Categories: Sastra

Memindahkan Kota dan Seisinya

Sementara, aku pun harus membawa Yu Hua, Mo Yan, Li Bai ke dalam koper satunya, maksudku karya-karya mereka. Nah, tiba-tiba aku dapat ide.
***
Pukul sebelas, kami kembali dari tes PCR. Tempatnya di laboratorium rumah sakit pinggir kota. Hanya di sana yang tersedia; berjarak 40 menit; masuk gerbang pindai kode kesehatan sebagaimana saat masuk taksi; saat semua bertanda sehat hijau dan lencana emas tanda sudah vaksin ganda maka boleh; saat masuk diantar penjaga ke arah lab yang sepi; petugas perempuan muncul; sampel di hidung diambil; tunjukkan paspor; bayar dengan pindai kode bar uang digital; selesai dan petugas bilang dalam bahasa Mandarin pukul tiga sore hasil akan disurelkan.

Sekarang masih ada empat jam sebelum harus ke bandara pukul tiga sore nanti. Permintaan Ning belum kuturuti.

Kondisi apartemen berantakan dengan barang-barang yang tampak tidak berguna bagi yang satu, tapi penting bagi yang lain.

Bagi istriku buku-buku fiksi itu harusnya tidak berguna karena aku sudah membacanya, sementara bagiku membawa alat rumah tangga ke dalam koper membuatnya mirip peserta audisi MasterChef, dan bagi anakku semua mainannya harus ikut pergi ke mana dia pergi.

Seakan boneka Tedy Bear, kereta Thomas, panda Baby Bus, dan boneka hiu martil itu sudah masuk ke dalam kartu keluarga kami secara resmi. Sekarang ditambah daftar panjang yang hampir mustahil.

Apa yang harus kulakukan? Istriku bisa terdiam saat kutunjukkan hasil pengadilan hakim timbangan digital bahwa berat koper mendekati batas maksimal. Anakku?
***
”Lihat, ayah punya pensil ajaib,” kataku pada Ning setelah dia bangun dan akhirnya aku berbohong. Pensil ”2B for computer” itu sebenarnya biasa saja dan mudah dibeli di toko alat tulis di seluruh dunia.

Hanya kuberi topi hitam penyihir kecil di atasnya, ”Ini bisa memindahkan benda di depannya ke dalam kertas ajaib,” dalam bentuk gambar (batinku) dan entah apa ajaibnya kertas kuarto, lalu, ”nanti ikut masuk ke dalam koper,” kalau hanya lembar kertas, mau satu rim juga tidak masalah (batinku lagi), lalu, ”mereka bisa ikut terbang bersama kita. Nanti kita keluarkan. Kita hidupkan kembali saat sampai nanti,” dalam bentuk imajinasi (batinku menghindari dosa). ”Kamu setuju? Akan berhenti merengek? Bagus. Anak baik.”
***
Lihat. Anakku sampai bersorak melihatku menggambar dengan kecepatan yang, kalau mau, sebenarnya bisa dipamerkan di YouTube.

Page: 1 2 3 4 5 6

Jony

Share
Tags: Sastra

Recent Posts

Wamendikdasmen Apresiasi Komitmen Pemprov Kalteng Majukan Pendidikan

Wamendikdasmen Apresiasi Komitmen Pemprov Kalteng Majukan Pendidikan

Pemprov Kalteng dinilai konsisten mendukung pendidikan bermutu melalui program beasiswa, revitalisasi sekolah, dan penguatan kolaborasi…

53 minutes ago

Wamendikdasmen: Pendidikan Kalteng Maju Seiring Turunnya Kemiskinan Ekstrem

Wamendikdasmen RI Fajar Riza Ul Haq menilai kemajuan pendidikan di Kalteng sejalan dengan menurunnya angka…

1 hour ago

Polisi: Tersangka Tak Mengakui Pembunuhan Balita di Perbatasan Kalteng–Kaltim

Empat tersangka kasus pembunuhan di perbatasan Kalteng–Kaltim tidak ada yang mengakui telah menghabisi balita 3…

1 hour ago

Hardiknas 2026 di Kalteng Jadi Momentum Transformasi Pendidikan dan Kesadaran Lingkungan

Hardiknas 2026 di Kalteng menekankan transformasi pendidikan, pembentukan karakter, dan kesadaran lingkungan melalui sinergi pusat…

2 hours ago

Huma Betang Night Dorong UMKM dan Efisiensi Anggaran di Kalteng

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah akan kembali menggelar Huma Betang Night atau Car Free Night setelah…

2 hours ago

Hardiknas 2026, DPRD Palangka Raya Soroti Pemerataan dan Kualitas Pendidikan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus…

2 hours ago