Ketika stres kronis mengunci tubuh kita dalam mode bertahan hidup, energi otak kita cenderung habis terkuras.
Ini bisa berakibat pada fungsi kognitif kita hingga dapat melambat karena otak kehabisan daya untuk berpikir jernih.
Mati rasa emosional adalah sebuah tanda bahwa tubuh kita sedang menetapkan pertahanan terakhir dari otak yang sudah terlalu lelah.
Ciri utamanya adalah kita mulai kehilangan minat pada pekerjaan, tidak lagi merasa termotivasi.
Atau bahkan kita mulai merasa asing dan dingin terhadap orang-orang tercinta di sekitar yang kita sayangi.
Ini karena pekerja yang menyebabkan kelelahan emosional membuat kita mati rasa dan kehilangan empati.
Saat cadangan energi mental dan fisik kita berada di angka nol, ambang toleransi kita terhadap masalah kecil akan menurun drastis.
Bahkan hal-hal sepele yang biasanya bisa kita maklumi bisa menjadi faktor penyulut emosi kita.
Entah seperti salah ketik rekan kerja atau kemacetan di jalan, yang dapat memicu ledakan emosi atau rasa frustasi yang besar.
Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, meresmikan Gedung UPTD Puskesmas Menteng di Jalan Temanggung Tilung,…
Pengadilan Negeri (PN) Nanga Bulik menggelar sidang perdana kasus penganiayaan berat dengan terdakwa John Milton…
Kepala Pelaksana BPBD Pulang Pisau, Herman Wibowo, menilai lahan gambut perlu dikelola secara inovatif dan…
Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh, meminta pemerintah menjaga keterjangkauan biaya pendidikan dan…
Dalam kunjungan tersebut, kedua rumah sakit berdiskusi mengenai berbagai aspek pengelolaan, mulai dari kebijakan, manajemen…
Disdik Kalteng memasang spanduk Whistleblowing System (WBS) secara serentak di SMA, SMK, dan SKH sebagai…