil kesimpulan:
virus itu menular lewat kornea mata. “Waktu itu kami mengenakan pelindung
yang terbaik. Dan kami mengenakan masker N95. Tapi kami tidak mengenakan kaca
pelindung mata,” tulisnya dalam medsos berbahasa Mandarin.

Ia pun ingat: tiga jam sebelum
demam itu mata kirinya tidak enak. Conjunctivitis. Infeksi pada selaput
bening mata. Ditandai dengan mata merah. Berair, keluar kotoran
mata. Kadang gatal dan disertai rasa tidak nyaman

Lantas suhu badannya panas.

Waktu matanya terasa seperti itu
dokter Wang merasa tidak ada yang salah dengan mata kirinya. Selama di Wuhan ia
tidak menangani pasien dengan sakit mata seperti itu.

Dokter Wang sendiri kini sudah
sembuh. Ini juga berita baik –agar kita tidak mudah panik. Dan bisa terus
memberi perhatian pada perbaikan kondisi badan.

Yang masih terus diperdebatkan
adalah: dari mana asal virus itu –dari kelelawar atau dari ular.

Baca Juga :  Lebaran dalam Kesederhanaan

Dua-duanya ikut dijual di pasar
Huanan Wholesale Seafood Market yang kini sudah ditutup. Yakni pasar besar di
tengah kota berpenduduk 11 juta orang itu.

Awalnya dipastikan virus itu dari
kelelawar. Tapi menimbulkan tanda tanya: bagaimana bisa menular ke manusia.
Padahal kesamaan gen antara keduanya hanya 70 persen.

Kemungkinan besar virus itu menular
dulu ke ular. Dari ular baru ke manusia. Para ahli menemukan stok virus seperti
itu di dua jenis ular kobra yang biasa dijual di pasar di sana.

Penelitian pun terus dilakukan.

Jumlah yang diserang virus ini
memang terus bertambah. Sampai tadi malam mencapai 800 orang lebih. Yang
meninggal mencapai 26 orang.

Wilayah cakupannya pun meluas.

Sudah mulai ada satu orang yang
meninggal di luar Provinsi Hubei –Wuhan adalah ibu kotanya.

Yakni dari Provinsi Hebei
–Beijing ada di dalam wilayah Provinsi Hebei.

Orang Hebei ini baru saja pulang
dari Hubei. Ia menengok keluarganya di Wuhan.

Dua bulan penuh ia di Wuhan. Tapi
karena sudah dekat tahun baru Imlek ia pun pulang ke Hebei.

Tidak lama setelah pulang ia
sakit demam. Badannya panas. Lalu meninggal.

Pemerintah setempat mengusut
siapa saja yang telah berhubungan dengan orang ini. Terutama sejak ia pulang
dari Wuhan. Jangan-jangan sudah ada yang tertular.

Ditemukanlah ada 76 orang. Mereka
diisolasi. Diperiksa satu persatu. Ditest nCov. Hasilnya: semua negatif, tidak
ada yang tertular.

Usia orang yang meninggal dunia
itu: 80 tahun.(Dahlan Iskan)

 

Berita baiknya: Tiongkok sudah
berpengalaman menangani wabah SARS 18 tahun lalu.

Yang begitu dahsyatnya. Yang
melumpuhkan seluruh negeri.

Maka kini Tiongkok dengan cepat
memutuskan: membangun rumah sakit raksasa khusus virus Wuhan.

Kapasitasnya: 1.000 tempat tidur.

Waktu pembangunannya: 7 hari,
dimulai kemarin.

Lokasi: Kota Wuhan bagian barat.

Soal bagaimana membangun begitu
kilat Tiongkok sudah teruji –pernah membangun satu stasiun kereta api peluru
hanya dalam 24 jam.

Semua pasien virus Wuhan
diisolasi di rumah sakit baru itu. Persis seperti ketika terjangkit wabah SARS
dulu.

Waktu itu sebuah RS khusus juga
dibangun. Lokasinya di luar kota Beijing. Desain dan ukurannya serupa.

Wabah SARS-pun bisa diatasi.
Korban berhasil diminimalisasikan.

Dibanding skalanya yang begitu
menakutkan, jumlah meninggal akibat SARS ‘hanya’ 700-an orang.

Yang terjadi di Kota Wuhan
sekarang ini memang tidak sama dengan SARS tapi virusnya masih dianggap
serumpun.

Berita baik lainnya: virus ini
tidak menyerang semua orang. Mayoritas pasien adalah yang kondisi badannya
memang sedang lemah. Usia mereka juga sudah tua.

Maka menjaga kondisi badan adalah
penting. Agar tetap sehat. Gaya hidup sehat juga penting. Memperkuat kondisi
tubuh juga penting.

