“Pergerakan Jokowi bukan hanya memperkuat posisi tawar Gibran, tetapi juga bisa menggeser keseimbangan politik. Itu sebabnya setiap partai akan membaca situasi ini dengan sangat serius,” jelasnya.
Selain itu, Arifki melihat dinamika politik mulai tampak di internal partai-partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan. Menurutnya, meski saat ini masih berada dalam barisan yang sama, masing-masing partai mulai mempersiapkan kepentingan politik untuk menghadapi Pilpres 2029.
“Mereka memang masih berada dalam satu koalisi, tetapi kepentingan politik menuju 2029 mulai berjalan masing-masing. Ibarat tidur dalam satu ranjang, tetapi mimpinya sudah berbeda-beda,” tuturnya.
Ia menambahkan, dinamika tersebut merupakan hal yang lazim dalam politik, mengingat setiap tokoh dan partai akan terus berupaya memperkuat posisi tawarnya menjelang kontestasi nasional.
“Politik selalu soal momentum dan posisi tawar. Ketika satu aktor naik, aktor lain pasti menyesuaikan strategi. Karena itu, publik akan semakin sering melihat manuver para ketua umum partai dan tokoh nasional sebagai bagian dari konsolidasi menuju Pilpres 2029,” pungkas Arifki. (fin/jpg)
Page: 1 2
Persib Bandung kembali melakukan manuver mengejutkan di bursa transfer menjelang Super League 2026/2027. Tim berjuluk…
Di era modern, penggunaan layar digital sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.…
DPRD Kota Palangka Raya mendorong kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat Program Kampung…
PLN menyatakan pemadaman bergilir di Palangka Raya masih berpotensi terjadi selama proses pemulihan sistem kelistrikan…
Fairid Naparin mengimbau masyarakat mewaspadai tawaran kerja di luar negeri yang berpotensi menjadi modus TPPO.
Sidang perdana kasus penganiayaan di Lamandau digelar setelah korban mengalami luka bacok serius di tangan…