Categories: Feature

Sungai Hantipan dan Janji yang Tak Pernah Tuntas

Kembali ke tulisan tentang Sungai Hantipan, melalui perbincangan di WhatsApp, saya pun meminta izin untuk mencoba menuliskan ulang tulisan tersebut. Terlebih setelah melihat beberapa foto yang dikirimkan. Rasanya sangat sulit untuk bisa membayangkan “perjuangan” atau mungkin tepatnya “penderitaan” masyarakat untuk bisa melintasi terusan itu.

Hantipan sungai atau terusan, atau masyarakat lokal biasa menyebutnya kerukan, yang dibuat pemerintah sekitar tahun 90-an. Hingga saat ini, sungai itu menjadi satu-satunya penghubung perjalanan air antara dua kabupaten, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Katingan.

Terusan sepanjang 26 kilometer itu juga menjadi penghubung dua sungai besar, Sungai Mentaya dan Sungai Katingan. Pada bagian muara, lebar terusan memang mencapai sekitar 10 meter. Akan tetapi saat kita mulai memasuki ke bagian dalam, maka secara perlahan terusan semakin menyempit. Pada bagian tengah mengalami penyempitan akibat longsor. Bahkan ada satu titik pada sisi tengah sungai yang lebarnya kurang dari 1 meter.

Kondisi itu menyebabkan lalu lintas perjalanan di terusan pasti agak terhambat. Di saat kondisi air normal saja, kelotok (perahu mesin) yang digunakan masyarakat lokal harus berhenti di salah satu sisinya untuk mengantre, jika berselisihan.

Kembali ke muara. Kedalaman sungai diperkirakan hanya sekitar 1,5 meter dalam kondisi air normal. Namun ketika beberapa kilometer memasuki bagian tengah, pendangkalan-pendangkalan akan mulai terasa. Bahkan di beberapa titik, tinggi air hanya semata kaki orang dewasa.

Bisa dibayangkan, jika musim kemarau seperti saat ini. Tinggi air tak lagi hanya semata kaki, tetapi bahkan kering sama sekali. Bagian tengah terusan hanya menjadi tumpukan lumpur dan sampah berserakan. Jangankan kelotok besar, kelotok kecil pun tak akan bisa melaluinya, kecuali harus didorong secara manual melalui bagian sungai yang kering.

Kondisi-kondisi itu rupanya semakin parah saat kemarau panjang tahun ini. Tak lagi hanya sekadar sungai yang kering. Kebakaran hutan yang terjadi di kanan kiri sungai, membuat kondisi semakin parah. Pohon-pohon dengan berbagai ukuran tumbang ke tengah sungai, tak ubah seperti semak belukar yang membuatnya sama sekali tak bisa dilewati.

Di dalam tulisannya, Moh. Anis Romzi seakan mencoba menggambarkan bagaimana selama puluhan tahun berlalu, masyarakat dua kecamatan di ujung selatan Kabupaten Katingan yang berdampingan langsung dengan Laut Jawa itu tak ubahnya seperti menjadi “orang pedalaman” yang terputus akses dengan dunia luar.

Page: 1 2 3 4

Jony

Share

Recent Posts

Wakil Rakyat Ini Apresiasi Keberhasilan Polres Lamandau Gagalkan Penyelundupan Narkoba

Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Lamandau, Riko Porwanto memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Satresnarkoba Polres…

4 hours ago

Pohon Kasturi Tumbang Menimpa Kuburan, Sarang Tawon Hambat Proses Evakuasi

Pohon kasturi  yang berada di komplek kuburan Muslim, Kelurahan Pahandut Seberang, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka…

4 hours ago

Implementasi Kartu Huma Betang Sejahtera Harus Selaras, Begini Penjelasan Gubernur Kalteng

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mematangkan pelaksanaan program Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS) melalui sosialisasi yang…

4 hours ago

Jaga Kestabilan Harga selama Ramadan, Pemko Palangka Raya Gelar GPM di Pasar Datah Manuah

Pemerintah Kota Palangka Raya menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Pasar Ramadan Datah Manuah, Jalan…

4 hours ago

Latih Paralegal Desa di Barito Utara, Kemenkum Kalteng Perkuat Posbankum hingga Akar Rumput

Kemenkum Kalteng tancap gas memperkuat Pos Bantuan Hukum (Posbankum) desa dan kelurahan di Kabupaten Barito…

5 hours ago

KPK Panggil Pegawai Direktorat Transformasi Proses Bisnis Kemenkeu

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendalami kasus dugaan suap pemeriksaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak…

5 hours ago