Kita perlu mengetahui secara terukur berapa biaya kesehatan, kehilangan produktivitas, gangguan pendidikan, transportasi, pariwisata, dan sektor usaha akibat asap.
Data tersebut penting untuk menentukan besarnya investasi pencegahan yang rasional.
Jangan Normalisasi Kabut Asap
Kalimantan Tengah sedang mendorong investasi, hilirisasi, ekonomi hijau, perdagangan karbon, dan pembangunan berkelanjutan.
Semua agenda tersebut membutuhkan lingkungan yang sehat.
Karena itu, 697,4 mikrogram PM2.5 per meter kubik bukan sekadar angka statistik. Ia adalah alarm pembangunan.
Demikian pula 8.488 hotspot bukan sekadar angka satelit, tetapi sinyal meningkatnya risiko ekologis dan ekonomi.
Kita tidak boleh menormalisasi kabut asap sebagai konsekuensi rutin musim kemarau.
Palangka Raya membutuhkan udara bersih bukan hanya demi kesehatan, tetapi juga demi produktivitas, investasi, pendidikan, pariwisata, dan masa depan ekonomi daerah.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya.
Perawatan kulit tidak selalu harus menggunakan produk dengan harga mahal. Sejumlah bahan yang mudah ditemukan…
Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) mengimbau warga adat Dayak di Kalimantan untuk meningkatkan lebih waspada…
Dalam dunia astrologi, beberapa zodiak memiliki keterampilan tertentu yang berpotensi dapat mereka ubah sebagai ladang…
Paparan asap karhutla secara langsung dan dalam kondisi yang lama rentan menimbulkan berbagai gangguan bagi…
Krisis ekologi dan ekspansi industri dinilai mengancam keberlanjutan identitas masyarakat Dayak.
Aliansi Kalteng Melawan kecewa karena Gubernur Kalteng tidak menemui massa dalam aksi tuntutan penanganan Karhutla.