Categories: Ekobis

Kenaikan BI Rate Jadi Sinyal Waspada, Ekonom Kalteng Soroti Risiko Ekonomi

Dampak terhadap IHSG

Rio menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate biasanya menjadi sentimen yang kurang disukai pasar saham dalam jangka pendek.

Ketika bunga naik, biaya pinjaman perusahaan meningkat, ekspansi bisnis menjadi lebih mahal, konsumsi masyarakat berpotensi melambat, dan investor memiliki alternatif investasi yang lebih menarik seperti deposito maupun obligasi.

“Akibatnya, IHSG sering kali mengalami tekanan sesaat setelah kenaikan suku bunga diumumkan. Namun penting dipahami bahwa pasar saham dan ekonomi riil tidak selalu bergerak searah,” katanya.

Menurutnya, IHSG bergerak berdasarkan ekspektasi, sedangkan ekonomi riil bergerak berdasarkan produktivitas.

“Karena itu, penurunan IHSG tidak selalu berarti ekonomi sedang memburuk. Sebaliknya, terkadang pasar justru sedang melakukan penyesuaian terhadap kondisi baru yang muncul,” ungkapnya.

Hot Money dan Risiko Ketergantungan

Rio menyebut aspek yang menarik untuk dikaji adalah kualitas dana yang masuk setelah BI Rate dinaikkan.

Apabila dana yang masuk berupa investasi produktif seperti pembangunan pabrik, investasi industri, proyek hilirisasi, maupun pengembangan teknologi, maka dampaknya akan memperkuat ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Namun jika yang masuk lebih banyak berupa modal portofolio jangka pendek atau hot money, stabilitas yang tercipta berpotensi hanya bersifat sementara.

Hot money memiliki karakter masuk cepat dan keluar juga cepat. Hari ini masuk karena bunga menarik, besok bisa keluar ketika ada peluang yang lebih menarik di negara lain. Inilah mengapa kenaikan suku bunga sering dianggap sebagai instrumen stabilisasi, bukan solusi struktural,” jelasnya.

Faktor Kepercayaan

Rio menilai ada satu faktor penting yang sering tidak tercatat dalam statistik ekonomi, tetapi sangat menentukan arah pasar, yakni kepercayaan (trust).

Investor, menurutnya, tidak hanya menanamkan modal karena melihat angka pertumbuhan ekonomi. Mereka juga membeli keyakinan terhadap masa depan.

“Mereka ingin melihat arah kebijakan yang jelas, regulasi yang konsisten, kepastian hukum, serta program nasional yang memiliki target dan hasil yang terukur,” katanya.

Karena itu, menurut Rio, yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut mampu meningkatkan kepercayaan investor, membuat dunia usaha lebih optimistis, meningkatkan investasi produktif, dan menumbuhkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masa depan.

“Sebab pada akhirnya pasar akan merespons persepsi sebelum merespons data,” ujarnya.

Page: 1 2 3

M Hafidz

Recent Posts

Enam Tersangka Karhutla Tumbang Nusa Ditahan, Polisi Periksa 15 Saksi

Polres Pulang Pisau menetapkan enam tersangka kasus Karhutla di Tumbang Nusa setelah memeriksa 15 saksi…

3 hours ago

Truk Trailer Bermuatan Tiga Ekskavator Terbalik di Bukit Angker, Jalur Kalteng–Kalbar Lumpuh 19 Jam

Sebuah truk trailer bermuatan tiga unit ekskavator terbalik di tanjakan Bukit Angker, Kecamatan Delang, Kabupaten…

3 hours ago

Bupati Barito Utara Panggil Manager PLN, Soroti Ketidakadilan Pemadaman Listrik

Bupati Barito Utara, H Shalahuddin ST MT, mengundang Manager ULP PLN Barito Utara, Pandu Andoka,…

4 hours ago

Ingatkan Bahaya ISPA di Musim Kemarau, Begini Kata Lita

Anggota DPRD Murung Raya Lita Norfiana himbau masyarakat berhati-hati dalam musim kemarau. Sebab sering terjadi…

4 hours ago

Pencegahan Stunting, Kader Desa Diberi Bekal Pelatihan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Murung Raya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga…

4 hours ago

Karhutla di Tumbang Nusa Belum Padam, Luasan Terbakar Capai 50 Hektare

Karhutla di Tumbang Nusa belum padam setelah berlangsung selama 26 hari. Lebih dari 50 hektare…

5 hours ago