Kondisi luka di tangannya tampak cukup serius, dengan kulit yang memerah, bengkak, serta lapisan kulit keputihan yang melepuh dan terkelupas. Pria paruh baya yang mengenakan kemeja polo abu-abu, berpeci putih, dan berkacamata itu, tampak menunduk pilu.
Di samping ia duduk, terdapat kulkas terbalik hangus, pakaian dan perabotan rumah tangga yang telah berubah jadi arang. Hanya sebotol air mineral, sebuah piring hijau, dan wadah plastik di atas meja kayu usang yang selamat. Ini menjadi saksi bisu sisa kehidupan sebelum bencana kebakaran tersebut datang.
Kisah Nawawi ini, menjadi potret nyata soal kepanikan dan sekaligus perjuangan warga saat bencana kebakaran hebat itu memakan puluhan bangunan di kawasan itu.
Kini, separuh rumahnya telah ludes tak bersisa, dan ia harus berjuang menyembuhkan luka bakar di usia yang tak lagi muda. Meski begitu, Nawawi tak menyimpan penyesalan sedikit pun.
Ia tercatat sebagai salah satu warga yang mengalami luka dalam pendataan awal di posko terpadu Kelurahan Pahandut. Bersama ratusan jiwa terdampak lainnya, Nawawi kini menumpang di posko pengungsian, menanti uluran tangan untuk memulai kehidupan dari awal kembali. (*)
Page: 1 2
Puluhan hektar kebun kelapa sawit usia tiga tahun milik petani mandiri di Kabupaten Lamandau ludes…
Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Palangka Raya, tetapi BMKG mengingatkan kabut asap masih berpotensi mengganggu…
Seorang bocah SD berusia 14 tahun di Desa Bayat, Lamandau, ditemukan meninggal dunia usai tenggelam…
Puskesmas Menteng Palangka Raya menyiagakan layanan ruang oksigen 24 jam tanpa syarat khusus bagi masyarakat…
Kuasa hukum menegaskan laporan pidana dugaan pelecehan seksual nonfisik vokalis Band R.A.S.Y.A di Polda Kalteng…
Pasokan MinyaKita di Kalteng menembus 13 juta liter hingga Agustus 2026, dan Bulog Kalteng mengajukan…