
Mantan istri Bio, Intan (30) matanya terlihat sembap dengan sisa-sisa bekas tangisan saat menunggu kedatangan Bio di Bandara Tjilik Riwut. (Jefrie/Prokalteng.co)
Suasana di Bandara Tjilik Riwut, Kamis sore (16/7/2026) itu terasa berbeda. Di tengah keramaian petugas kepolisian yang bersiaga ketat, ada sepasang mata yang tak lepas mengawasi setiap sosok pria berkursi roda yang digiring aparat.
JEFRI, PALANGKA RAYA
DIA adalah Intan, wanita berusia 30 tahun yang sengaja hadir ke bandara hanya untuk melihat langsung kedatangan mantan suaminya Bio, tersangka utama kasus penyerangan terhadap tiga anggota Polri di Katingan.
Dari pintu kedatangan penumpang, Bio didorong keluar menggunakan kursi roda bersama dua tersangka lainnya. Luapan emosi yang selama ini terpendam meledak seketika. Tanpa ragu, Intan melontarkan teriakan yang memecah keheningan.
“Bio, hidungku patah gara-gara ikam!,” teriak Intan di tengah kerumunan orang dan media yang menunggu kedatangan para tersangka itu.
Suaranya terdengar lantang, menyimpan segala luka dan rasa sakit yang pernah ia rasakan selama menjalani rumah tangga dengan pria itu. Wanita berambut pirang lurus dengan tato di lengan kirinya itu, tak bisa menahan diri ketika melihat sosok yang pernah menjadi bagian hidupnya kini berada dalam pengawalan ketat aparat.
Namun di balik luapan kemarahan itu, ada perasaan lain yang ternyata tak terelakkan. Adalah rasa kasihan. Intan mengaku, meski hubungan mereka tak pernah berjalan mulus, hatinya masih tersentuh melihat kondisi mantan suaminya saat ini.
Selama bersama, ia mengaku telah berusaha sekuat tenaga mempertahankan rumah tangganya. Namun karena sifat Bio yang mudah meledak emosinya membuat pertengkaran menjadi hal yang sering terjadi. Ia pun merasa ditinggalkan, meski sudah berusaha memberi perhatian sepenuhnya.
“Ada binian tulus, tapi bego memilih yang lain,” ucapnya dengan nada yang bercampur kekecewaan dan kepahitan.
Bagi Intan, kehidupan bersama Bio penuh ketidakpastian. Ia bahkan tak pernah benar-benar tahu apa pekerjaan sebenarnya suaminya kala itu, karena menurut pengakuannya Bio selalu menutup-nutupi. Akibat seringnya berselisih paham, ia kerap memilih pulang ke Palangka Raya untuk menenangkan diri.
“Kasihan juga dia. Karakternya memang tempramen. Saya tidak tahu pekerjaannya karena dia tidak ingin saya tahu. Kami sering cekcok, saya juga sering pulang ke Palangka,” kenangnya dengan suara yang melembut.
Hingga kendaraan yang membawa Bio dan dua tersangka lainnya melaju meninggalkan area bandara, Intan masih berdiri di tempat. Matanya terus menatap mengikuti kendaraan itu tak terlihat lagi. Ia baru beranjak pergi setelah memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur.
Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Tengah masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jadwal pemeriksaan maupun perkembangan penyidikan terhadap ketiga tersangka setelah perkara diserahkan dari Bareskrim Polri. (*)
KETIKA suhu mulai meningkat, pilihan busana yang memberi ruang gerak menjadi semakin diminati. Baik saat musim…
Samsung menghadirkan seri Galaxy FE (Fan Edition) sebagai pilihan bagi pengguna yang menginginkan pengalaman flagship dengan harga…
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengajak lebih dari 34 ribu peserta didik baru SMA/SMK/SKH membangun karakter,…
Seniman dan arsitek Jessica Soekidi mengangkat umbi sebagai simbol identitas, memori leluhur, dan ketahanan pangan Indonesia melalui instalasi The Disco of Roots…
Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, banyak orang mengabaikan pentingnya waktu untuk beristirahat. Padahal, meluangkan jeda…
Serangan udara Amerika Serikat (AS) di wilayah barat daya Iran memicu kepanikan di sebuah rumah…