Kritik ini ditujukan pada pilihan untuk tetap berada di dalam ruang gerakan sambil membawa mandat dan kepentingan institusi negara.
Dua posisi tersebut tidak dapat dijalankan secara bersamaan tanpa menimbulkan konflik etik yang serius.
Maka sikap yang paling bertanggung jawab bagi mahasiswa yang telah memilih jalan sebagai intel adalah mengundurkan diridari seluruh organisasi kemahasiswaan dan melepaskan identitas aktivis yang selama ini melekat padanya.
Tidak ada yang salah dengan pilihan profesinya.
Yang bermasalah adalah ketika seseorang masih ingin berdiri di dua kaki sekaligus: mengakubagian dari gerakan yang mengawasi kekuasaan, sembari menjadi bagian dari instrumen kekuasaan itu sendiri.
Jika benar ingin berkontribusi bagi bangsa melalui institusi kepolisian, lakukanlah secara terbuka dan penuh tanggungjawab.
Tetapi jangan meminta gerakan mahasiswa menerima kaburnya batas antara pengawas dan yang diawasi.
Kasus ISPA di Palangka Raya meningkat hingga 15 persen dalam dua pekan terakhir.
Karhutla di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, masih belum padam sejak awal Juli. Bupati…
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai membagikan sedikitnya 15 ribu masker kepada masyarakat.…
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyambut positif hasil reses anggota DPRD Kotim, yang dinilai menjadi…
Wakil Bupati Seruyan H. Supian. Menghadiri kegiatan penanaman serentak Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 yang…
Bek timnas Inggris John Stones dilaporkan telah mencapai kesepakatan lisan untuk bergabung dengan Inter Milan.…