
Ketua majelis pustaka dan informasi PWM Kalteng yang juga Kaprodi ikom UMPR Dr.Junaidi.(Foto : mg2/prokalteng.co)
PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO – Aktivitas perkuliahan mahasiswa ikut terdampak akibat tebalnya kabut asap di Kota Palangka Raya. Selain mengganggu mobilitas menuju kampus, kondisi udara yang memburuk juga menjadi pertimbangan perguruan tinggi dalam menentukan pola pembelajaran.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Tengah. Sekaligus Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR), Dr. Junaidi. Mengatakan kabut asap memberikan dampak cukup luas, termasuk terhadap proses belajar-mengajar mahasiswa.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kendala ketika perkuliahan dilakukan secara tatap muka. Karena itu, sejumlah fakultas mengambil kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sebagai langkah untuk menjaga kesehatan sekaligus kenyamanan mahasiswa.
“Untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar, maka dilakukan kebijakan PJJ,” kata Junaidi,Minggu (27/9/2026).
Meski menjadi solusi di tengah kondisi asap, pria murah senyum ini menilai pembelajaran daring tetap memiliki keterbatasan dibandingkan perkuliahan tatap muka.
Namun, ia menyebut PJJ tetap dapat berjalan efektif apabila dosen mampu membuat proses pembelajaran lebih interaktif. Materi dapat disampaikan melalui video, presentasi, tanya jawab, kuis hingga pembahasan kasus.
“PJJ nya itu tidak hanya monoton. Dosen bicara atau membaca buku saja tentu tidak menarik. Bisa diselingi video, tanya jawab, kuis dan contoh kasus,” ujarnya.
Selain pola pembelajaran, komunikasi kampus dengan mahasiswa dinilai penting selama kondisi kabut asap. Informasi mengenai kebijakan perkuliahan, kondisi udara dan risiko kesehatan perlu disampaikan secara jelas agar mahasiswa dapat mengambil langkah pencegahan.
Junaidi juga mengingatkan mahasiswa yang memiliki gangguan pernapasan. Seperti asma untuk lebih waspada terhadap paparan asap. Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui informasi mengenai kondisi udara dan mengikuti imbauan dari lembaga resmi.
Di tengah banyaknya informasi mengenai karhutla di media sosial, mahasiswa juga diminta tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Ia mendorong mahasiswa mengandalkan sumber resmi. Seperti BMKG, BNPB, BPBD maupun lembaga terkait lainnya ketika mendapatkan informasi mengenai kualitas udara, cuaca ataupun penanganan karhutla.
“Ketika semuanya berbasis data, mahasiswa itu menyebarkan fakta-fakta yang ada. Pada intinya adalah memberikan edukasi dan pencerahan kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa juga dapat mengambil peran lebih luas dengan menyampaikan edukasi melalui media sosial maupun terlibat dalam kegiatan social. Seperti pembagian masker dan vitamin kepada masyarakat terdampak.
Ia menekankan, langkah tersebut dapat dimulai dari menjaga kesehatan diri sendiri, kemudian keluarga dan lingkungan sekitar.
“Yang pertama menjaga diri sendiri dulu dengan disiplin bermasker, kemudian keluarga, kemudian lebih luas ke tengah masyarakat,” pungkasnya.(mg2)
Kerajinan getah nyatu karya warga binaan Lapas Kasongan dibeli Kanwil Kemenkum untuk cenderamata resmi.
Saat karier para bintang tenis berakhir dan mereka meletakkan raket untuk terakhir kalinya, sulit untuk…
Ayam Taliwang menjadi salah satu kuliner khas Lombok yang dikenal dengan perpaduan rasa gurih, pedas,…
Soto banjar merupakan salah satu kuliner khas Kalimantan Selatan yang terkenal di Indonesia. Hidangan ini…
Hubungan antarmanusia tidak selalu berjalan sederhana. Ada kalanya seseorang memilih menyembunyikan rasa kecewa, kesal, atau…
Kondisi finansial seseorang tidak selalu ditentukan oleh besarnya pendapatan. Cara berpikir dan kebiasaan dalam menggunakan…