“Premi risiko geopolitik yang sebelumnya telah terakumulasi dalam harga minyak kini sedang dilepas secara agresif karena para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pulihnya aliran pasokan minyak,” kata Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade dilansir Reuter.
Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG), selama lebih dari tiga bulan.
Investor juga mencermati dengan hati-hati seberapa cepat para produsen minyak di Timur Tengah dapat memulihkan produksi dan ekspor setelah kerusakan akibat perang, serta apakah lebih banyak kapal akan kembali memasuki kawasan tersebut.
Bakal calon pimpinan Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Liswara Neneng. Memaparkan visi dan misinya untuk…
Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) memasuki tahapan sosialisasi bakal calon. Salah satu kandidat, Dr.…
Efisiensi anggaran dapat menjadi momentum bagi daerah untuk memperkuat kemandirian fiskal dan mendorong pembangunan yang…
Prof Bhayu Rhama mengusung visi menjadikan UPR kampus unggul berbasis Huma Betang yang berdaya saing…
PII Kalteng terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi Kalteng melalui program pembinaan generasi muda.
Peta persaingan Liga 2 musim 2026/2027 diperkirakan mengalami perubahan cukup signifikan setelah beberapa klub memutuskan…