Siksaan di Gudang Gelap: Tiga Hari Tanpa Makan hingga Pemerasan
Penyiksaan yang dialami oleh Tegar, Aditya, dan Rafli tergolong sangat ekstrem dan di luar batas kedewasaan moral.
Selama disekap, hak-hak paling mendasar mereka sebagai manusia dicabut secara paksa oleh sang majikan.
Penyiksaan Fisik: Kaki dan tangan mereka diborgol menggunakan rantai besi yang tebal, membatasi mobilitas untuk sekadar duduk atau berdiri dengan layak.
Kelaparan Ekstrem: Ketiga korban dilaporkan sengaja dibiarkan kelaparan tanpa diberi makan dan minum selama tiga hari berturut-turut di dalam ruangan yang pengap dan minim cahaya.
Modus Pemerasan: Tidak berhenti pada penyiksaan fisik, sang majikan diduga memanfaatkan situasi ini untuk memeras pihak keluarga korban. Pelaku menghubungi orang tua masing-masing pekerja dan meminta uang tebusan yang fantastis, yakni sebesar Rp50 juta per orang, sebagai syarat pelepasan.
Hukum Harus Tegak: Pencurian Salah, Namun Penyiksaan Adalah Kejahatan Berat
Kasus ini memicu gelombang simpati yang luar biasa dari netizen di media sosial. Banyak pihak mengutuk keras tindakan pemilik percetakan yang dinilai bertindak layaknya hukum di masa perbudakan.
DPRD Kota Palangka Raya meminta Pemko memperketat pendataan dan pengelolaan aset daerah untuk mencegah kehilangan…
Kepengurusan inti DPD PAN Kota Palangka Raya telah rampung dan tinggal menunggu jadwal pelantikan dari…
Kapolda Kalteng bersama Gubernur melayat ke rumah duka Yudhi dan menyampaikan amanat Kapolri, sementara pencarian…
Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo meninjau Shrimp Estate Sukamara yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi pesisir…
Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat semangat persatuan dan gotong royong…
Abdul Hafid resmi menerima SK Ketua DPD PAN Kotim dari Zulkifli Hasan dan langsung memprioritaskan…