Lebih jauh lagi, Kalimantan Tengah memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan sawit dengan agenda ekonomi hijau.
Potensi perdagangan karbon, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Pendekatan ini penting agar sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga diterima oleh pasar global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan.
Masa depan ekonomi Kalimantan Tengah memang masih sangat terkait dengan sawit.
Namun keberhasilan pembangunan tidak lagi diukur dari luasnya kebun yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, memperkuat kesejahteraan petani, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Jika transformasi ini berhasil dilakukan, maka sawit tidak hanya menjadi komoditas andalan, tetapi juga fondasi bagi ekonomi Kalimantan Tengah yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR).
Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalteng. Tumbang Nusa menjadi salah satu lokasi dengan pemadaman…
Bernardo Tavares membawa empat mantra setelah Persebaya Surabaya menjuarai Piala Presiden 2026: menciptakan sejarah, tumbuh…
Pindang ayam bisa menjadi pilihan menu rumahan bagi pencinta hidangan berkuah dengan cita rasa gurih,…
Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, sukses mengamankan posisi kesembilan dalam balapan Moto3 Inggris 2026. Namun,…
Ketua DPRD Murung Raya, Rumiadi mengajak seluruh masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan…
Wakil Ketua I DPRD Murung Raya Dina Maulidah mengimbau masyarakat untuk turut menjaga dan memelihara…