Yang dari dalam negeri. Yakni ketika tawaran itu datang dari IAIN Walisongo Semarang. Itu pun karena dirayu beberapa orang dekat untuk menerimanya. Dan lagi tawaran itu kan datang dari IAIN. Masih agak ”liniar” hahaha.Tapi yang membuat saya tertarik adalah naskah pertanggungan jawab dari promotor gelar itu.
Sangat akademik. Yang menyusun adalah Prof Dr Nur Syam. Beliaulah promotor gelar itu. Belakangan saya tahu beliau orang Tuban. Di sana pula beliau lulus PGAN (sekolah pendidikan guru agama negeri).
Lalu S-1 di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Meski orang IAIN, Prof Nur Syam memperoleh gelar doktor dari Fisipol Universitas Airlangga. Di Unair pula beliau memperoleh gelar profesor.Lalu balik lagi ke IAIN. Bahkan belakangan terpilih sebagai rektor di UIN Sunan Ampel.
Belum lagi menyelesaikan jabatan rektor beliau diangkat menjadi dirjen Pendidikan Islam. Lalu berlanjut menjabat sekjen Kementerian Agama. Rasanya, saat menjadi promotor saya itu beliau dalam posisi sebagai sekjen itu.Sejak hari itu sebenarnya saya mendapat gelar itu. Tapi sejak itu pula saya tidak pernah menggunakannya. Saya tahu: itu gelar kehormatan.
Bukan gelar doktor sungguhan –yang diperoleh lewat kerja penelitian serius yang metodologis sistematis. Saya memang seide dengan Prof Nur Syam: moderat dalam beragama. Dan ternyata beliau punya rumah di dekat rumah saya. Satu kompleks: Sakura Regency.
Kabut asap pekat menyelimuti Lamandau, membuat warga mulai mengeluhkan batuk, sesak napas, dan mata perih.
Nur Ghina Muslimah, kader HMI asal Kalteng, siap berkontestasi dalam perebutan Ketua Umum PB HMI…
Ular piton ditemukan di kamar mandi rumah warga Palangka Raya dan berhasil dievakuasi petugas dalam…
Dalam persidangan, terdakwa mengakui membawa 198,44 gram sabu dari Pontianak menuju Sampit sebelum ditangkap di…
Sidang arisan fiktif di Nanga Bulik mengungkap kerugian 15 korban yang mencapai Rp673 juta.
AKP EB dicopot dari jabatan Kanitreskrim Polsek Pahandut usai insiden penyerangan Kasatlantas Polresta Palangka Raya.