Ketika stres kronis mengunci tubuh kita dalam mode bertahan hidup, energi otak kita cenderung habis terkuras.
Ini bisa berakibat pada fungsi kognitif kita hingga dapat melambat karena otak kehabisan daya untuk berpikir jernih.
Mati rasa emosional adalah sebuah tanda bahwa tubuh kita sedang menetapkan pertahanan terakhir dari otak yang sudah terlalu lelah.
Ciri utamanya adalah kita mulai kehilangan minat pada pekerjaan, tidak lagi merasa termotivasi.
Atau bahkan kita mulai merasa asing dan dingin terhadap orang-orang tercinta di sekitar yang kita sayangi.
Ini karena pekerja yang menyebabkan kelelahan emosional membuat kita mati rasa dan kehilangan empati.
Saat cadangan energi mental dan fisik kita berada di angka nol, ambang toleransi kita terhadap masalah kecil akan menurun drastis.
Bahkan hal-hal sepele yang biasanya bisa kita maklumi bisa menjadi faktor penyulut emosi kita.
Entah seperti salah ketik rekan kerja atau kemacetan di jalan, yang dapat memicu ledakan emosi atau rasa frustasi yang besar.
PSSI meminta maaf setelah Timnas Indonesia gagal lolos ke semifinal Piala AFF 2026. Sekjen PSSI…
Aryna Sabalenka tak kunjung menemukan performa terbaiknya. Setelah sukses mengawinkan gelar Indian Wells dan Miami…
Jalan terjal menanti Alwi Farhan di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2026. Hasil drawing menempatkan tunggal…
Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Murung Raya Dina Maulidah mengapresiasi pelaksanaan Mura Expo 2026 yang…
Bupati Murung Raya Heriyus secara resmi membuka Mura Expo 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Jorih…
Bupati Murung Raya Heriyus mengingatkan masyarakat pentingnya mencegah pernikahan usia dini sebagai salah satu langkah…