Categories: Sastra

Memindahkan Kota dan Seisinya

Sedangkan ayahnya, dengan mengabaikan rasa malu dan tertawanya orang, selalu serius mengatakan mantra palsu di dekatnya seolah penyihir abad pertengahan:
”Simsalabim benda ini pindah ke dalam kertas, si anu masuk ke dalam koper…”
Orang dan CCTV gedung mungkin menganggap aku sedang gila, tapi setelah mendekat mereka memuji kecepatanku, dan kukatakan pada mereka:
”Anakku tidak mau pergi dari kota ini tanpa membawa kalian semua. Dia sangat mencintai kalian.”

Mereka terharu, ingin memeluk anakku, dan mestinya memberi uang saku, tapi tidak. Mereka tidak marah saat kugambar demi anakku saja itu sudah lebih dari cukup. Apa masalah selesai? Tidak semudah itu.

Sang ratu balita merasa kami akan liburan musim panas atau sejenisnya, bukannya buat mudik menempuh 4.198 km karena kontrak kerja habis.

”Bagaimana menjelaskan apa itu mudik bagi balita yang belum tahu apa itu kampung halaman? Untung dia belum bisa bertanya misalnya: mengapa manusia harus memiliki kampung halaman? Apa ciri kampung halaman? Tempat ayah lahir? Bahasa sama? Atau tempat kakek dan nenek menghabiskan masa tua? Juga, apa itu kontrak kerja? Mengapa manusia harus mempekerjakan manusia lain? Ada yang jadi atasan, ada yang jadi bawahan. Bagaimana memberi tahu dia kalau hiu itu kejam, panda itu berkuku tajam, beruang itu seram, dan kereta tidak sebaik animasi Thomas soal tiket dan waktu?”

”Ya ampun, kamu lagi ngomong apa sih,” kata istriku menimpali, sesaat kemudian, ”dengar, Ning bahkan belum bisa membedakan waktu tadi dan waktu kemarin. Yang santai saja. Biar, biar dia tidur siang. Jangan diganggu. Itu selimutnya melorot. Surat vaksin sudah ada bahasa Inggris-nya? Bagus. Ini kumasukkan ke tas kecil. Di masa depan, bocah itu akan tahu kalau mainannya yang lucu dibuat oleh manusia lain yang bekerja keras, bahkan mungkin dibuat oleh anak-anak lain. Dia juga akan tahu bahkan manusia penyayang binatang pun tetap lahap makan ayam geprek, tanpa dosa menikmati mutilasi sate kambing, dan tanpa rasa bersalah memandang keluarga lele dibakar keji di pinggir jalan tanpa perlindungan hukum. Karena, bagi manusia, ayam dan kambing, apalagi lele, tidak lebih bos dari kucing dan dinosaurus, meski sama-sama binatang. Gimana lagi, dunia kita memang begitu. Tidak perlu dipikir. Nanti dia tahu sendiri. Yang paling penting sekarang, jangan sampai di detik-detik ini pesawat ke Shenzen dibatalkan lagi untuk kali ketiga, juga pesawat dari Shenzen ke Singapura. Bisa kacau semuanya. Topi pelindung udah? Masker dobel?”

”Sudah. Semuanya sudah. Kamu kangen makan sate dan pecel lele, ya? Analogimu itu, lho,” tanyaku meledek. Dia tertawa dan tambah manis saja.

Page: 1 2 3 4 5 6

Jony

Share
Tags: Sastra

Recent Posts

Ribuan Warga Rayakan Idulfitri di Masjid Kubah Kecubung, Wakil Wali Kota Ajak Silaturahmi

Ribuan Warga Rayakan Idulfitri di Masjid Kubah Kecubung, Wakil Wali Kota Ajak Silaturahmi

Ribuan warga Palangka Raya memadati Masjid Agung Kubah Kecubung untuk merayakan Idulfitri.

2 days ago

Momentum Idulfitri, Gubernur Kalteng Ajak Warga Perkuat Silaturahmi dan Empati

Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran bersama Wagub Edy Pratowo melaksanakan Salat Idulfitri di Masjid Raya…

3 days ago

Cindy Rizap Diteror Mau Dibunuh

Selebgram Cindy Rizky Aprilia atau Cindy Rizap tengah menghadapi situasi serius setelah diduga menjadi korban…

3 days ago

Salat Idul Fitri di Tokyo Membeludak, Masjid Ini Sampai Gelar 5 Sesi Berturut-turut

Perayaan Idul Fitri di Tokyo, Jepang, berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Ribuan umat Muslim dari…

3 days ago

Dilepas Gubernur Kalteng, Pawai Takbiran Tetap Meriah di Bawah Guyuran Hujan

Pawai Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya…

3 days ago

Herianto Apresiasi Kemeriahan Pawai Takbir Keliling di Lamandau

Ketua DPRD Lamandau, Herianto secara langsung menghadiri dan memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan pawai takbir…

3 days ago