Pada musim kemarau, biaya yang dikeluarkan 100 persen lebih mahal dari pada saat musim penghujan. Itu pun pada titik-titik tertentu, para penumpang sering diminta atau turun dengan kemauan sendiri untuk membantu nahkoda atau motoris mendorong perahu. Pada kejadian tertentu pula ‘ces ‘ kendaraan air yang lebih kecil harus diangkat atau digotong ramai-ramai hanya sekedar untuk bisa lewat daerah sungai yang tak lagi berair.
Kini, hampir 20 tahunan sudah berlalu sejak Sungai Hantipan dibuat. Anggota dewan, bupati, gubernur hingga Presiden pun telah beberapa kali berganti. Apakah para pemimpin dan politikus daerah belum pernah ke sana? Jawabannya pasti pernah. Janji pun mungkin sudah tak terhitung banyak dan berapa kalinya terucap. Janji seakan hanya tinggal janji. Tak ada yang tuntas.
Kondisi Sungai Hantipan tak sedikit pun berubah membaik. Masyarakat Mendawai dan Katingan Kuala tetap harus melalui “Perjalanan Perjuangan” untuk bisa keluar dan masuk kampung halamannya. Mungkin takdir hidup di Katingan Kuala dan Mendawai memang harus “tidak boleh sakit dan miskin”. (***)
(Penulis: Jonie Prihanto. Redaktur Pelaksana prokalteng.co)
Janice Tjen gagal menghentikan Amanda Anisimova. Sebaliknya, petenis Asia Tenggara lainnya, Alexandra Eala berhasil menorehkan…
Kasus dugaan perselingkuhan dan perzinaan laporan Wardatina Mawa terhadap Insanul Fahmi dan Inara Rusli naik…
Ketertarikan Barcelona terhadap Julian Alvarez bukan lagi kabar baru. Klub Catalan itu memang sedang berburu…
Persib Bandung termasuk irit dalam menambah amunisi pemain baru dalam bursa transfer paruh musim. Mereka…
Persebaya Surabaya sempat dianggap sebagai Tim Balkan Mini pada awal Super League musim ini, lantaran…
Kotak hitam (black box) pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air Services yang jatuh di kawasan Krayan hingga…