Berita buruknya: terbukti virus
Wuhan ini sudah bisa menular dari manusia ke manusia.

Karena itu mengisolasi penderita
adalah langkah terbaik (Baca DI’s Way: Hongbao).

Inilah kisah seorang dokter ahli
pernapasan dari Beijing. Yang kini lagi viral di Tiongkok. Namanya: Wang
Guangfa.

Tempat tugasnya: Peking
University First Hospital.

Begitu tersiar berita ada virus
aneh di Wuhan ia pergi ke kota besar di Tiongkok tengah itu –2,5 jam
penerbangan dari Beijing.

Baca Juga :  Menghalalkan Mariyuana

Berhari-hari ia kurang tidur.
Melakukan penelitian dan penanganan akibat virus itu.

Begitu pulang ke Beijing badannya
demam. Suhu badannya panas.

Dr Wang mengira ia lagi terkena
flu. Akibat kelelahan di Wuhan. Tapi kok diberi obat flu tidak mempan. Dr Wang
pun melakukan test 2019-nCoV. Itulah nama virus Wuhan. Yang memberi nama
seperti itu adalah WHO –badan kesehatan dunia.

Ternyata dokter Wang positif
terkena virus Wuhan.

Dasar peneliti, dokter Wang pun
melakukan penelitian atas dirinya. Ia memikirkan dari mana bisa tertular virus
itu. Padahal ia mengenakan baju pelindung dan masker yang lengkap.

Ia pun mengambil kesimpulan:
virus itu menular lewat kornea mata. “Waktu itu kami mengenakan pelindung
yang terbaik. Dan kami mengenakan masker N95. Tapi kami tidak mengenakan kaca
pelindung mata,” tulisnya dalam medsos berbahasa Mandarin.

Ia pun ingat: tiga jam sebelum
demam itu mata kirinya tidak enak. Conjunctivitis. Infeksi pada selaput
bening mata. Ditandai dengan mata merah. Berair, keluar kotoran
mata. Kadang gatal dan disertai rasa tidak nyaman

Lantas suhu badannya panas.

Waktu matanya terasa seperti itu
dokter Wang merasa tidak ada yang salah dengan mata kirinya. Selama di Wuhan ia
tidak menangani pasien dengan sakit mata seperti itu.

Dokter Wang sendiri kini sudah
sembuh. Ini juga berita baik –agar kita tidak mudah panik. Dan bisa terus
memberi perhatian pada perbaikan kondisi badan.

Yang masih terus diperdebatkan
adalah: dari mana asal virus itu –dari kelelawar atau dari ular.

Baca Juga :  Lebaran dalam Kesederhanaan

Dua-duanya ikut dijual di pasar
Huanan Wholesale Seafood Market yang kini sudah ditutup. Yakni pasar besar di
tengah kota berpenduduk 11 juta orang itu.

Awalnya dipastikan virus itu dari
kelelawar. Tapi menimbulkan tanda tanya: bagaimana bisa menular ke manusia.
Padahal kesamaan gen antara keduanya hanya 70 persen.

Kemungkinan besar virus itu menular
dulu ke ular. Dari ular baru ke manusia. Para ahli menemukan stok virus seperti
itu di dua jenis ular kobra yang biasa dijual di pasar di sana.

Penelitian pun terus dilakukan.

Jumlah yang diserang virus ini
memang terus bertambah. Sampai tadi malam mencapai 800 orang lebih. Yang
meninggal mencapai 26 orang.

Wilayah cakupannya pun meluas.

Sudah mulai ada satu orang yang
meninggal di luar Provinsi Hubei –Wuhan adalah ibu kotanya.

Yakni dari Provinsi Hebei
–Beijing ada di dalam wilayah Provinsi Hebei.

Orang Hebei ini baru saja pulang
dari Hubei. Ia menengok keluarganya di Wuhan.

Dua bulan penuh ia di Wuhan. Tapi
karena sudah dekat tahun baru Imlek ia pun pulang ke Hebei.

Tidak lama setelah pulang ia
sakit demam. Badannya panas. Lalu meninggal.

Pemerintah setempat mengusut
siapa saja yang telah berhubungan dengan orang ini. Terutama sejak ia pulang
dari Wuhan. Jangan-jangan sudah ada yang tertular.

Ditemukanlah ada 76 orang. Mereka
diisolasi. Diperiksa satu persatu. Ditest nCov. Hasilnya: semua negatif, tidak
ada yang tertular.

Usia orang yang meninggal dunia
itu: 80 tahun.(Dahlan Iskan)

 

spot_img
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutnya
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru