
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. (Foto Anandri/Prokalteng.co)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemerintah Kota Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM) secara bijak menyusul kenaikan harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku pada Juni 2026.
“Kalau terkait kenaikan harga BBM, itu merupakan fenomena global dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Yang perlu kita syukuri adalah ketersediaan BBM sampai saat ini masih terjaga,” kata Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini, Rabu (9/6/2026).
Dia mengatakan penetapan harga BBM merupakan kewenangan pemerintah pusat yang dilakukan melalui berbagai pertimbangan sesuai kondisi ekonomi dan energi nasional.
“Penetapan harga tentu menjadi kewenangan pemerintah pusat dan tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan yang matang,” ujarnya.
Menurutnya, dampak kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai layanan publik.
“Kami juga merasakan dampaknya. Misalnya untuk operasional persampahan, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah daerah menjadi lebih besar karena harga BBM naik,” lanjutnya.
Meski demikian, pemerintah daerah meminta masyarakat tidak panik karena pasokan BBM di wilayah Kota Palangka Raya masih tersedia dan terjaga.
“Karena itu kami mengimbau masyarakat menggunakan BBM secara bijak dan sesuai kebutuhan. Tidak perlu panik karena stok BBM tersedia,” ucapnya.
Page: 1 2
Musim kemarau panjang yang menerjang wilayah Kabupaten Lamandau mulai berdampak pada krisis air bersih di…
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan…
Membangun hubungan yang dekat dengan orang lain tidak selalu membutuhkan percakapan panjang atau kemampuan berbicara…
Wamen P2MI Christina Aryani menegaskan APBN 2027 harus memberi manfaat nyata bagi rakyat, termasuk memperkuat…
Psikologi menjelaskan bahwa memiliki karier mapan atau keluarga yang bahagia tidak selalu menjamin kebahagiaan batin…
Keuangan yang sehat sering kali dibentuk oleh kebiasaan menghindari pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.