Namun, melihat persoalan ini semata-mata dari sisi berkurangnya anggaran juga kurang tepat.
Pengalaman menunjukkan bahwa besarnya anggaran tidak selalu sejalan dengan kualitas pembangunan.
Masalah utama yang dihadapi banyak daerah bukan hanya keterbatasan dana, melainkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaannya.
Karena itu, era efisiensi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan transformasi tata kelola pembangunan daerah.
Paradigma pembangunan perlu bergeser dari spending oriented menjadi result oriented.
Keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari seberapa besar anggaran yang dibelanjakan, melainkan dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.
Langkah pertama adalah memperkuat PAD sebagai fondasi kemandirian fiskal daerah.
Upaya ini dapat dilakukan melalui inovasi ekonomi lokal, digitalisasi pajak dan retribusi daerah, optimalisasi aset daerah, serta pengembangan sektor unggulan yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.
Daerah yang mampu mengubah potensi ekonominya menjadi sumber penerimaan yang produktif akan memiliki ruang fiskal yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Langkah kedua adalah memperluas kemitraan dengan sektor swasta melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Saat membahas mobil listrik, baterai menjadi komponen yang paling sering menimbulkan kekhawatiran. Banyak orang beranggapan…
Setelah FIFA Series dan FIFA Matchday, Timnas Indonesia memiliki sederet hajatan penting di tahun 2026.
Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kalimantan Selatan menggagalkan peredaran 128,7 kilogram sabu yang diduga terkait…
Presiden RI Prabowo Subianto meminta Ketua Umum PSSI yang juga Menteri Pemuda dan Olahraga Erick…
Polres Barito Selatan bersama jajaran Polsek menggelar bakti religi dengan membersihkan sejumlah tempat ibadah dan…
PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Proyek (UP2) Kalimantan Tengah menargetkan seluruh desa di Kabupaten…