Categories: Humanoria

Penyekapan Buruh Percetakan di Kalibaru: Dibelenggu Rantai saat Mendengar Ibu Wafat Tak Dipedulikan Majikan

PROKALTENG.CO-Di balik tembok sebuah toko percetakan di kawasan Kalibaru, Senen, Jakarta Pusat, tersimpan sebuah kisah pilu dan kekejaman luar biasa yang mencederai rasa kemanusiaan.

Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan ekstrem yang menimpa tiga pekerja muda—Tegar, Aditya, dan Rafli—kini memasuki babak baru yang menguras air mata publik setelah terungkapnya fakta-fakta mengerikan di balik masa penyekapan mereka yang berlangsung hampir satu bulan.

Salah satu momen paling menyayat hati terjadi ketika salah seorang korban menerima kabar duka bahwa ibunya telah meninggal dunia.

Berada dalam kondisi kaki terikat rantai besi dan terisolasi di dalam gudang yang gelap, korban hanya bisa menangis histeris tanpa mampu berbuat apa-apa.

Tragisnya, jeritan pilu sang anak sama sekali tidak mengetuk pintu hati sang majikan yang justru memilih bersikap abai dan menutup mata.

“Saya tidak bisa menelepon, tidak bisa melihat Ibu untuk terakhir kalinya. Saya hanya bisa pasrah karena tubuh saya dirantai di dalam gudang.

Hati saya hancur sehancur-hancurnya,” kenang salah satu korban dengan derai air mata saat menceritakan kembali masa-masa kelam tersebut.

Kronologi Konflik: Bermula dari Tuduhan Pencurian

Sengkarut yang berujung pada aksi penyiksaan massal ini disinyalir dipicu oleh masalah internal perusahaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kasus ini bermula ketika salah satu dari tiga karyawan tersebut kedapatan mengambil barang milik toko tanpa izin.

Ia kemudian meminta bantuan dua rekan kerja lainnya untuk menjual barang tersebut ke luar.

Namun, kedua rekan tersebut diduga sama sekali tidak mengetahui asal-usul barang dan tidak menyadari bahwa material yang mereka jual adalah hasil tindakan melanggar hukum.

Alih-alih menyerahkan penyelesaian kasus dugaan pencurian ini kepada aparat penegak hukum atau kepolisian, pemilik toko percetakan justru memilih jalur anarkis dengan melakukan aksi main hakim sendiri (vigilantisme) secara brutal.

Ketiga pemuda tersebut langsung disergap, dikunci, dan dijadikan tahanan pribadi di dalam area gudang tersembunyi.

Page: 1 2 3

Hendry Priyatmoko

Recent Posts

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Palangka Raya, Pesawat Sempat Batal Mendarat

Kabut asap karhutla mengganggu penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, satu pesawat sempat batal mendarat.

4 hours ago

Khawatir Keamanan Warga, Polisi Selidiki Perampasan Rp80 Juta di BRILink Palangka Raya

Polisi menyelidiki aksi perampasan di sebuah BRILink Jalan Seth Adji, Palangka Raya, yang membuat uang…

4 hours ago

HMI Soroti Karhutla Kalimantan: Bukan Lagi Sekadar Persoalan Lingkungan

HMI menilai karhutla Kalimantan telah berkembang menjadi persoalan serius yang membutuhkan penguatan pencegahan dan penanganan…

4 hours ago

DPRD Bartim Dukung Pembangunan Kantor BNNK, Nursulistio Dorong Pusat Rehabilitasi Segera Beroperasi

DPRD Bartim mendukung pembangunan kantor BNNK dan mendorong pusat rehabilitasi segera beroperasi.

7 hours ago

20 Hektar Lahan Terbakar, Kebakaran di Kujan Lamandau Bikin Warga Khawatir

Kebakaran melanda sekitar 20 hektar lahan di Desa Kujan, Lamandau, hingga memicu kekhawatiran warga.

8 hours ago

Kanwil Kemenkum Kalteng Perkuat Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Royalti Kekayaan Intelektual

Kanwil Kemenkum Kalteng memperkuat kesadaran hukum dan kepatuhan royalti dalam pelindungan KI.

9 hours ago