Categories: Nasional

Mendagri Larang Kepala Daerah Rekrut Honorer Baru, APBD Terancam Terbebani

PROKALTENG.CO – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta agar kepala daerah tidak lagi merekrut tenaga honorer. Apalagi honorer tanpa skill yang hanya modal pernah menjadi bagian dari tim sukses. Menurut dua, rekrutmen tersebut berpotensi membebani keuangan negara.

Tito menegaskan hal itu usai Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi II DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (8/6). Dia menekankan bahwa rekrutmen tenaga honorer hanya boleh dilakukan untuk mengisi kebutuhan seperti guru dan tenaga kesehatan.

”Kami minta kepala daerah untuk mungkin tidak usah menarik tenaga honorer lagi, apalagi tenaga honorer yang administrasi, yang bukan skill. Karena nanti mereka menjadi beban, beban bagi kepala daerah, belanja pegawai yang bertambah, beban juga bagi kepala daerah berikutnya,” kata Tito.

Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, tenaga honorer tersebut meminta diangkat menjadi PPPK atau PNS. Bagi Tito, bila tenaga honorer itu punya skill dan memang dibutuhkan, tidak menjadi masalah. Yang jadi masalah bila tenaga honorer tersebut tidak punya skill.

”Kalau tenaga (honorer untuk) administrasi kan mohon maaf dulunya banyak tim sukses dijadikan tenaga honorer, setelah bertahun-tahun, mereka minta diangkat menjadi PPPK, setelah itu beban APBD jadi berat,” ujarnya.

Karena itu, Tito meminta kepala daerah belajar dari pengalaman tersebut. Dia pun mengingatkan bahwa undang-undang (UU) telah mengatur 30 persen belanja pegawai bersumber dari APBD. Jangan sampai aturan tersebut nanti dilanggar oleh kepala daerah dan pemerintah daerah.

Ketimbang merekrut honorer yang tidak memiliki skill, lanjut Tito, lebih baik kepala daerah menggunakan APBD digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Misalnya membangun infrastruktur jalan, memperbaiki sekolah, dan pemenuhan tenaga kesehatan.

”Sedapat mungkin APBD yang ada itu sedapat mungkin, sebanyak mungkin, digunakan untuk kepentingan rakyat. Bangun jalan, perbaiki sekolah, kesehatan dibanding merekrut pegawai yang banyak,” ujarnya.

Dalam rapat bersama Komisi II DPR, Tito menyampaikan bahwa beberapa daerah sudah berhadapan dengan masalah karena belanja pegawai sudah lebih dari 30 persen. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, ospi pertama adalah menahan pegawai.

Page: 1 2

M Hafidz

Recent Posts

Buka Rakerda APDESI, Gubernur Tekankan Desa sebagai Fondasi Kemajuan Kalteng

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menegaskan desa merupakan fondasi utama kemajuan daerah saat membuka Rakerda APDESI…

8 minutes ago

Seporsi Mie Ayam Tak Pernah Kehilangan Penggemar, Ini Alasannya

Mie ayam menjadi salah satu kuliner yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia. Dari gerobak kaki lima…

21 minutes ago

Ketika Investor Sell Up dan Rupiah Kehilangan Tenaga

Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga erat kaitannya dengan kepercayaan investor terhadap…

21 minutes ago

Kian Melekat! Musik Jadi Teman Belajar dan Bekerja Gen Z

Mendengarkan musik sambil belajar atau bekerja menjadi kebiasaan yang semakin lekat dengan Generasi Z (Gen Z). Kehadiran…

25 minutes ago

Rizky Ridho Dukung Beckham Putra Berjuang Bersama di Timnas Indonesia

Kapten Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, Rizky Ridho, memberikan dukungan terbuka kepada Beckham Putra Nugraha…

30 minutes ago

Pengakuan Pelaku: Pembunuhan di Kebun Sawit Kotim Dipicu Pengaruh Sabu

Polisi mengungkap dugaan penggunaan sabu menjadi pemicu pembunuhan di kebun sawit Kotim.

30 minutes ago