Categories: Sastra

Memindahkan Kota dan Seisinya

***
”Jangan! Di koper itu ada kepala sopir taksi botak!” Ning menjerit dari balik masker saat koper mau ditimbang dan orang-orang menoleh curiga, dan petugas keamanan berlari sigap dengan senjata yang bukan termometer tembak.

Itu terjadi pukul setengah empat sore di bandara lokal. Sabtu terakhir di bulan Juni. Kasus virus sedang terkendali. Ketika itu, belum ada lonjakan kasus virus baru. Mendekati libur musim panas. Kami sudah menerima surel PCR negatif sebelum naik taksi.

Ketika turun dari taksi; pindai kode pelacakan depan pintu masuk terminal 3; biru tanda sehat dan tidak kontak dekat baru boleh masuk; barisan maksimal lima orang; seorang petugas perempuan memerika aplikasi pemantai, lalu menebah-nebah kertas kuning seperti membaca mantra ke koper kami yang berisi ringkasan alat-alat kehidupan; tiga polisi menjaga pita pembatas dan memastikan setiap orang menjaga jarak dengan berdiri pada gambar telapak kaki kuning.

Setelah pemeriksaan identitas, foto wajah, lalu barang bawaan, lalu saat memasukkan koper bagasi di konter maskapai itulah, anakku membuat orang curiga.

Petugas tiket memintaku pergi ke ruang pemeriksaan layaknya orang yang kopernya kena alarm merah.

”Mr Kurniawan?” tanya petugas lelaki dengan kereng saat memeriksa nama di komputernya, lalu menghadapku.”Ya,” kataku dalam bahasa Inggris dalam masker medis biru.”Buka!” perintahnya.

Aku membukanya dengan santai karena mustahil gambar-gambar itu benar-benar hidup kembali di dalam koper. Itu terlalu fiksi, pikirku. Ini hanya permainan imajinasi bersama anakku. Benar, lihat saja kalau tidak percaya, isinya tetap berupa mainannya, dan kertas-kertas bergambar kota dan seisinya.

”Kepala sopir taksi botak?” tanyanya.”Ini,” kutunjukkan gambar padanya di antara gambar manusia lain.Dia tetap menatap dengan serius. Kupikir dia terlalu serius dengan tugasnya atau tugasnya memang harus sangat serius.

”Buat apa?” tanyanya dari balik masker hitam.
”Anakku terlalu mencintai kota ini. Dia tidak mau pergi kecuali seluruh isinya ikut bersamanya. Jadi ini yang kulakukan. Kalau dia melihatmu, dia pasti ingin kami ikut serta bersama kami.”

Page: 1 2 3 4 5 6

Jony

Share
Tags: Sastra

Recent Posts

Resep Nasi Goreng Kampung

Resep Nasi Goreng Kampung

Nasi goreng kampung selalu punya tempat istimewa di hati pecinta kuliner Nusantara. Tanpa tambahan saus…

14 hours ago

Dinas Pertanian dan Perikanan Mura Apresiasi Raperda Pengelolaan Kelompok Tani

Rencana penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Kelompok Tani oleh DPRD Kabupaten Murung Raya…

14 hours ago

Rumor Rizky Ridho Diincar 2 Klub Eropa, FCV Dender dan Borussia Monchengladbach

Rumor kepindahan bek tangguh Persija Jakarta, Rizky Ridho, kembali memanas jelang bursa transfer musim 2026/2027.…

14 hours ago

Pergerakan Pemudik di Kalteng Diprediksi
 Capai 300 Ribu Orang

Dishub Kalteng memprediksi sekitar 300 ribu masyarakat akan melakukan perjalanan selama arus mudik Ramadan 2026,…

14 hours ago

Dewan Dorong Terobosan Kebijakan Retribusi Daerah

Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Akhirudin menekankan pentingnya terobosan kebijakan retribusi daerah guna mendorong peningkatan…

14 hours ago

Resep Sate Padang Kuah Kental

Sate Padang dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Minangkabau yang punya cita rasa kuat, berani,…

14 hours ago