
Ilustrasi: WhatsApp Web. (Xiaomiui).
PROKALTENG.CO-Menghapus perangkat asing dan mengganti PIN WhatsApp belum tentu menghentikan penyalahgunaan WhatsApp Web. Jika sumber masalahnya adalah ekstensi browser, pengguna perlu menghapus perangkat lunak tersebut agar sesi WhatsApp tidak kembali disusupi.
Modus ini penting diperhatikan karena ekstensi berbahaya dapat bekerja dari komputer milik korban sendiri. Pengguna bahkan bisa tetap melihat daftar Perangkat Tertaut yang normal meski aktivitas mencurigakan berlangsung melalui browser.
Alfons Tanujaya, Pengamat Keamanan Siber Vaksincom, menilai akar masalah pada kasus semacam ini bukan berada pada autentikasi akun WhatsApp, melainkan pada ekstensi yang masih terpasang di browser.
“Karena itu, mengganti PIN verifikasi dua langkah saja tidak cukup apabila ekstensi bermasalah masih aktif,” kata Alfons kepada JawaPos.com.
Mengapa Menghapus Perangkat Tertaut Tidak Cukup?
Pada kasus pembajakan biasa, mengeluarkan perangkat yang tidak dikenal dari menu Perangkat Tertaut dapat menjadi langkah penting.
Namun, skenarionya berbeda ketika penyalahgunaan dilakukan oleh ekstensi browser.
Ekstensi tersebut tidak perlu menambahkan perangkat baru sebagai perangkat WhatsApp yang mencurigakan. Sebaliknya, ia memanfaatkan sesi WhatsApp Web yang memang dibuka sendiri oleh pemilik akun. Inilah yang membuat modus tersebut lebih sulit dikenali.
Ketika pengguna keluar dari WhatsApp Web lalu kembali login menggunakan browser yang sama, ekstensi yang masih terpasang dapat kembali memperoleh akses terhadap sesi baru.
Dengan kata lain, pengguna bisa saja sudah menghapus sesi sebelumnya, tetapi sumber masalahnya tetap berada di komputer.
Langkah Pertama: Periksa Ekstensi Browser
Pengguna yang menemukan pesan terkirim tanpa pernah membuatnya sendiri sebaiknya tidak hanya memeriksa ponsel. Periksa daftar ekstensi pada browser yang digunakan untuk membuka WhatsApp Web.
Pada Google Chrome, daftar tersebut dapat diakses melalui: chrome://extensions/. Perhatikan terutama ekstensi yang berkaitan dengan CRM WhatsApp, WhatsApp Marketing, broadcast, otomasi pesan, atau perangkat pengelolaan kontak yang tidak lagi digunakan.
Ekstensi yang tidak dikenal atau tidak benar-benar diperlukan sebaiknya dihapus. Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap ekstensi yang tampak profesional tetapi berasal dari publisher yang tidak jelas.
Tampilan dan deskripsi yang meyakinkan bukan jaminan bahwa sebuah ekstensi aman.
Jika Masih Ragu, Bersihkan Browser
Menghapus ekstensi bermasalah merupakan langkah utama. Namun, jika pengguna tidak yakin ekstensi mana yang menjadi sumber masalah, membuat profil browser baru dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Pengguna juga dapat menggunakan instalasi browser yang bersih dan menghindari memasang kembali ekstensi yang mencurigakan.
Langkah tersebut penting karena memasang ulang WhatsApp Web pada browser yang sama tanpa menghilangkan sumber masalah dapat membuat penyalahgunaan kembali terjadi.
Ancaman ini juga tidak hanya berlaku pada Chrome. Browser berbasis Chromium seperti Edge, Brave, dan Opera menggunakan ekosistem ekstensi yang serupa.
Jangan Asal Pasang Tools WhatsApp
Banyak pengguna memasang ekstensi karena tergiur fitur tambahan untuk kebutuhan bisnis.
CRM, otomatisasi pesan, broadcast, hingga pengelolaan kontak memang dapat membantu pekerjaan. Namun, semakin besar akses sebuah ekstensi terhadap WhatsApp Web, semakin penting bagi pengguna untuk memastikan reputasi dan sumber perangkat lunak tersebut.
Sebelum memasang ekstensi, periksa siapa pengembangnya, izin apa yang diminta, kapan terakhir diperbarui, serta apakah fungsi yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan.
Jika sebuah ekstensi tidak lagi digunakan, menghapusnya juga merupakan langkah sederhana untuk mengurangi permukaan serangan.
Komputer Bersama Juga Perlu Diperhatikan
Risiko tidak selalu berasal dari serangan jarak jauh.
Komputer yang digunakan bersama anggota keluarga, pasangan, atau rekan kerja dapat menjadi titik masuk apabila orang lain memasang ekstensi tanpa sepengetahuan pemilik akun.
Dalam beberapa situasi, orang yang memasangnya mungkin bahkan tidak mengetahui bahwa perangkat tersebut memiliki fungsi tersembunyi yang dapat menyalahgunakan sesi WhatsApp Web.
Karena itu, komputer yang digunakan untuk aktivitas penting sebaiknya memiliki profil pengguna terpisah dan tidak memberikan akses instalasi perangkat lunak kepada sembarang orang.
Jangan Lupakan Keamanan di Ponsel
Pemeriksaan browser bukan berarti keamanan ponsel bisa diabaikan.
Pengguna tetap perlu memastikan kode QR WhatsApp Web tidak dipindai orang lain tanpa izin. Perangkat yang tidak dikenal dalam menu Perangkat Tertaut juga harus segera dikeluarkan.
Verifikasi dua langkah tetap perlu diaktifkan karena merupakan lapisan perlindungan penting untuk akun.
Namun, kasus penyalahgunaan ekstensi menunjukkan bahwa keamanan WhatsApp membutuhkan pendekatan berlapis. Akun dapat terlindungi dari pengambilalihan kredensial, tetapi tetap berisiko apabila browser yang digunakan untuk mengakses WhatsApp Web telah disusupi perangkat lunak berbahaya.
Vaksincom menyatakan akan terus memantau perkembangan modus tersebut dan membuka ruang bagi pengguna yang mengalami kejadian serupa untuk berbagi kronologi.
Bagi pengguna WhatsApp Web, pesan yang tiba-tiba terkirim sendiri seharusnya tidak langsung dianggap sebagai bukti akun telah diretas. Jika daftar perangkat tertaut bersih, browser dan ekstensi yang terpasang justru perlu menjadi bagian dari pemeriksaan pertama.(jpg)
Palangka Raya masuk tiga daerah yang diajukan menjadi kota percontohan antikorupsi setelah melalui observasi dan…
Kasus tenggelamnya Muhammad Kasfi Rosadi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan, Palangka Raya, Senin…
Hendrizal Husin tiba di Kantor Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah (Kejati Kalteng), Kamis (13/8/2026). Kedatangannya menyusul…
MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market. Namun, 10 saham Indonesia dikeluarkan dari sejumlah indeks…
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalimantan Tengah (Kalteng) yang baru, Hendrizal Husin menegaskan komitmennya untuk merampungkan…
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menemukan dasar untuk mengaitkan peristiwa kebakaran Gedung Biro Kesejahteraan Rakyat…