Ketika anak-anak Kalimantan harus belajar dari rumah karena kualitas udara, seluruh bangsa harus melihatnya sebagai persoalan pendidikan nasional.
Dan ketika Presiden Republik Indonesia harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan penanganan berjalan, hal tersebut menjadi pesan bahwa karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian seluruh elemen bangsa.
“Menjaga Kalimantan berarti menjaga Indonesia. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Dan menjaga lingkungan hari ini berarti menjaga masa depan generasi Indonesia Emas 2045. Persatuan Indonesia harus hadir dalam tindakan nyata,” bebernya.
Nur Ghina menutup penyampaiannya dengan mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam persoalan lingkungan, tetapi menjadi bagian dari solusi melalui pendidikan, advokasi, inovasi, pengawasan publik, serta gerakan masyarakat.
Sebab, menurutnya, Indonesia Emas 2045 harus dibangun dengan ekonomi yang kuat, sumber daya manusia yang unggul, persatuan yang kokoh, dan lingkungan yang tetap hidup.(tim)
Laporan warga melalui layanan 110 membuat polisi menghentikan musik DJ dalam acara syukuran di Sabaru,…
Sebanyak 399 kejadian karhutla telah membakar 481,04 hektare lahan di Palangka Raya hingga 30 Agustus…
Kabut asap masih pekat, DPRD Palangka Raya mendorong perpanjangan PJJ jika kualitas udara belum membaik…
Gus Kikin resmi memimpin PBNU masa khidmat 2026–2031 setelah ditetapkan melalui musyawarah mufakat sembilan anggota…
Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di Kalimantan Tengah. Menghadapi bencana Karhutla tersebut.…
Gus Kikin meraih 472 suara dan menjadi kandidat teratas dalam penjaringan Ketua Umum PBNU. Lima…