32.8 C
Jakarta
Sunday, June 16, 2024
spot_img

Pulang!

Kevin harus “zoom”. Pukul 17.00 waktu California. Berarti pukul 07.00 di Semarang. Sekolahnya, Kolese Loyola, minta Kevin Herjono memberikan motivasi untuk siswa di sana.

Maka sejak satu jam sebelum Carmel ganti saya yang jadi sopir. Yakni sejak memasuki pegunungan yang penuh kebun anggur itu: Tapa.

Turis banyak yang berhenti di pegunungan ini: minum wine bikinan pabrik di atas gunung itu. Suami Janet menolak tawaran saya untuk mencoba minum anggur merah California.

Awalnya Kevin akan “zoom” pakai earphone. Saya bilang padanya: bolehkah ikut mendengarkannya. Maka satu jam itu saya tahu perjalanan hidup anak muda itu.

Kevin terobsesi kuliah di Amerika dari pamannya. Sang paman bekerja di Chicago. Sejak remaja ia membayangkan enaknya Amerika.

Kevin menyadari keterbatasan diri dan keluarganya. Ayahnya seorang pengacara di Semarang tapi bukan pengacara kaya.

Ia sendiri tahu diri: bukan tergolong paling pintar di kelasnya. Juga bukan kelas IPA. Ia IPS. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun belum bagus.

Maka ia cari sendiri tempat kuliah yang bukan untuk para bintang. Ia masuk universitas yang tidak berbintang.

Universitas itu ada di kota kecil Savanah, pelosok tenggara Georgia. Ia harus masuk kelas bahasa dulu selama enam bulan.

Agar istimewa Kevin mencari mata kuliah yang tidak umum. Jalan pikirannya: apa yang kira-kira akan dibutuhkan di Indonesia 10 tahun setelah ia masuk kuliah.

Baca Juga :  Gemah Ripah

Ia putuskan: special effect. Ia meleset dengan perkiraan 10 tahunnya itu tapi itulah jalan hidupnya sampai dapat pekerjaan di grup Walt Disney.

Waktu memilih jurusan itu Kevin punya kendala besar: ia tidak bisa menggambar. Pun tidak menyukai menggambar. Profesor di kampus itu yang mengubah cara berpikirnya.

“Saya tidak bisa menggambar,” ujar Kevin pada profesor itu.

“Justru kalau kamu sudah bisa menggambar untuk apa ambil jurusan ini.”

“Tapi nilai saya nanti kan jelek?” tanya Kevin.

“Di sini nilai tidak ditentukan oleh kualitas gambar. Tapi seberapa maju perkembangan Anda dalam menggambar. Dulu bisa apa, sekarang sudah bisa apa.”

 

Ucapan pendidik seperti itu yang membuat tekad Kevin bulat di jurusan special effect. Guru menghidupkan minat siswa.

Tiba di San Fransisco kami tidak menginap di rumah teman lama maupun teman baru. Saya menginap di rumah temannya teman. Agak sungkan juga dapat gratisan jenis itu.

Ia teman satu kelas suaminya Janet. Tinggalnya di Palo Alto. Di kawasan Silicon Valley. Tidak jauh dari kampus Stanford University.

Ia juga punya rumah di Beijing. Istrinya lagi pulang ke Beijing. Anak pertamanya sudah kerja di New York. Yang kedua kuliah di kota lain. Ia lagi bujangan. Kamarnya lima. Halaman belakangnya bisa untuk senam dansa.

Rumahnya di Beijing di dekat universitas terbaik di Tiongkok: Tsinghua University. Yang di California dekat Stanford.

Baca Juga :  Khalistan Rashtra

Ia sendiri lulusan teknologi penerbangan di universitas kota kecil di Tiongkok. Cita-citanya kuliah di universitas terbaik tidak kesampaian. Tapi dua rumahnya, semua, kini di dekat universitas terbaik di dua negara.

Kevin kelihatan gelisah ketika tahu tidak bermalam di hotel. “Masak saya harus bermalam di rumah temannya temannya teman,” katanya dalam bahasa Jawa Semarangan.

Proses memiliki teman baru ternyata berliku. Tapi rupanya sulit juga bagi Kevin untuk bisa berteman baru dengan tuan rumah. Beda generasi. Ngobrol pun sulit: harus lewat saya sebagai penerjemah. Meski sudah delapan tahun di Amerika kelihatannya ia masih sulit untuk ngobrol dalam bahasa Inggris.

Dua hari di San Fransisco kami asyik-asyik saja. Selalu berlima. Pakai BMW SUV milik tuan rumah. Yang termuda yang jadi sopir: Kevin. Ia lebih menguasai peta San Fransisco. Apalagi salah satu tujuannya adalah ke kantor pusat Lucas Film.

Dari salah satu gedung Lucas Film itu kami bisa melihat Golden Gate. Juga bisa melihat Palace of Fine Art. Maka setelah keliling Lucas Film kami pun ke dua lokasi itu. Dekat sekali. Hanya segelindingan roda. Sesekali me time.

Tentu saya juga diantar ke Stanford University. Juga ke Apple. Semua berdekatan –kalau pakai mobil. Kawasan Silicon Valley begitu gemah ripahnya.

