
Miar
Oleh : Dr. Miar, SE., M.Si., CERA
MUSIM kemarau tahun 2026 kembali membawa ancaman lama bagi Kalimantan Tengah, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di berbagai wilayah.
Beberapa daerah seperti Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Katingan, Kapuas, dan Pulang Pisau mulai merasakan dampaknya.
Bahkan, gangguan jarak pandang akibat asap telahmenyebabkan terganggunya aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit, termasuk pembatalan pendaratan pesawatpada Agustus 2026.
Selama ini, dampak kabut asap sering kali lebih banyak dibahasdari sisi kesehatan dan lingkungan.
Padahal, kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak kalah besar.
Asap bukan sekadar persoalan kualitas udara, tetapi juga ancaman terhadapproduktivitas, investasi, perdagangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Sektor pertama yang terdampak adalah transportasi dan logistik. Ketika jarak pandang menurun, penerbangan mengalami keterlambatan bahkan pembatalan.
Kondisi ini menghambat mobilitas manusia dan distribusi barang, terutama untuk komoditas yang bergantung pada transportasi udara.
Gangguan transportasi juga meningkatkan biaya ekonomi yang harusditanggung pelaku usaha maupun masyarakat.
Sektor kedua adalah pertanian dan perkebunan, yang menjaditulang punggung perekonomian Kalimantan Tengah.
Sejumlah titik api masih menyala di Tumbang Nusa. Wagub Kalteng Edy Pratowo meminta pengendalian karhutla…
Karhutla di sekitar Jembatan Tumbang Nusa masih mengintai. Tim gabungan memperkuat penjagaan dan mendirikan posko…
Kabut asap pekat yang membatasi jarak pandang (visibility) hingga 200 meter, melumpuhkan operasional Bandar Udara…
Kabut asap tebal melumpuhkan seluruh aktivitas penerbangan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan…
PODSI Kalteng menyiapkan strategi pembenahan organisasi dan pembinaan atlet untuk mengembalikan kejayaan dayung di pentas…
Bertambahnya usia merupakan bagian alami dari kehidupan. Namun, ada sebagian orang yang tampak tetap segar…