“Meskipun ketidakpastian ini menunjukkan adanya risiko kenaikan terhadap perkiraan kami bahwa harga minyak Brent dapat mencapai US$80 per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu kembali ke sekitar 60–70% dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak pada kondisi kelebihan pasokan seperti sebelum perang,” kata Vivek Dhar, ahli strategi komoditas dari Commonwealth Bank of Australia, dalam sebuah catatan.
Selain itu, American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah turun sebesar 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni, penurunan yang jauh lebih besar daripada perkiraan 4,5 juta barel.
Namun, persediaan bensin meningkat sebesar 2,48 juta barel, sementara persediaan distilat, yang meliputi solar dan bahan bakar pemanas, sedikit menurun sebesar 10 ribu barel. Penurunan persediaan minyak mentah yang cukup besar menunjukkan permintaan yang tangguh dan pasokan jangka pendek yang lebih ketat di AS. (jpg)
Veda Ega Pratama akan kembali memburu poin pada Moto3 Ceko 2026 di Sirkuit Brno, Republik…
Organisasi Masyarakat (Ormas) Gabungan Rakyat Dukung dan Bela Prabowo (Garda Prabowo) bakal melaporkan eks Ketua…
Bali United mulai bergerak mempersiapkan skuad untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027. Salah satu nama yang…
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memunculkan ironi di Provinsi Kalimantan Tengah…
Terkait aksi penjambretan yang dialami seorang perempuan berinisial CK (48) di Jalan Keluarga, kawasan Jalan…
Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah menyiapkan Rumah Sakit Tipe A yang dibangun di KM 26 Tangkiling,…