Namun, melihat persoalan ini semata-mata dari sisi berkurangnya anggaran juga kurang tepat.
Pengalaman menunjukkan bahwa besarnya anggaran tidak selalu sejalan dengan kualitas pembangunan.
Masalah utama yang dihadapi banyak daerah bukan hanya keterbatasan dana, melainkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaannya.
Karena itu, era efisiensi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan transformasi tata kelola pembangunan daerah.
Paradigma pembangunan perlu bergeser dari spending oriented menjadi result oriented.
Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari seberapa besar anggaran yang dibelanjakan, melainkan dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Langkah pertama adalah memperkuat PAD sebagai fondasi kemandirian fiskal daerah.
Upaya ini dapat dilakukan melalui inovasi ekonomi lokal, digitalisasi pajak dan retribusi daerah, optimalisasi aset daerah, serta pengembangan sektor unggulan yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.
Daerah yang mampu mengubah potensi ekonominya menjadi sumber penerimaan yang produktif akan memiliki ruang fiskal yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Langkah kedua adalah memperluas kemitraan dengan sektor swasta melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Murung Raya, Dina Maulidah, mendorong agar keberadaan seni dan budaya…
Kondisi Sungai Kahayan di kawasan Pelabuhan Rambang, Kota Palangka Raya saat ini tengah mengalami penyurutan.…
Program SMK Go Global menyiapkan 500 ribu calon pekerja migran dengan kompetensi yang disesuaikan kebutuhan…
Dua Bhabinkamtibmas Polres Barsel masuk nominasi Kompolnas Award 2026 tingkat nasional berkat inovasi dan pengabdian…
Bupati Barsel Eddy Raya mengapresiasi dua personel Polres Barsel yang masuk nominasi Kompolnas Awards 2026…
Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Pariwisata DPD I Partai Golkar Kalimantan Tengah (Kalteng), Purdiono,…