Sementara di sudut lain, Sukarti (52) yang juga merupakan pedagang cabai, turut membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut komoditas ini sekarang dijualnya dengan harga Rp85.000 per kilogram. Jelas merosot dari harga sebelumnya yang sempat menembus Rp100.000 per kilogram.
“Naik turun harga cabai ini tidak menentu. Bisa sehari dua hari naik, lalu turun lagi,” ujarnya.
Sama halnya dengan Mufida, Sukarti juga merasakan sepinya lapak saat harga sedang melambung. Banyak konsumen yang mengambil langkah hemat dengan menunda pembelian atau mengurangi konsumsi harian mereka.
“Kalau pas lagi naik, pembeli berkurang. Orang lari karena mahal,” ujarnya.
Meski demikian, geliat transaksi di Pasar Besar di Kota Palangka Raya ini mulai bergairah kembali dalam dua hari terakhir ini seiring dengan melandainya harga cabai di pasaran.
“Sekarang ramai lagi karena sekarang harganya turun,” tegasnya. (her)
Page: 1 2
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman merespon kehadiran juru taktik Vietnam di laga menghadapi Mozambik di SUGBK.
Madura United FC langsung bergerak cepat menyambut kompetisi super league musim 2026/27. Tim berjuluk Laskar…
Di tengah budaya yang sering mendorong orang untuk selalu mencari pengakuan dan validasi dari lingkungan…
Arema FC menjadi salah satu tim yang sedang membangun skuadnya kembali. Sebelum mendatangkan pemain baru,…
Pemerintah Kota Palangka Raya mengimbau masyarakat untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM) secara bijak menyusul…
Menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan berarti harus sempurna. Dalam psikologi, pertumbuhan pribadi lebih…