Saya potong rambut di situ. Pesiapan pulang! (Dahlan Iskan)

Kevin harus “zoom”. Pukul 17.00 waktu California. Berarti pukul 07.00 di Semarang. Sekolahnya, Kolese Loyola, minta Kevin Herjono memberikan motivasi untuk siswa di sana.

Maka sejak satu jam sebelum Carmel ganti saya yang jadi sopir. Yakni sejak memasuki pegunungan yang penuh kebun anggur itu: Tapa.

Turis banyak yang berhenti di pegunungan ini: minum wine bikinan pabrik di atas gunung itu. Suami Janet menolak tawaran saya untuk mencoba minum anggur merah California.

Awalnya Kevin akan “zoom” pakai earphone. Saya bilang padanya: bolehkah ikut mendengarkannya. Maka satu jam itu saya tahu perjalanan hidup anak muda itu.

Kevin terobsesi kuliah di Amerika dari pamannya. Sang paman bekerja di Chicago. Sejak remaja ia membayangkan enaknya Amerika.

Kevin menyadari keterbatasan diri dan keluarganya. Ayahnya seorang pengacara di Semarang tapi bukan pengacara kaya.

Ia sendiri tahu diri: bukan tergolong paling pintar di kelasnya. Juga bukan kelas IPA. Ia IPS. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun belum bagus.

Maka ia cari sendiri tempat kuliah yang bukan untuk para bintang. Ia masuk universitas yang tidak berbintang.

Universitas itu ada di kota kecil Savanah, pelosok tenggara Georgia. Ia harus masuk kelas bahasa dulu selama enam bulan.

Agar istimewa Kevin mencari mata kuliah yang tidak umum. Jalan pikirannya: apa yang kira-kira akan dibutuhkan di Indonesia 10 tahun setelah ia masuk kuliah.

Baca Juga :  Gemah Ripah

Ia putuskan: special effect. Ia meleset dengan perkiraan 10 tahunnya itu tapi itulah jalan hidupnya sampai dapat pekerjaan di grup Walt Disney.

Waktu memilih jurusan itu Kevin punya kendala besar: ia tidak bisa menggambar. Pun tidak menyukai menggambar. Profesor di kampus itu yang mengubah cara berpikirnya.

“Saya tidak bisa menggambar,” ujar Kevin pada profesor itu.

“Justru kalau kamu sudah bisa menggambar untuk apa ambil jurusan ini.”

“Tapi nilai saya nanti kan jelek?” tanya Kevin.

“Di sini nilai tidak ditentukan oleh kualitas gambar. Tapi seberapa maju perkembangan Anda dalam menggambar. Dulu bisa apa, sekarang sudah bisa apa.”

 

Ucapan pendidik seperti itu yang membuat tekad Kevin bulat di jurusan special effect. Guru menghidupkan minat siswa.

Tiba di San Fransisco kami tidak menginap di rumah teman lama maupun teman baru. Saya menginap di rumah temannya teman. Agak sungkan juga dapat gratisan jenis itu.

Ia teman satu kelas suaminya Janet. Tinggalnya di Palo Alto. Di kawasan Silicon Valley. Tidak jauh dari kampus Stanford University.

Ia juga punya rumah di Beijing. Istrinya lagi pulang ke Beijing. Anak pertamanya sudah kerja di New York. Yang kedua kuliah di kota lain. Ia lagi bujangan. Kamarnya lima. Halaman belakangnya bisa untuk senam dansa.

Rumahnya di Beijing di dekat universitas terbaik di Tiongkok: Tsinghua University. Yang di California dekat Stanford.

Baca Juga :  Khalistan Rashtra

Ia sendiri lulusan teknologi penerbangan di universitas kota kecil di Tiongkok. Cita-citanya kuliah di universitas terbaik tidak kesampaian. Tapi dua rumahnya, semua, kini di dekat universitas terbaik di dua negara.

Kevin kelihatan gelisah ketika tahu tidak bermalam di hotel. “Masak saya harus bermalam di rumah temannya temannya teman,” katanya dalam bahasa Jawa Semarangan.

Proses memiliki teman baru ternyata berliku. Tapi rupanya sulit juga bagi Kevin untuk bisa berteman baru dengan tuan rumah. Beda generasi. Ngobrol pun sulit: harus lewat saya sebagai penerjemah. Meski sudah delapan tahun di Amerika kelihatannya ia masih sulit untuk ngobrol dalam bahasa Inggris.

Dua hari di San Fransisco kami asyik-asyik saja. Selalu berlima. Pakai BMW SUV milik tuan rumah. Yang termuda yang jadi sopir: Kevin. Ia lebih menguasai peta San Fransisco. Apalagi salah satu tujuannya adalah ke kantor pusat Lucas Film.

Dari salah satu gedung Lucas Film itu kami bisa melihat Golden Gate. Juga bisa melihat Palace of Fine Art. Maka setelah keliling Lucas Film kami pun ke dua lokasi itu. Dekat sekali. Hanya segelindingan roda. Sesekali me time.

Tentu saya juga diantar ke Stanford University. Juga ke Apple. Semua berdekatan –kalau pakai mobil. Kawasan Silicon Valley begitu gemah ripahnya.

Saya potong rambut di situ. Pesiapan pulang! (Dahlan Iskan)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru